Bagaimana Cara Indonesia Menjadi Unggul Agar Dapat Bersaing Secara Global?

Bagaimana Cara Indonesia Menjadi Unggul Agar Dapat Bersaing Secara Global?

Milenianews.com – Akhir-akhir ini, anak muda Indonesia lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk berdiam diri, atau sekadar berkumpul hanya nongkrong-nongkrong tidak pasti. Padahal, jika ingin, mereka bisa menggunakan waktunya untuk menggali dan mengenali keahlian serta potensi yang dimiliki.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), usia produktif diukur dari rentang umur 15 hingga 64 tahun. Ini artinya, mulai dari mereka menginjak bangku Sekolah Dasar (SD) hingga mereka sudah pensiun di masa pekerjaannya, selama mereka mau, masih bisa disebut sebagai usia produktif.

Komposisi penduduk menurut usia sangatlah penting untuk diperhitungkan, agar pemerintah bisa menentukan kebijakan kedepannya. Bukan hanya berdasarkan komposisi umur atau rentan usia saja, namun juga tentang SDM nya tersendiri, Indonesia terkenal sebagai negara yang berkembang.

Baca juga : Perspektif Generasi Muda Terhadap Pancasila Sekarang

Usia produktif tentunya terbilang banyak di Indonesia, tapi pertanyaannya apakah sumber daya manusianya juga memiliki keunggulan?

Karena kemajuan suatu bangsa akan terikat dengan masyarakat yang ada pada negara itu sendiri, jadi suatu negara harus dengan sebaik mungkin menyiapkan para generasi penerusnya, agar bisa lebih unggul sehingga mampu bersaing secara global.

Kita seharusnya sudah menyadari bahwa masa depan suatu organisasi dan negara, bergantung pada kualitas SDM nya. Sehingga kita harus menyiapkan SDM dengan sebaik mungkin karena yang harus kita percayai adalah persaingan ke depan akan semakin berat dan ketat. Jika kita tidak mempersiapkannya dari sekarang, akan kalah jauh.

Faktor keterlambatan masyarakat Indonesia juga bisa terlihat dari sisi penerimaan hal-hal baru. Seperti contohnya, kita tidak bisa menunggu teknologi agar menyamai kemampuan kita. Tapi seharusnya, kitalah yang bisa menggunakan teknologi tersebut dengan sebaik mungkin agar di masa depan kita sudah bisa unggul untuk bersaing secara global.

Fakta sekarang mengatakan, jika sebenarnya kita ini sudah mampu untuk masuk dan bersaing secara global. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bersaing di industri global seperti pasar ASEAN.

Seperti yang dikatakan oleh Haris Munandar selaku Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), ia mengatakan, “Agar bisa bersaing dengan negara lain, ada lima kunci utama yang harus dipenuhi di dalam negeri. Pertama, Indonesia harus mampu melakukan substitusi bahan baku, barang dan jasa impor. Kedua, peningkatan kemampuan logistik yang diiringi dengan penurunan ongkos distribusi. Ketiga, adanya bunga kredit perbankan yang rendah, sehingga industri di dalam negeri bisa mengembangkan kegiatan bisnisnya. Keempat, pekerja lokal tidak lagi melakukan aksi-aksi tuntutan kenaikkan upah. Kelima, pekerja lokal meningkatkan produktivitas sehingga tidak kalah dibandingkan pekerja asing”. Hal tersebut Haris utarakan pada saat menghadiri acara Pasar Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan implementasi pasar bebas di kawasan Asia Tenggara yang telah dilaksanakan secara bertahap sejak KTT ASEAN tahun 1992 di Singapura. Tujuan dibentuknya MEA untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan Asia Tenggara, untuk mendukung komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada tahun 2020.

Diharapkan, angka ini akan mencapai 41 persen dengan bantuan internasional. Menurut Harris, Kementrian Perindustrian Indonesia telah memberikan beragam insentif kepada pelaku industri sebagai penunjang pengembangan program tersebut.

Lalu kemudian, Bagaimana caranya untuk masuk pada persaingan pasar Global?

Pada suatu forum diskusi ada yang berpendapat jika sebelum masuk pada pasar Global, harusnya kita tahu dulu tips dan triknya seperti; Kita harus paham segmen pasar sendiri, yang mengacu pada strategi pengelompokkan calon pelanggan berdasarkan kebutuhannya.

Misalnya; pasar saat ini dan pasar baru, dimana kedua pasar ini memiliki strategi, analisis dan cara berpikir masing-masing yang pastinya berbeda. Jika dilihat lebih dekat, perbedaan antara keduanya adalah bahwa pasar saat ini, memiliki produk-produk terkenal dan hanya perlu memperdalam untuk meningkatkan daya jualnya. Namun, yang paling penting adalah memiliki analisis data tentang target pasar yang ingin kita tempuh

Jika kita mengacu pada usia produktif dan juga persaingan pasar global, Indonesia menjadi negara yang produktif pada bidang pangan dan papan.

Contoh bidang pangan: menjamurnya fast food yang walaupun harga pangan tidak stabil, tapi mereka masih saja menjalankan bisnis ini. Bisnis makanan dan kuliner adalah bisnis yang tidak akan pernah ada matinya.

Sedangkan papan: masih banyak masyarakat Indonesia yang kesulitan membeli rumah. Sehingga bagi orang yang pandai melihat peluang, hal ini menjadi acuan hadirnya rumah murah. Padahal tenor minornya sama saja. Disinilah produktifnya orang Indonesia, yang pandai melihat celah.

Hal penting lainnya adalah strategi, yang dapat digunakan untuk memasuki pasar internasional antara lain:

  • Lisensi

Lisensi menjadi salah satu hal utama di dunia industri. Hal ini memungkinkan keluarnya izin perusahaan asing agar bisa memproduksi produk kita, dengan membayar royalti. Strategi ini memiliki risiko paling rendah dibandingkan dengan strategi lainnya, akan tetapi, keuntungannya juga tidak maksimal..

  • Ekspor

Kegiatan ekspor, memungkinkan kita menjual produk ke luar negeri dengan keuntungan yang didapat akan lebih besar.

  • Waralaba (franchise)

Waralaba adalah perjanjian antara orang yang memiliki bisnis untuk menggunakan bisnis mereka yang dibuat sesuai pesanan.

  • Usaha patungan internasional dan aliansi strategis, dan
  • Investasi asing langsung (FDI)

Berbagai strategi yang tercantum diberi peringkat sesuai dengan tingkat eksposur, kontrol, risiko, dan potensi keuntungan yang diterima perusahaan dengan menggunakan strategi tersebut. Semakin tinggi laba yang dihasilkan, semakin besar risiko yang mungkin ditanggung perusahaan.

Baca juga : Pertarungan Ekonomi Global dan Usaha Manusia Mematikan Tuhan

Jika dilihat dari apa yang sudah diuraikan, penulis rasa Indonesia sudah siap untuk pasar global dengan mengangkat potensi yang dimiliki. Mulai dari SDM yang banyak dan juga ide kreatif dari masyarakat Indonesia sendiri, apalagi dengan dorongan pemerintah yang memberikan dukungan penuh untuk Indonesia masuk kedalam pasar global tersebut.

Sebagai salah satu contoh produk Indonesia yang namanya sudah masuk pasar dunia adalah Indomie. Kemudian ada Paper One dari Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang sudah masuk ke-80 negara.(Herlin Aprilianty)

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *