Milenianews.com, Semarang– Ramadhan sering dijalani sebagai rutinitas ibadah tahunan. Namun di Pondok Tahfidz Al Burhan, Hidayatullah Kota Semarang, Ahad (1/3/26), Ramadhan ditegaskan sebagai momentum penyucian jiwa. Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Tengah mendukung gelaran buka puasa pekan kedua bagi santri dan dai-daiyah yang dirangkai dengan kajian ruhani.
Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jateng, Yusran Yauma, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda berbuka bersama.
“Silaturahim di bulan puasa harus menjadi sarana penguatan kesadaran ruhani bagi santri dan jamaah,” ujarnya.

Kajian disampaikan oleh Ust. Nur Said Abdullah dengan mengangkat pemikiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Imam Al-Ghazali tentang makna puasa dan tazkiyatun nafs. Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan.
Pertama, puasa syariah: menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga maghrib. Ini level lahiriah.
Kedua, puasa thariqah: menjaga lisan, pandangan, dan anggota tubuh dari maksiat. Pada tahap ini, puasa menjadi latihan pengendalian diri.
Ketiga, puasa hakikat: orientasi hati sepenuhnya kepada Allah. Pada level ini, puasa membangkitkan kesadaran ilahiah dalam diri.
“Banyak dari kita baru mengenal nama ‘Allah’, tetapi belum sungguh-sungguh mengenal-Nya melalui penyucian diri,” tegasnya.

Penjelasan itu diperkuat dengan konsep tazkiyatun nafs menurut Imam Al-Ghazali: takhalli, mengosongkan diri dari sifat tercela; tahalli, menghiasi diri dengan sifat terpuji; dan tajalli, tersingkapnya cahaya iman dalam hati. Proses ini menuntut refleksi, bukan sekadar aktivitas seremonial.
“Logikanya sederhana. Jika puasa hanya menahan lapar, dampaknya berhenti pada tubuh. Jika puasa melatih jiwa, dampaknya menjangkau karakter. Dan jika karakter berubah, perilaku sosial pun ikut berubah,” paparnya.
Dukungan BMH dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa program Ramadhan tidak berhenti pada distribusi konsumsi, tetapi diarahkan pada penguatan kesadaran spiritual. Buka puasa menjadi pintu masuk pembinaan jiwa. Dari meja makan, lahir ruang tafakur.
Ramadhan pada akhirnya bukan soal pengulangan kalender. Ia adalah kesempatan menata ulang diri. Ketika jiwa dibersihkan, ibadah tidak lagi menjadi rutinitas, melainkan jalan transformasi.













