Pendidikan di Indonesia Hanya Siapkan Lulusannya jadi Tenaga Kerja

Milenianews.com, Jakarta – Penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal mengusulkan pemerintah untuk menggunakan pendekatan milik Filsuf Amartya Sen. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kapabilitas (capability approach) pada sektor pendidikan nasional.

“Krisis sumber daya manusia adalah krisis yang harus segera dibenahi di Indonesia. Terlebih krisis ketika pendidikan nasional justru mengasingkan manusia. Khususnya dari potensi dan bakat terpendamnya,” kata Rizal dalam keterangan resmi, Senin (18/11) di Jakarta.

Baca juga: BMH Dukung Peningkatan Kapasitas Guru Pendidikan Anak Usia Dini Se-Kaltara

Siswa di Indonesia hanya disiapkan jadi pegawai

Rizal mengatakan usul tersebut ia keluarkan setelah menyoroti adanya ketimpangan akses pendidikan. Hal tersebut menjadi akibat dari paradigma pendidikan yang berorientasi pada modal manusia. Dengan hanya menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja.

Akibatnya, manusia dianggap sebagai obyek pendidikan, bukan subyek atau pelaku utamanya. Siswa-siswa di segala tingkatan pendidikan termasuk mahasiswa, sering tidak menikmati proses belajarnya.

Pendidikan di Indonesia tidak mewujudkan kualitas hidup lulusannya

Pendidikan inilah, katanya, yang menjauhkan mereka dari talenta, bakat atau passion-nya. Ia mengingatkan jika hal ini terus berlanjut hingga di dunia kerja. Maka mereka tidak akan produktif dan mencintai pekerjaannya.

“Setiap manusia harus merasa punya kesempatan dan pilihan bebas untuk menjadi dirinya. Dengan menjadi manusia yang berfungsi untuk mewujudkan kualitas kehidupan yang dicita-citakan serta memberikan nilai atau makna pada kehidupannya,” jelasnya.

Baca juga: Ervan Afzalurrahman Calon Dai yang Kuatkan Pendidikan Santri Binaan BMH di Maros

Kurikulum sudah ganti 12 kali, tapi kualita pendidikan masih sama

Kualitas pendidikan di Indonesia, dinilainya juga belum bisa maju. Hal tersebut karena masih berkutat pada pemikiran terkait sistem pendidikan di masa lalu.

“Program baru masih didekati dengan cara berpikir dan cara bertindak yang lama. Sehingga hanya sekadar menghasilkan formalisme, administrasi dan jargon baru. Jadi, meskipun kurikulum sudah berganti dua belas kali, akreditasi sekolah sudah mencapai 90 persen lebih. Akan tetapi kualitas pendidikan kita masih stagnan,” pungkasnya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *