Virus Flu Burung H3N8 Tewaskan Satu Orang di China!

Milenianews.com, Jakarta – Seorang wanita berusia 56 tahun di China telah meninggal setelah tertular flu burung H3N8. Kematian ini adalah kasus pertama yang diketahui pada manusia akibat jenis flu burung ini.

Sementara itu, H3N8 sendiri adalah salah satu subtipe flu yang paling ditemukan pada unggas. Wanita tersebut adalah orang ketiga yang tertular flu ini dan pertama yang meninggal.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia, wanita tersebut mengalami gejala pada akhir Februari dan meninggal pada 16 Maret. Dia memiliki “beberapa kondisi yang mendasarinya” dan diperkirakan tertular virus di pasar basah, tempat para ilmuwan yang melacak paparannya mengumpulkan sampel positif untuk H3N8.

Baca Juga: BI Blokir Pengguna QRIS Penipu Kotak Amal Masjid

Infeksi tersebut tidak terkait dengan pandemi flu burung H5N1 yang telah memusnahkan populasi unggas dan burung liar di seluruh dunia dalam 18 bulan terakhir dan telah menyebar ke mamalia termasuk rubah, singa laut, dan bahkan kucing peliharaan.

Juga tidak ada bukti bahwa H3N8 dapat menyebar dari orang ke orang. “Tidak ada kontak dekat dari kasus yang mengembangkan infeksi atau gejala penyakit pada saat pelaporan,” kata WHO.

Sementara H3N8 kurang berbahaya bagi burung liar dan unggas domestik jika kita bandingkan dengan H5N1, “menyebabkan sedikit atau tidak ada tanda penyakit”, itu juga telah terdeteksi di berbagai mamalia sebelumnya, termasuk kuda dan anjing.

Flu burung H3N8 adalah flu lama yang muncul lagi

Pada tahun 2011, terjadi wabah H3N8 di antara anjing laut pelabuhan di New England, AS yang menewaskan 162 hewan.

Ada banyak jenis flu burung, dengan virus yang berasal dari dua protein yang berbeda yakni hemaglutinin dan neuraminidase (H dan N dalam urutan penamaan). Hingga saat ini, para ilmuwan telah mengidentifikasi 18 subtipe berbeda dari yang pertama, dan 11 dari yang terakhir, yang beredar.

Hanya enam di antaranya (virus H5, H6, H7, H8, H9, dan H10) sejauh ini telah menginfeksi manusia. Lalu dengan H5N1 dan H7N9 bertanggung jawab atas sebagian besar kasus yang diketahui.

Baca Juga: Hugh Jackman “X-Men”, Terbebas dari Kanker

“Virus H3N8 pertama kali terdeteksi pada burung liar pada 1960-an dan telah terdeteksi pada hewan lain,” kata CDC AS dalam sebuah pernyataan, Senin (10/04).

Virus flu burung H3N8 telah terdeteksi secara sporadis pada unggas di China dan beberapa di antaranya tercipta secara genetik yang terkait erat dengan kasus manusia menurut laporan pada tahun 2022. Untuk saat ini, pandemi flu burung H5N1 masih menjadi perhatian besar terkait risikonya terhadap manusia.

Banyaknya kasus pada burung dan meningkatnya penularan di (dan berpotensi di antara) mamalia. Hal ini termasuk cerpelai, berang-berang, dan bahkan kucing peliharaan. Kasus ini meningkatkan peluang virus untuk bermutasi dan menyebar di antara manusia.

Dr Pablo Plaza mengatakan, “Jika penularan antar mamalia telah ada, virus tersebut telah berubah dan ini dapat meningkatkan risiko kesehatan manusia.”

“Sampai sekarang, risiko ini tampaknya rendah, namun kita harus waspada karena virus berubah setiap saat. Perlu beberapa perubahan virus untuk beradaptasi dengan penularan antar manusia, sehingga mudah-mudahan tidak terjadi,” imbuhnya.

Baca Juga : Tingkatkan Kerja Sama Internasional, APSMBI Gelar Diskusi Bareng Atdikbud KBRI Canberra

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *