Milenianews.com, Tangerang – Di tengah tingginya penetrasi internet yang menembus lebih dari 80 persen populasi Indonesia, pemasaran hasil bumi masih terjadi di tingkat grass root. Sebagian besar hasil pertanian pekarangan dan usaha perkebunan warga, masih dipasarkan secara tradisional. Dikemas plastik tipis tanpa label, dijual dalam bentuk curah, serta bergantung pada margin keuntungan yang tipis dan berfluktuasi. Ketiadaan jaminan higienitas dan identitas merek membuat produk lokal kesulitan menembus pasar yang lebih stabil.
Melihat persoalan tersebut, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menghadirkan intervensi nyata di RW 13, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Banten. Melalui pelatihan yang berlangsung pada Sabtu (17/10) lalu, akademisi UBSI mendampingi 20 kader Posyandu Mawar A, untuk mentransformasi sayuran kebun menjadi produk pangan bermerek yang berdaya saing tinggi.
Baca juga: Dosen UBSI Latih Pengurus Masjid Lathifah Depok Pake AI Biar Dakwah Gak Kalah Sama Konten Hiburan
Dari Komoditas Kiloan Menuju Produk Bernilai Tambah

Solusi mendasar yang ditanamkan adalah reorientasi cara pandang, yaitu beralih dari sekadar penjual bahan mentah menjadi pengelola produk bermutu. Dalam pelatihan yang dipimpin oleh Muhammad Rifqi Firdaus, M.Kom, bersama tim dosen Andreyestha, M.Kom, Amin Nur Rais, M.Kom, dan Richky Faizal Amir, M.Kom, para peserta diajarkan membedakan perlakuan produk curah dengan produk bermerek.
“Kuncinya adalah mengubah pola pikir warga dari sekadar menjual sayur kiloan menjadi pemilik jenama yang dipercaya konsumen. Ketika kemasan diganti dan tanggal panen dicantumkan, rasa aman pembeli terbangun dan margin keuntungan otomatis ikut meningkat,” ujar Ketua Tim PKM UBSI, Rifqi.
Langkah konkret yang diterapkan meliputi standardisasi kemasan dan legalitas visual:
- Penggunaan Kemasan Khusus: Sayuran daun segar dialihkan ke wadah mika clamshell, paket sayur siap masak menggunakan kantong vakum (vacuum bag), sementara olahan pangan dikemas dalam standing pouch aluminum foil.
- Penetapan Keunggulan Unik (USP): Produk diberi label identitas khusus, seperti selada hidroponik tanpa sisa tanah atau paket higienis siap olah.
- Desain Label Mandiri: Memanfaatkan aplikasi ponsel pintar seperti Canva, kader dilatih mendesain stiker tahan air yang memuat tujuh elemen penting: nama merek, tanggal panen, berat bersih, instruksi penyimpanan, informasi kontak, nomor seri, serta label pendukung mutu pangan.
Langkah ini langsung menjawab keraguan konsumen modern mengenai aspek keamanan pangan (food safety) dan keterlacakan asal produk (traceability).
Strategi Konten Praktis dan Tata Kelola Keuangan
Inovasi kemasan kemudian diselaraskan dengan strategi pemasaran digital berbiaya rendah. Tim dari UBSI membekali kader tentang teknik produksi konten menggunakan kamera ponsel sederhana. Praktik ini mencakup pemanfaatan pencahayaan alami pagi hari, sudut pengambilan gambar flat lay 90 derajat, hingga pembuatan video pendek 30 detik berbasis formula retensi visual (hook, konten higienitas, dan instruksi pemesanan).
Untuk menjaga perputaran modal usaha, sistem pemasaran berbasis digital diperkenalkan melalui katalog WhatsApp Business. Warga diarahkan mengadopsi skema prapemesanan (pre-order) dan paket langganan mingguan (veggie box). Pendekatan ini efektif mencegah risiko panen terbuang di kebun akibat tidak terserap pasar.
Dari sisi keberlanjutan usaha, peserta juga dibekali rumus kalkulasi Harga Pokok Penjualan (HPP) yang presisi. Penghitungan ini telah mengalokasikan faktor penyusutan atau risiko kerusakan komoditas sebesar 10 hingga 15 persen, sehingga keuntungan yang diperoleh lebih terukur dan tidak semu.
“Kerap kali usaha rumahan mandek bukan karena produknya tidak laku, melainkan salah hitung biaya operasional dan lupa memasukkan risiko susut panen. Dengan rumus HPP yang tepat dan sistem prapemesanan, perputaran uang menjadi sehat dan sayur tidak ada yang membusuk sia-sia,” ujar Andreyestha, selaku tutor materi pada kegiatan PKM tersebut.
Rencana Aksi 30 Hari Menuju Kemandirian
Pendampingan ini tidak berhenti pada sesi seremonial atau pemaparan materi. Tim PKM UBSI menyusun panduan terstruktur berupa Rencana Aksi 30 Hari:
- Pekan 1: Penetapan nama jenama, formulasi nilai produk, dan pencetakan label stiker.
- Pekan 2: Pengambilan foto produk beresolusi rapi serta penataan profil WhatsApp Business.
- Pekan 3: Peluncuran penjualan perdana berbasis prapemesanan dan pengumpulan testimoni konsumen.
- Pekan 4: Distribusi konten video ke media sosial dan pembukaan paket langganan sayur berkala.
Baca juga: PKM Internasional, Dosen UBSI Bantu UMKM Gula Gendis Asri Beradaptasi di Era Digital
Sementara itu, perwakilan kader Posyandu Mawar A, Siti, menyambut antusias penerapan panduan tersebut di lingkungannya.
“Selama ini kami bingung memasarkan hasil panen pekarangan warga selain dijual murah ke tetangga terdekat. Pelatihan ini memberi solusi nyata yang gampang kami tiru, mulai dari cara foto pakai kamera ponsel sampai bikin stiker sendiri di aplikasi,” kata Siti.
Inisiatif di Sukasari membuktikan bahwa literasi digital yang diterapkan secara tepat guna mampu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat. Dengan mengubah hasil kebun curah menjadi produk bermerek, para kader posyandu kini memiliki instrumen konkret untuk menggerakkan perekonomian keluarga sekaligus mewujudkan ketahanan pangan lokal yang mandiri dan berkelanjutan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













