Milenianews.com, Jakarta – Ekonomi Indonesia keliatan makin “on fire” menjelang akhir 2025. Tiga indikator makroekonomi penting inflasi, PMI Manufaktur, dan neraca perdagangan kompak nunjukin tren positif. Data yang dirilis Senin (1/12) makin menguatkan sinyal kalau ekonomi kita lagi stabil, bahkan cenderung ngebut.
Inflasi November 2025 tercatat di angka 2,72% (yoy), yang artinya masih aman dan sesuai target pemerintah di kisaran 2,5 ± 1%. Stabilnya inflasi ini bukan sekadar angka, tapi efek dari meredanya tekanan harga pangan, terutama di kelompok volatile food yang turun jadi 5,48% (yoy) dari bulan sebelumnya. Dalam keterangan resminya pada (1/12), pemerintah bilang, “Inflasi Indonesia tetap berada dalam kisaran target dan terkendali. Turunnya tekanan harga pangan menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.”
Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai US$33,48 Miliar, Inflasi Oktober Tertinggi
Walau begitu, inflasi bulanan masih diganggu oleh naiknya harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara. Emas perhiasan naik 3,99% (mtm), sedangkan tiket pesawat melonjak 6,02% (mtm) sesuatu yang memang sering terjadi menjelang akhir tahun. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ngejelasin rencana pemerintah buat nurunin tekanan harga itu lewat stimulus baru. Dalam pernyataannya yang dirilis Senin (1/12), ia bilang, “Paket stimulus ekonomi berupa program diskon tarif transportasi yang akan diterapkan pada Desember diharapkan dapat menurunkan kembali tarif angkutan udara dan menjaga daya beli masyarakat.”
Sementara itu, kabar baik datang dari dapur harga beras justru mencatat deflasi sebesar –0,59% (mtm). Pemerintah ngaku kalau program bantuan pangan dan pasar murah jelang Natal dan Tahun Baru jadi faktor kenapa harga beras bisa lebih adem. Bantuan beras 10 kg dan minyak goreng untuk 18,3 juta KPM disebut jadi salah satu penopangnya.
Sektor manufaktur tancap gas ke level tertinggi tahun ini
Di sisi lain, sektor manufaktur juga lagi naik daun. PMI Manufaktur Indonesia tembus ke level 53,3 pada November 2025, angka tertinggi sejak Februari. Laporan resmi yang dirilis Senin (1/12) nyatet kalau ekspansi ini disokong peningkatan permintaan domestik, produksi yang makin sibuk, dan tenaga kerja yang makin terserap. Dalam dokumen resminya disebutkan, “Peningkatan PMI Manufaktur didorong oleh naiknya permintaan domestik, peningkatan produksi, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas pembelian bahan baku yang lebih besar.” Ini bikin sektor manufaktur makin mantap jadi mesin penggerak ekonomi nasional.
Penguat lainnya datang dari sektor perdagangan. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus US$ 2,39 miliar pada Oktober 2025. Surplus ini udah jalan 66 bulan tanpa putus, nunjukin kalau ketahanan ekonomi Indonesia di level global lagi sangat solid. Dalam pernyataan resmi tanggal (2/12), pemerintah menegaskan, “Surplus perdagangan yang terus berlanjut merupakan bukti kuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global, sekaligus memperkuat stabilitas eksternal dan cadangan devisa nasional.”
Baca juga: Sudah Saatnya Reformasi Kebijakan Moneter dan Sistem Kurs dalam UU Perekonomian Nasional
Kompaknya tiga indikator ini jelas bikin kepercayaan diri pemerintah makin tinggi. Dalam pernyataan resmi pada (1/12), pemerintah nyampaikan, “Hasil positif dari tiga indikator utama ini mencerminkan soliditas ekonomi nasional. Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan agar pertumbuhan tetap terjaga.”
Dengan capaian ini, Indonesia menutup tahun 2025 dengan vibe optimistis. Ekonominya stabil, sektor industrinya ekspansif, dan ekspor-impornya makin rapi. Bisa dibilang, kondisi ini jadi modal penting buat melangkah ke tahun 2026 dengan keyakinan yang lebih besar.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













