Milenianews.com, Malang– Air mungkin terlihat sederhana. Namun ketika aksesnya terbatas, seluruh aktivitas ikut terhambat—dari mandi, wudhu, hingga proses belajar mengajar. Di Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, persoalan itu kini terjawab.
Baitul Maal Hidayatullah (BMH) meresmikan sumur bor titik ke-254 di Pondok Pesantren Tani Indonesia, Senin (10/2/2026). Fasilitas ini menghadirkan akses air bersih bagi 230 jiwa yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan pesantren.
Selama ini, ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri bagi operasional harian pesantren. Dengan hadirnya sumur bor tersebut, kebutuhan dasar santri kini terpenuhi lebih stabil.
Pengasuh pesantren, Kyai Ali Usman, menyampaikan rasa syukur atas terealisasinya program ini. “Alhamdulillah, dengan adanya sumur bor ini kebutuhan air santri dan pesantren bisa terpenuhi dengan lebih baik. Terima kasih kepada BMH dan para donatur yang telah peduli,” ujarnya.

Bagi para santri, perubahan itu terasa langsung. Aisyah, salah satu santri, mengaku kini tidak lagi khawatir ketika hendak berwudhu atau mandi. “Sekarang airnya lancar. Kami jadi lebih nyaman dan tidak khawatir kekurangan air lagi,” tuturnya.
Baca Juga : Komitmen Nyata BMH, Sumur Bor Ke-253 Perkuat Fasilitas Pesantren Almasyitoh
Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor merupakan bagian dari komitmen BMH menghadirkan solusi jangka panjang bagi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya lembaga pendidikan Islam.
“Program air bersih ini dirancang untuk memberi dampak berkelanjutan. Kami ingin pesantren memiliki fasilitas yang mendukung kesehatan, kebersihan, dan kelancaran aktivitas pendidikan,” jelasnya.

Hadirnya sumur bor ke-254 ini tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga menghadirkan rasa tenang. Lingkungan pesantren menjadi lebih higienis, aktivitas ibadah berjalan lancar, dan beban operasional dapat ditekan. Energi pengelola pesantren pun bisa lebih difokuskan pada pembinaan dan pendidikan generasi Qur’ani.
Di Bantur, air kini tidak lagi menjadi persoalan harian. Ia mengalir sebagai bagian dari solusi—hasil gotong royong kepedulian yang menjelma menjadi manfaat nyata.













