Milenianews.com, Bogor—Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwilsus Bogor dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Korwil Bogor menggelar buka puasa bersama di rumah Wakil Ketua Dewan Pakar Majelis Nasional (MN) KAHMI, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, Bogor, Jumat (15/3/2024).
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua ICMI yang juga Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria, mantan Menteri Kehutanan priode 204-2009 MS Kaban, Letjen TNI (Purn) Ediwan Prabowo (sekjen Kementerian Pertahanan periode 2004-2009), dan Prof. Ernan Rustiadi. Juga hadir sejumlah pengurus dan anggota ICMI dan KAHMI Pusat maupun Bogor, dosen, mahasiswa, serta sahabat-sahabat Prof Rokhmin Dahuri.
“Melalui acara buka puasa bersama ini kita harapkan iman dan takwa kita makin meningkat,” kata Ketua Panitia Prof Rizal Damanik, yang juga Deputi BKKBN saat membuka acara.
Ia menambahkan, acara buka puasa bersama itu sudah dilakukan secara rutin selama puluhan tahun oleh KAHMI, kemudian juga ICMI (yang lahir pada awal 1990-an). “Acara buka puasa bersama KAHMI Bogor ini sudah berjalan 40 tahun. Karena kami yakin bahwa silaturahmi memperpanjang umur dan menambah rezeki. Kami berterima kasih kepada Prof Rokhmin Dahuri yang telah berkenan menjadi tuan rumah acara buka puasa bersama ICMI dan KAHMI Bogor,” ujar Prof Rizal Damanik.
Selaku tuan rumah, Prof Rokhmin Dahuri mengaku sangat berbahagia bisa bersilaturahmi dengan sesama aktivis ICMI dan KAHMI. “Yang paling utama saya bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan kita semua yang menurunkan pedoman hidup yang paling sempurna yaitu Al Quran dan Al Hadits, dan kita juga bersyukur atas nikmat iman dan Islam, istiqamah dengan senantiasa diberikan jalan untuk bertakwa kepadaNya,” kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu.
Prof Rokhmin juga merasa tersanjung diberikan kepercayaan menjadi tuan rumah. Dia juga berharap dengan shalat berjamaah iman dan takwa kita makin meningkat. “Takwa itu bukan hanya dalam pengertian pasif, yakni menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya. Tidak kalah pentingnya takwa dalam makna aktif yaitu nahi munkar (mencegah kemunkaran),” ujar Prof Rokhmin yang juga Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004.

Rangkaian acara buka puasa bersama itu terdiri dari buka puasa (menikmati takjil), shalat Maghrib berjamaah, makan malam, shalat Isya dan Tarawih berjamaah dengan imam Al Hafidz Sheiikh Nidal Kamal Salim Abu Ajwa, MA dari Palestina (alumnus S2 Universitas Al Azhar, Mesir), tausiyah Ramadhan oleh pakar ekonomi syariah Prof Dr Syafi’i Antonio, pembacaan puisi oleh KH Ramilus, dan diskusi. Secara keseluruhan, rangkaian acara tersebut rampung pada sekitar pukul 22.25.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Syafi’i Antonio membahas makna puasa sebagai momentum transformasi diri agar menjadi lebih baik, sehingga berdampak pada perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi ICMI dan KAHMI diisi oleh para cendekiawan, dan baik-buruknya cendekiawan mempengaruhi baik-buruknya sebuah bangsa dan negara.
“Keberadaan ulama dan cendekiawan sangat vital terhadap baik buruknya keadaan suatu bangsa dan negara, sebab para ulama dan cendekiawan tersebut bisa menjadi penyeimbang pemerintah, dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah perbuatan munkar),” kata Prof Syafi’i Antonio.
Ia menegaskan, “Rusaknya suatu negara karena rusaknya pemerintah. Dan rusaknya pemerintah karena rusaknya ulama dan cendekiawan.”
