Masih jelas dalam ingatan Wasilah, sosok suaminya adalah seorang ustaz dengan cara hidup yang rapi dan terukur. Ia tidak pernah berlebihan, tidak juga tampak asketis. Bajunya selalu bersih, setrikaannya tajam, sepatunya disemir sendiri setiap Jumat pagi. Ia percaya kerapian adalah bagian dari adab, dan adab adalah cermin iman. Wasilah sering tersenyum melihat kebiasaan itu, sebuah keanggunan kecil yang jarang disadari orang lain.
Kesibukan suaminya bukan main. Undangan ceramah datang dari berbagai arah, dari musala kecil di pinggir kota sampai aula pemerintah daerah. Kadang ia berangkat selepas subuh dan pulang setelah isya. Namun, dalam sesibuk apa pun, selalu ada pesan singkat yang masuk ke ponsel Wasilah, menanyakan apakah anak-anak sudah makan, apakah gas dapur masih cukup, atau sekadar mengingatkan agar Wasilah tidak lupa minum obat lambungnya.
Rumah itu sederhana, berdiri di gang yang tak terlalu ramai. Pagi hari masih terdengar suara penjual sayur, sore hari anak-anak bermain bola plastik di ujung jalan. Di rumah itulah Wasilah belajar bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang tidak mencolok.
Kini rumah itu terasa lebih luas dari sebelumnya. Bukan karena temboknya bergeser, melainkan karena satu suara tak lagi mengisinya. Sepatu suaminya masih terjejer rapi di rak. Sajadahnya masih tergantung di balik pintu kamar. Wasilah tidak sanggup memindahkannya. Ia takut kehilangan aroma yang masih tertinggal, aroma yang selalu mengiringi doa-doa mereka.
Dengan air mata yang tak pernah benar-benar kering, Wasilah tetap memasak setiap pagi. Dua anaknya, yang baru saja menyandang status yatim, duduk di meja makan dengan ekspresi yang sulit ia baca. Mereka belum sepenuhnya paham arti kehilangan. Mereka hanya tahu ayah tidak pulang, dan ibu lebih sering terdiam. Menahan ledakan emosi yang sedari tadi meluap-luap.
Wasilah menumis bawang dengan tangan yang kadang gemetar. Air mata jatuh ke talenan, bercampur dengan bau bawang dan minyak panas. Ia mengusapnya cepat-cepat. Anak-anak tidak perlu tahu setiap luka.
Dapur menjadi tempat Wasilah bertahan. Di sanalah ia bisa menangis tanpa perlu menjelaskan apa pun. Di sanalah ia bisa merasa berguna. Ia percaya, selama ia masih bisa memasak untuk anak-anaknya, hidup belum sepenuhnya runtuh.
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan bayangan pagar memanjang di halaman, bel rumah berbunyi. Wasilah sempat ragu. Sejak kepergian suaminya, tamu datang silih berganti. Mulai dari tetangga, jamaah, hingga kerabat jauh yang jarang dikenal. Semua membawa wajah duka yang hampir seragam.
Ia mengusap wajahnya, merapikan jilbab seadanya, lalu membuka pintu.
Seorang perempuan berdiri di hadapannya. Tingginya sedang, posturnya tegap. Pakaian hitam yang dikenakannya terlihat mahal, jatuh dengan pas di tubuhnya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi berlebihan. Namun yang membuat Wasilah terhenti bukan penampilan itu.
Aroma.
Parfum yang menyeruak lembut namun tegas. Aroma yang sangat ia kenal. Aroma yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya.
Parfum itu.
Bukan sekadar mirip. Sama.
Wasilah merasa dadanya seperti ditekan perlahan. Ingatannya berkelebat. Baju koko yang digantung di balik pintu, sajadah kecil yang dilipat rapi, jaket yang sering dipakai suaminya saat malam dingin. Semua memiliki aroma itu.
“Assalamu’alaikum,” ucap perempuan itu.
“Wa’alaikum salam,” jawab Wasilah, suaranya nyaris bergetar.
Perempuan itu duduk di ruang tamu, menyampaikan belasungkawa dengan kalimat yang tersusun rapi, seolah sudah sering ia ucapkan di tempat lain. Wasilah mendengarkan, meski sebagian pikirannya sibuk menelusuri sumber aroma itu. Ia tidak bertanya. Ia hanya mengamati.
