Cinta Tanpa Syarat

Cerpen Cinta Tanpa Syarat

Oleh : Putri Pelangi

Usianya kini sudah mulai senja, hampir sekitar 48 tahun. Seorang laki-laki tua yang sudah merawat istrinya hampir 15 tahun.

Sang istri sejak melahirkan anak ketiganya menderita sakit. Awalnya hanya sakit demam, namun tiba-tiba sang istri lumpuh di sebelah kanan seluruh tubuhnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kesehariannya hanya bisa berbaring dan duduk di kursi roda. Namun selang dua tahun, separuh tubuhnya lumpuh, dari ujung kaki hingga ke pinggang, setahun berlalu sakitnya semakin parah seluruh tubuhnya lumpuh dan tak bisa bergerak. Istrinya di diagnosa dokter terserang penyakit autoimun, dimana sistem kekebalan tubuhnya menyerang tubuhnya sendiri. Bahasa kedokterannya Systemic Lupus Erythematosus disingkat SLE.

Ujian cinta sejati

Ahmad, selalu setia menemani dan merawat istrinya di rumah. Setiap hari menyiapkan keperluan dan kebutuhan istrinya, mulai dari menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh istrinya, sarapan, pakaian ganti hingga popok untuk istrinya sebelum Ia berangkat kerja. Bersyukur pekerjaannya tidak terikat oleh waktu jam kantor.

Ahmad bekerja di percetakan kertas dekat dengan rumah. Sehingga tiap kali waktu siang selepas dzuhur Ia bisa pulang ke rumah, hanya untuk menyuapi istrinya dan mengganti popok istrinya jika memang perlu diganti. Tak lupa Ahmad juga menyiapkan segala kebutuhan anak-anaknya. Anak Bungsunya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Anak keduanya sudah bekerja di sebuah supermarket, sedangkan anak pertamanya sudah menikah dan sudah memiliki seorang putra. Ahmad sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini, baginya ini adalah ujian rumah tangganya dan ujian cinta sejatinya.

Cari nikmatnya akhirat

Pagi itu, tiba-tiba Nafisa putri sulung Ahmad sampaikan rasa pilu dan rasa kasihan pada Ayahnya.

Fisa menyarankan padanya, “Menikahlah lagi Yah, biar Ibu aku yang mengurusnya”, ujar Fisa.

Mendengar pernyataan Fisa, Ahmad justru sangat terkejut dan sedih.

“Apa yang kamu inginkan dari pernikahan Ayah nantinya?, Ayah tak pernah sedikit pun berniat meninggalkan Ibu-mu, Ayah sangat mencintai Ibumu, Dia adalah perempuan terbaik yang Ayah miliki, Ibu mu adalah Istri yang sangat sempurna untuk Ayah, Ayah tak pernah menganggapnya lemah dan tak berdaya, Ayah ingin hidup bersama selamanya hingga kelak di kehidupan abadi,” papar Ahamad.

“Mengapa Fisa sarankah hal yang tak pernah sedikit pun Ayah inginkan?,” ujar Ahmad.

Seketika itu Fisa menangis, dan memohon maaf pada Ayahnya.

“Fisa hanya ingin melihat Ayah bahagia, ada yang melayani Ayah nanti di waktu tua, maafkan Fisa, Yah,” menangis Fisa dihadapan Ayahnya.

“Fisa takut dianggap anak tak berbakti karena membiarkan Ayah repot mengurus Ibu,” ujar Fisa sambil mencium punggung tangan Ayahnya.

“Ayah ingin sehidup dan semati dengan Ibumu,” kata Ahmad.

“Jangan kau katakan hal yang aneh ini lagi yaa, izinkan Ayah selamanya bersama Ibumu, doakan Ibumu kembali sehat dan kelak dapat menjadi bidadari Ayah di SurgaNya,” ujar Ahmad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *