Milenianews.com, Abu Dhabi—Suasana Lebaran di Indonesia selalu semarak. Terutama terkait mudik, malam takbiran, shalat Ied berjamaah, halal bihalal, dan … THR!
Bagaimana dengan suasana Lebaran di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab? “Kalau bicara soal malam takbiran di Abu Dhabi, suasananya sebenarnya nggak terlalu kerasa. Jadi pengumuman Lebaran itu biasanya datang malam hari. Lebaran 1446 H, keputusannya baru diumumkan Sabtu malam setelah salat Isya bahwa Lebaran jatuh pada hari Minggu. Habis itu ya sudah, imam di masjid biasanya melantunkan takbir sebentar setelah salat, lalu selesai. Nggak ada yang namanya takbir keliling atau perayaan khusus kayak di Indonesia. Jadi lebih ke suasana masing-masing aja,” kata Gabriel Firmansyah Harris, mahasiswa S2 Mohamed bin Ziyad University for Humanities Abu Dhabi menjawab pertanyaan Milenianews.com, Selasa (1/4/2025).
Ia menambahkan, terkait shalat Idul Fitri, warga biasanya melaksnakan shalat di masjid-masjid terdekat. “Nggak ada tempat khusus, dan nggak semuanya di lapangan juga. Biasanya yang shalat di lapangan itu karena masjidnya udah penuh. Saya pribadi bareng komunitas Indonesia biasa salat di Masjid Joko Widodo yang lokasinya deket KBRI. Tapi kalau mau suasana yang lebih ramai dan megah, bisa ke Masjid Agung Sheikh Zayed,” ujarnya.
Jumlah jamaah dan antusiasmenya ya biasa aja, semua orang shalat karena memang kewajiban. “Pemerintah juga nggak ngadain acara khusus buat Lebaran,” tuturnya.
Bagaimana dengan mudik? Apakah warga Abu Dhabi juga melakukannya seperti di masyarakat Indonesia? “Kalau soal mudik, di sini nggak ada sih. Warga lokal nggak punya tradisi mudik kayak di Indonesia. Tapi jalanan biasanya agak sepi karena banyak orang sibuk berkunjung ke rumah keluarganya. Budaya saling mengunjungi tetangga juga nggak terlalu umum. Mereka lebih sering kumpul sama keluarga inti,” kata Gabriel.
Ia mengungkapkan, Ttapi komunitas Indonesia di Abu Dhabi biasanya bikin acara open house. Walaupun itu umumnya baru dimulai di hari kedua Lebaran.
“Di hari pertama sih, jarang banget ada yang langsung ngundang. Mungkin karena pengumuman Lebarannya juga kadang mepet. Buat saya pribadi, ini udah tahun ke-13 saya tinggal di Abu Dhabi, dan mungkin Lebaran saya yang ke-10 atau 11 di sini. Jadi ya udah terbiasa. Tapi tetap aja, Lebaran di Indonesia tuh rasanya lebih bermakna,” ujarnya.
Gabriel juga menceritakan makanan khas di Abu Dhabi. Biasanya nasi dan kambing. Kadang ada juga yang potong unta, tapi itu biasanya yang mampu secara finansial.
‘Nah, untuk kita orang Indonesia, setelah salat Ied di Masjid Jokowi, biasanya langsung diarahkan ke KBRI. Di sana ramai banget, bisa lebih dari seribu orang kumpul. Kita disuguhi lontong sayur, terus ada juga pentas seni dan musik. Suasananya ramai dan seru, bisa silaturahmi sama banyak orang. Bahkan Pak Dubes, Bapak Husin Bagis, juga ngadain open house di sana. Jadi bisa makan dua kali tuh, hehe,” paparnya.
Kalau makanan manisan atau kue khas Emirat pas Lebaran, menurut Gabriel, saya tidak terlalu lihat banyak. “Mungkin karena saya lebih banyak kumpul sama komunitas Indonesia, jadi yang dominan ya makanan kita sendiri. Budaya berbagi makanan juga nggak begitu kelihatan, tapi kampus saya sempat ngirimin lima piring besar daging kambing ke mahasiswa, jadi lumayan terasa perhatian dari mereka,” tuturnya.
Namun, ada satu catatan khusus dari Gabriel, bahwa komunitas Indonesia di Abu Dhabi sangat solid pas Lebaran. “Karena kita semua jauh dari rumah, kita berusaha banget buat saling support dan menghadirkan suasana Lebaran seperti di tanah air. Mulai dari salat bareng, halal bihalal, open house, sampai kumpul di KBRI,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Suasana kekeluargaan ada, tapi tentu nggak bisa dibandingin sama di kampung halaman. Yang jelas, satu hal yang nggak ada di sini adalah bagi-bagi THR, haha. Tapi setidaknya rasa kebersamaan itu tetap terasa, dan itu yang bikin Lebaran di Abu Dhabi tetap punya makna.”