Ia tahu betul suaminya. Ia tahu kebiasaannya memilih parfum. Tidak sembarangan. Selalu merek yang sama, selalu botol yang sama. Katanya, wangi yang konsisten membuat orang mudah diingat, bukan untuk dikenang, tapi untuk dipercaya.
Wasilah menunduk. Ingatannya berjalan pelan.
Suaminya selalu memberi hadiah yang bagus. Tidak sering, tapi selalu berkualitas. Ia percaya bahwa memberi yang terbaik adalah bentuk tanggung jawab, bukan kemewahan. Wasilah tahu harga parfum itu. Ia tahu betul.
Ketika perempuan itu akhirnya bicara, kalimatnya jatuh seperti benda keras ke lantai.
“Saya datang untuk menanyakan warisan.”
Wasilah mengangkat wajahnya. Ia tidak kaget. Mungkin karena sejak aroma itu menyentuh indranya, sebagian hatinya sudah bersiap.
“Warisan?” tanyanya singkat.
“Iya,” jawab perempuan itu. “Hak saya.”
Ada jeda panjang. Jam dinding berdetak pelan. Dari kamar, suara anak bungsunya terdengar memanggil kakaknya. Kehidupan kecil itu berjalan terus, tak peduli pada percakapan di ruang tamu.
Wasilah memandang perempuan di depannya. Wajah itu tetap tenang, nyaris datar. Tidak ada rasa bersalah, tidak juga rasa menantang. Seperti seseorang yang datang untuk urusan administratif.
Sejak aroma parfum itu tercium, Wasilah sebenarnya sudah mencurigai banyak hal. Potongan-potongan kecil yang dulu terabaikan kini menyatu perlahan. Kepulangan suaminya yang kadang terlalu larut, telepon yang diangkat di luar rumah, dan senyum lelah yang tak selalu bisa ia pahami.
Ia tidak pernah bertanya. Ia percaya. Dan kini, kepercayaan itu berdiri di hadapannya dalam wujud seorang perempuan lain.
Kesadaran itu tidak datang sebagai ledakan. Ia datang seperti air dingin yang merayap pelan, membuat tubuh menggigil tanpa teriakan. Wasilah tidak merasa marah. Yang ia rasakan justru kelelahan yang panjang dan dalam.
Namun di balik semua itu, ada satu keyakinan yang tidak runtuh. Keyakinan tentang cara hidup suaminya. Tentang keterbukaannya dalam hal-hal besar. Tentang batas yang selalu ia jaga.
Wasilah menarik napas panjang.
“Mana buktinya?” katanya akhirnya.
Kalimat itu keluar dengan suara yang lebih tegas dari yang ia duga. Bukan amarah. Bukan pula tangis. Hanya kebutuhan untuk berpijak.
Perempuan itu terdiam. Tatapannya bergeser, lalu kembali. Tangannya yang sejak tadi bertaut kini terlepas. Ia membuka tasnya, lalu menutupnya kembali. Tidak ada map, tidak ada dokumen.
Sunyi mengisi ruang tamu.
Wasilah berdiri. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat. Dari balik pintu kamar, anak-anaknya mengintip. Mata mereka mencari wajah ibunya, seolah menanyakan apakah dunia masih aman.
Wasilah menatap mereka sekilas, lalu kembali ke perempuan di depannya. Ia tidak mengusir. Ia juga tidak mempersilakan lebih jauh.
Di antara aroma parfum yang sama, doa yang sama, dan duka yang berbeda, Wasilah berdiri menjaga batas terakhir yang ia miliki.
Ia tahu hidup tidak selalu adil. Ia tahu cinta bisa terbagi tanpa izin. Namun ia juga tahu, kebenaran tidak pernah cukup hanya dengan wangi yang tertinggal.
Dan di rumah kecil itu, di sore yang hampir habis, Wasilah memilih berdiri, bukan sebagai istri yang ditinggalkan, melainkan sebagai ibu yang masih harus menjaga masa depan. Masa depan anaknya yang belum usai dan ketakutan-ketakutan yang datang silih berganti.
Jam dinding terus berdetak. Parfum itu perlahan memudar. Namun batas yang ia dirikan tetap tinggal.
Penulis: M. Afin Masrija
Profil Penulis: M. Afin Masrija adalah orang asli Kediri yang pernah merantau ke Yogyakarta dan Magetan. Ia aktif menulis opini dan cerpen yang dimuat di berbagai media online maupun media cetak, dengan tema sosial, pendidikan, dan kehidupan keseharian.













