Belajar dari Perilaku Lebah

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin MS (kiri). (Foto: Dok SBBI)

Milenianwews.com, Bogor—Salah satu keistimewaan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar sepanjang masa  adalah penamaan sebagian surat-suratnya dengan nama berbagai jenis binatang yang akrab  dengan kehidupan manusia, yang kandungan hikmahnya  baru bisa digali  beberapa abad kemudian.

“Terdapat enam surat yang dinamai dengan binatang. Yaitu, Al-Baqarah (sapi betina, surat kedua); Al-An’am (binatang ternak, surat keenam); An-Nahl (lebah, surat keenam belas); An-Naml (semut, surat kedua puluh); Al-‘Ankabut (laba-laba, surat kedua puluh sembilan); dan Al-Fiil (gajah, surat keseratus lima),” kata Prof. Dr. Didin Hafidhuddin MS., saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jumat (1/9/2023).

Salah satu surat yang dinamai binatang itu adalah An-Nal (lebah). Prof. Didin mengutip Surat An-Nahl ayat 68-69, yang artinya, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” (ayat  68) “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (ayat 69)

“Surat An-Nahl ayat 68 dan 69 tersebut  memberikan isyarat dan petunjuk  bahwa lebah itu adalah jenis binatang yang memiliki berbagai macam kestimewaan yang bisa dicontoh dan dijadikan pelajaran oleh umat manusia dan terlebih lagi bagi orang yang beriman,”  ujar  Kiai Didin dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Keistimewaan lebah tersebut, lanjut Kiai Didin, seperti dikemukakan dalam berbagai literatur, antara lain sebagai berikut: Pertama, lebah adalah binatang yang selalu bekerja sama dan selalu saling menolong dengan sesamanya.

“Ilmuwan Karl Von Frisch menerima Hadiah Nobel pada tahun 1973 karena penelitian yang dilakukannya mengenai perilaku dan cara komunikasi lebah. Dalam temuannya, ketika seekor lebar berhasil menemukan bunga baru atau sumber makanan, ia akan memberitahu lebah-lebah yan lain, sehingga sarangnya menjadi besar dan kuat,” tuturnya.

“Ini pelajaran buat orang yang beriman  untuk selalu bekerja sama dan saling menolong dalam kebaikan dan takwa, agar timbul kekuatan umat atas dasar sinergi dan bekerja sama,” ujar Kiai Didin menambahkan.

Kedua, mengutip sebuah hadits Nabi, Kiai Didin menegaskan bahwa lebah itu selalu mengonsumsi makanan yang baik (bersih), sehingga mengeluarkan sesuatu yang baik (bersih), dan jika lebah itu menempel di ranting pohon tidak membuatnya patah dan rusak. Lebah pun selalu membuat sarang di tempat yang bersih, seperti gunung-gunung, pohon dan rumah.

“Inilah hikmah positif dari makanan  yang halal dan baik, serta tempat tinggal yang baik dan bersih. Yakni, akan selalu meghasilkan kebaikan dalam kehidupan ini dan tidak membuat kerusakan,” tegas Kiai Didin.

Ketiga, di dalam Surat An-Nahl ayat 68-69 juga dikemukakan bahwa lebah itu menghasilkan madu yang berkhasiat sebagai obat bagi manusia (termasuk di dalamnya kaya  dengan senyawa fenolik khususnya Quarcein); memproduksi  propolis (untuk obat dan ketahanan tubuh); menghasilkan Royal Jelly (makanan ratu lebah, menguatkan stamina); menghasilkan Bee Pollen (menghasilkan antioksidan yang tinggi untuk meningkatkan imunitas tubuh); dan menghasilkan lilin  (dari sarang lebah) yang berguna bagi manusia di dunia pertanian dan industri.

“Ini pelajaran buat umat manusia agar selalu mencari rezeki dan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib (baik bendanya maupun cara mendapatkannya). Karena ternyata sangat besar pengaruhnya di tengah-tengah kehidupan,” ujar Kiai Didin.

Sahabat  Nabi Muhammad SAW yang bernama Ibnu Mas’ud berkata, “Bagi kalian ada jenis obat, yaitu Al-Qur’an dan madu.”

Rasulullah SAW  bersabda, “Madu itu adalah obat segala macam penyakit (jasmani), dan Al-Qur’an adalah juga obat segala penyakit (penyakit jiwa, hati dan penyakit sosial).” (HR Bukhari )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *