Dilema Mahasiswa Zaman Now: Kejar Nilai Akademis atau Bela Rakyat jadi Aktivis?

kezia mahasiswa Universitas negeri jakarta

Milenianews.com, Bekasi – Peran mahasiswa di perguruan tinggi selalu menjadi topik diskusi menarik, terutama terkait dengan sikap yang seharusnya mereka ambil selama menjalani masa studi.

Di tengah berbagai tuntutan akademis dan sosial, mahasiswa seringkali dihadapkan pada pilihan: haruskah mereka fokus untuk rajin mengikuti perkuliahan? atau, justru lebih aktif menyuarakan aspirasi melalui aksi demonstrasi?

Dilema Mahasiswa: Akademisi atau Aktivis?

Kezia Amelia, seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berpendapat bahwa tanggung jawab utama mahasiswa adalah menyelesaikan studi dengan baik. Rajin masuk kelas, mengerjakan tugas, dan mendapatkan nilai yang bagus adalah prioritas utama.

“Mahasiswa pada dasarnya adalah pelajar tingkat lanjut. Jadi tugas utama kita ya belajar dan menuntut ilmu. Kalau kita malas masuk kelas dan cuma sibuk aksi, lulusnya bisa molor,” ujar Kezia saat ditemui di kediamannya, di Kalimalang, Bekasi, pada Kamis (22/8).

Baca juga: Bukti Mahasiswa Sebagai “Agent Of Change”

Namun, ia juga berpendapat bahwa peran mereka bukan sekadar belajar saja, melainkan juga menjadi agen perubahan sosial atau agent of change. Mereka percaya bahwa kampus adalah tempat berkembangnya kesadaran kritis dan solidaritas terhadap berbagai isu sosial, politik dan ekonomi.

“Demo itu bagian dari perjuangan mahasiswa. Kalau kita hanya fokus belajar tanpa peduli pada ketidakadilan yang terjadi di luar sana, kita tidak menjalankan peran kita sebagai agen perubahan,” lanjutnya.

Mengapa mahasiswa harus bersikap begitu?

Menurut Kezia, mahasiswa yang memilih rajin masuk kelas beralasan bahwa pendidikan formal adalah fondasi utama dalam mempersiapkan diri mereka untuk masa depan. Dengan ilmu dan keahlian yang dikuasai di kelas, mereka berharap bisa berkontribusi secara profesional setelah lulus.

“Kalau kita punya ilmu yang mumpuni, kita bisa memberikan solusi nyata dalam pekerjaan atau kontribusi lain di masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, mahasiswa yang sering terlibat aksi dan kritis terhadap kebijakan publik, menganggap bahwa mengabaikan masalah sosial adalah bentuk apatisme.

“Kalau menurut saya pribadi bisa dilihat dari teman-teman mahasiswa/i yang lain, yang berjuang untuk keadilan dan demokrasi tidak bisa ditunda sampai lulus. Suara mahasiswa adalah kekuatan moral yang bisa membawa perubahan, dan ini harus dilakukan sejak dini,” ungkapnya.

Keseimbangan adalah kunci

Di tengah perbedaan pandangan tersebut, Kezia mengungkapkan ada beberapa mahasiswa yang justru memilih untuk mengambil jalan tengah. Mereka percaya bahwa menjadi mahasiswa tidak harus memilih salah satunya, tetapi harus bisa menyeimbangkan antara akademisi dan aktivisme.

“Kalau dari pendapat saya, mahasiswa bisa tetap aktif di kelas, tapi juga peka terhadap isu-isu di luar. Yang penting adalah bagaimana kita mengatur waktu dan prioritas,” ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa Cyber University Menjuarai Turnamen Esport Bergengsi

Sikap mahasiswa terhadap peran mereka di kampus sangat beragam. Ada yang memilih fokus pada studi dan pengembangan diri melalui pendidikan formal, sementara yang lain lebih memilih terlibat dalam gerakan sosial dan politik.

Namun, keduanya punya tujuan yang sama: berkontribusi bagi masyarakat, baik melalui jalur akademisi maupun aktivisme. Mahasiswa dituntut untuk memahami peran mereka, menyesuaikan dengan kapasitas masing-masing, dan berkontribusi secara positif, baik di dalam maupun di luar kampus.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *