Milenianews.com, Jakarta—Ramadhan 1447 H baru saja berlalu. Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, terutama dikaitkan dengan nilai-nilai ibadah puasa. Menurut Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, salah satu nilai yang diajarkan melalui ibadah puasa Ramadhan adalah empati dan distribusi kesejahteraan yang lebih baik.
“Ramadhan menjadi instrumen strategis untuk membangun perekonomian Indonesia yang lebih makmur, adil, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan,” kata Prof. Rokhmin Dahuri, Rabu (25/3/2026).
Ia menambahkan, pelaksanaan puasa Ramadhan menawarkan kerangka moral yang kuat yang dapat berkontribusi untuk mengatasi ketimpangan secara holistik dan berkelanjutan. Puasa selama Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual yang halal; melainkan sebuah proses menumbuhkan empati dan nilai-nilai spiritual. Dengan merasakan lapar dan menahan diri, setiap individu—terutama mereka yang berada pada posisi sosial ekonomi yang lebih beruntung—dapat memperoleh pemahaman yang nyata tentang realitas sehari-hari yang dihadapi oleh kaum miskin. Kesadaran yang lahir dari pengalaman ini menumbuhkan solidaritas kemanusiaan, yang kemudian dapat diterjemahkan ke dalam keputusan-keputusan ekonomi yang lebih berbelas kasih, baik pada tingkat rumah tangga maupun kelembagaan,” kata Prof. Rokhmin yang juga Rektor Universitas UMMI Bogor.
Baca Juga : Prof. Rokhmin Dahuri: Konsep Itqan dalam Islam sangat Relevan dengan Kehidupan Modern
Ia menjelaskan, dalam konteks Indonesia, di mana ketimpangan sering kali tampak antara wilayah perkotaan dan perdesaan, serta antar sektor seperti pertanian dan perikanan, empati semacam ini dapat mendorong dukungan yang lebih kuat terhadap kebijakan yang inklusif. Hal ini juga memperkuat mekanisme berbasis komunitas seperti gotong royong, yang tetap sangat penting dalam menjembatani kesenjangan yang tidak mampu ditangani sepenuhnya oleh lembaga formal.
Ramadhan secara signifikan memperkuat praktik keuangan sosial Islam, khususnya zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Instrumen-instrumen ini berfungsi sebagai mekanisme langsung redistribusi kekayaan. Berbeda dengan perpajakan konvensional, ZIS berakar kuat pada kewajiban moral, iman, dan pertanggungjawaban spiritual kepada Allah SWT, sehingga meningkatkan kepatuhan dan keikhlasan,” kata Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Rektor Universitas UMMI Bogor.
Ia mengemukakakan, potensi total ZIS di Indonesia sangat besar, yakni sekitar Rp327 triliun per tahun. Namun, sejauh ini baru sekitar 10 persen yang dapat dihimpun setiap tahun (BAZNAS, 2025). Optimalisasi penghimpunan dan pendistribusian ZIS melalui lembaga seperti BAZNAS dan berbagai organisasi amil zakat telah menunjukkan dampak terukur terhadap pengentasan kemiskinan.
“Selama Ramadhan, lonjakan filantropi tersebut dapat diarahkan secara strategis ke penggunaan-penggunaan produktif, seperti pembiayaan usaha mikro, agribisnis, perikanan tangkap, akuakultur, peternakan, ekonomi biru, serta peningkatan kapasitas bagi nelayan dan petani skala kecil. Hal ini sejalan dengan visi yang lebih luas untuk memberdayakan mustahik (penerima manfaat) agar menjadi muzakki (pemberi kontribusi), sehingga tercipta siklus pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan inklusi yang berkelanjutan,” kata Prof. Rokhmin yang juga Wakil Ketua International Scientific Advisory Board Center for Sustainable Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Jerman.
Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 menyebutkan, salah satu paradoks yang sering terlihat selama Ramadhan adalah meningkatnya konsumsi, terutama pada belanja makanan dan gaya hidup. Namun, nilai sejati puasa justru terletak pada penanaman i’tidal (moderasi) dan pencegahan terhadap israf (berlebih-lebihan).
“Jika dihayati dengan benar, prinsip ini dapat membentuk pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berkeadilan. Di negara yang distribusi sumber dayanya sangat timpang dan pemborosan makanan masih menjadi persoalan serius—bahkan Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi dalam hal limbah makanan (FAO, 2020)—penerapan perilaku konsumsi yang disiplin dapat menimbulkan implikasi makro dan dampak positif yang luas. Berkurangnya limbah, belanja yang lebih bijak, dan prioritas pada kebutuhan esensial dapat membebaskan sumber daya yang kemudian dapat dialihkan ke investasi sosial dan program-program pengentasan kemiskinan,” ujarnya.
Prof. Rokhmin yang jug menegaskan, berlawanan dengan anggapan bahwa puasa menurunkan produktivitas, Ramadhan justru menekankan itqan yaitu upaya meraih keunggulan dan profesionalisme dalam seluruh aktivitas. Disiplin yang dibentuk melalui puasa, termasuk pengelolaan waktu, pengendalian diri, dan fokus, dapat meningkatkan produktivitas individu maupun kolektif. Bagi sektor-sektor ekonomi Indonesia, khususnya pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, serta UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), penguatan nilai itqan sangatlah krusial
“ Produktivitas yang lebih tinggi, disertai perilaku etis, akan menghasilkan nilai tambah dan daya saing yang lebih besar. Hal ini sangat penting untuk mengurangi ketimpangan struktural, karena memungkinkan kelompok berpendapatan rendah meningkatkan posisi ekonominya melalui produksi, output, dan partisipasi pasar yang lebih bai,” kata Prof. Rokhmin yang juga Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University.
Ia menambahkan, Ramadhan juga mendorong praktik-praktik yang inklusif seperti perdagangan yang adil, pembayaran upah tepat waktu, dan penghindaran perilaku eksploitatif. Ajaran Islam menekankan keadilan (adl) dalam transaksi ekonomi, dengan melarang praktik-praktik yang memusatkan kekayaan secara berlebihan atau merugikan kelompok rentan. Jika nilai-nilai ini diterapkan secara konsisten, maka ketimpangan struktural dalam perekonomian Indonesia—seperti tidak seimbangnya posisi tawar antara produsen (petani, nelayan, dan UMKM) dengan para perantara, atau antara tenaga kerja dan modal—dapat dikurangi. Perilaku bisnis yang etis, yang terinspirasi oleh nilai-nilai Ramadhan, dapat melengkapi kerangka regulasi dalam mendorong sistem ekonomi yang lebih berkeadilan.
Pada akhirnya, kata Prof. Rokhmin, nilai-nilai Ramadhan sangat selaras dengan aspirasi pembangunan jangka panjang Indonesia, termasuk visi Indonesia Emas 2045. “Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tidaklah cukup; pertumbuhan itu harus disertai pemerataan, keberlanjutan, dan keadilan sosial. Ramadhan menghadirkan momentum tahunan untuk kalibrasi moral, agar kemajuan ekonomi tidak menyimpang dari prinsip-prinsip fundamental tersebut,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.