Ia juga mengingatkan para jamaah tentang pentingnya menjadi entrepreneur. “Kita harus jadi intelektual dan entrepreneur. Hanya dengan itu, kita bisa istiqamah dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Muhammad SAW tidak hanya seorang nabi dan rasul, tapi juga seorang entrepreneur (pedagang). “Nabi Muhammad menjadi pedagang selama sekitar 27 tahun (dari umur 12 tahun sampai menjelang ia diangkat jadi rasul pada umur 40 tahun). Kemudian, ia menjadi nabi selama 23 tahun,” ungkapnya.
Allah Melihat Saya
Tidak kalah pentingnya, Prof Syafi’i mengingatkan tentang hikmah Ramadhan, yakni kemampuan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. “Pada saat kita berpuasa, hal-hal (makanan dan lain-lain) yang halal saja diharamkan sementara, apalagi yang haram. Melalui ibadah puasa Allah mengajarkan kepada kita untuk menahan makanan yang halal selama Ramadhan agar setelah Idul Fitri kita bisa menahan diri dari yang haram,” tegasnya.
Hal itu bisa terjadi, kata Prof Syafi’i karena “Kita merasa selalu dilihat oleh Allah. Puasa melahirkan kekuatan iman bahwa Allah melihat saya, menyaksikan saya. Kalau kekuatan Allah melihat saya ini ada di BUMN, ada di kantor Pajak dan lain-lain, dampaknya luar biasa. Orang tidak berani korupsi, karena dia yakin Allah selalu melihatnya.”
Prof Syafi’i juga mengingatkan pentingnya menjaga kehalalan rezeki. Seorang Muslim disuruh berpuasa untuk menghindarkan yang haram. Karena ada korelasi luar biasa antara makanan yang haram dan kerasnya hati. Makakan memepengaruhi pola pikir dan perilaku.
“Ramadhan mengingatkan kita tentang pentingnya halal: pendapatan kita, proses memperoleh harta, life style, banking, hingga market (pasar). Semuanya harus halal oriented (berorientasi kepada yang halal). Semua itu akan dihisab pada hari kiamat nanti,” tuturnya.

Senada dengan Prof Syafi’i Antonio, Ketua Umum ICMI Pusat Prof Arif Satria mengatakan hikmah Ramadhan sebagai momentum transformasi diri sangat penting rangka mencapai cita-cita Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang adil dan Makmur di bawah naungan Tuhan Yang Maha Pengampun).
Ia menjelaskan, pada bulan Ramadhan, trust (percaya) seseorang kepada orang lain meningkat. “Trust kita kepada orang lain meningkat. Karena kita yakin teman kita tidak mungkin ghibah (membicarakan kita), menyakiti kita, dan berbohong kepada kita. Ramadhan melahirkan integritas,” kata Prof Arif.
Baca Juga : Lemas Saat Puasa? Simak Rekomendasi Dosen FK IPB University Ini
Ia mengutip teori Francis Fukuyama (1995) dalam buku Trust : The Social Virtues and The Creations of Prosperity yang menyatakan bahwa salah satu ciri majunya ekonomi sebuah bangsa karena adanya interaksi. “Masyarakat dengan saling percaya diri dibangun karena integritas. Integritas dibangun karena kejujuran,” jarnya.
Ia menambahkan, hikmah trust pada Ramadhan ini sangat penting. Karena masyarakat yang rasa saling percayanya tinggi merupakan ciri masyarakat maju. Hidup dalam masyarakat yang saling percaya, maka silaturahminya terjaga dengan baik. Hal itu akan berbuah kolaborasi.
“Jadi, hikmah Ramadhan melahirkan integritas, silaturahmi, dan kolaborasi. Kolaborasi menghasilkan iovasi, dan hal itu akan berdampak kepada ekonomi suatu negara. Negara-negara yang ekonominya maju punya tingkat inovasi tinggi. Karena inovasi ujungnya kemajuan ekonomi,” papar Prof Arif Satria.