Milenianews.com, Jakarta—Rektor Universitas UMMI Bogor yang juga Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS dalam refleksi Ramadhan di Keraton Kasepuhan, Cirebon, mengingatkan kembali esensi dakwah Wali Songo yang bersumber pada hadis Rasulullah SAW untuk mempermudah dan jangan dipersulit, serta memberi kabar gembira dan jangan membuat orang lari.
“Islam di Indonesia tegak dengan kesejukan tanpa harus menakut-nakuti atau mudah membidahkan tradisi yang ada,” kata Prof. Rokhmin Dahuri dalam acara Resonansi Ramadhan: Menelusuri Jejak Peradaban Islam dan Dakwah Damai di Tanah Wali, yang ditayangkan di Youtube TV Parlemen, Kamis (
Menurut Prof. Rokhmin, Ramadhan di Tanah Wali (Cirebon), bukan sekadar ritual, melainkan momentum penguatan spiritual melalui tradisi seperti ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan pelaksanaan Azan Pitu yang khas.
Di akhir pesannya, Prof. Rokhmin mengajak umat untuk menjadikan puasa sebagai sarana meningkatkan takwa, baik secara hablum minallah (hubungan dengan Allah) maupun hablum minannas (hubungan dengan sama manusia). “Takwa sosial yang diwujudkan melalui kerja keras, kepedulian pada sesama, serta menjaga lingkungan hidup harus menjadi buah nyata dari ibadah kita di bulan suci ini,” kata Prof. Rokhmin yang juga Anggota Komisi IV DPR-RI.
Dalam tayangan tersebut, Prof. Rokhmin mengemukakan bahwa menelusuri jejak Islam di Nusantara membawa kita pada sebuah narasi besar tentang kedamaian dan akulturasi budaya. Di Cirebon, kota yang dijuluki Kota Wali, cahaya Islam tumbuh subur melalui peran besar Wali Songo, khususnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
“Melalui prinsip rahmatan lil alamin, Islam hadir bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk merangkul tradisi lokal secara gradual dan harmonis,” kata Prof. Rokhmin yang juga Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat ⚬ Anggota Dewan Pakar MN-KAHMI.
Kita diajak mengunjungi Keraton Kasepuhan, salah satu pusat peradaban tertua di Cirebon yang didirikan pada abad ke-15. Arsitekturnya memadukan corak Hindu-Buddha dan Islam yang terlihat pada gapura bergaya Majapahit dan bangunan Siti Hinggil sebagai bukti nyata betapa lenturnya dakwah para wali di masa lalu. Simbolisme Islam pun tertanam kuat, seperti 20 tiang pada bangunan Mande Malang Semiran yang melambangkan sifat wajib Allah SWT.
Tak jauh dari sana, berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa, saksi bisu perjuangan Wali Songo yang dibangun dengan keterlibatan ratusan pekerja dari berbagai wilayah.













