Milenianews.com – Dulu, menjadi bos terasa seperti garis akhir perlombaan karier. Ruang kerja lebih luas, gaji lebih besar, dan nama terpampang di struktur organisasi. Namun kini, bagi sebagian Gen Z, kursi empuk itu tidak lagi menjadi tujuan utama.
Nisa (22), seorang karyawan di Jakarta, misalnya, tidak menaruh ambisi besar untuk segera menjadi manajer. Ia justru lebih sibuk memikirkan bagaimana caranya meningkatkan keterampilan dan menjaga kestabilan penghasilan.
“Buat saya yang penting skill berkembang dan penghasilan stabil. Kalau jadi bos tapi stres dan nggak punya waktu hidup, rasanya nggak worth it,” ujarnya.
Alih-alih mengejar jabatan formal, Nisa memperbanyak proyek, membangun portofolio, dan bahkan memiliki pekerjaan sampingan. Baginya, karier bukan soal titel, melainkan soal kapasitas diri.
Generasi yang Mengubah Arah Dunia Kerja
Perubahan pola pikir ini bukan sekadar cerita personal. Laporan Global 2025 Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte memprediksi bahwa pada 2030 sekitar 74 persen angkatan kerja global akan diisi oleh Milenial dan Gen Z. Artinya, cara pandang mereka akan membentuk wajah dunia kerja ke depan.
Menariknya, hanya sebagian kecil Gen Z yang menempatkan posisi pimpinan formal sebagai target utama. Sebaliknya, banyak dari mereka memprioritaskan fleksibilitas, keseimbangan hidup, serta kesempatan belajar yang berkelanjutan.
Konsep ini sejalan dengan gagasan protean career yang diperkenalkan oleh Douglas T. Hall. Ia menjelaskan bahwa karier modern lebih dikendalikan individu, bukan lagi sepenuhnya organisasi. Ukuran keberhasilan pun bergeser dari promosi jabatan menjadi pertumbuhan diri dan kemampuan beradaptasi.
Baca juga: Jakarta Mulai Ditinggalkan, Mengapa Gen Z Pilih Rumah di Pinggiran Kota?
Fleksibilitas di Tengah Ketidakpastian
Selain faktor nilai, kondisi ekonomi juga ikut membentuk cara pandang Gen Z. Biaya hidup meningkat, pasar kerja terasa kompetitif, dan ketidakpastian global terus menghantui. Karena itu, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan menjadi strategi yang realistis.
Ekonom Guy Standing menyebut fenomena ini sebagai munculnya kelas precariat, yaitu kelompok pekerja dengan sistem kerja fleksibel tetapi kepastian rendah. Namun bagi Gen Z, fleksibilitas justru menghadirkan ruang kebebasan.
Mereka sadar bahwa kebebasan tetap membutuhkan disiplin. Skill harus terus diasah. Profesionalitas harus dijaga. Selain itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci bertahan.
Tantangan bagi Perusahaan
Perubahan ini menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Model kepemimpinan yang terlalu kaku semakin sulit menarik minat generasi muda. Gen Z tidak menolak menjadi pemimpin. Namun mereka ingin ruang berkembang, waktu untuk diri sendiri, serta pekerjaan yang memiliki makna.
Bagi generasi ini, sukses bukan hanya soal duduk di kursi bos. Sukses berarti mampu menjaga keseimbangan antara karier, keuangan, dan kehidupan pribadi.
Karena itu, ketika dunia kerja terus berubah, mungkin definisi kesuksesan pun ikut bergeser. Bukan lagi tentang siapa yang paling tinggi jabatannya, tetapi siapa yang paling mampu mengendalikan arah hidupnya sendiri.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













