News  

Generasi Z Krisis Kesehatan Mental?

Gangguan Kesehatan Mental

Milenianews.com – Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan 2018, terdapat peningkatan terhadap penderita gangguan jiwa skizofrenia dari 1,7 permil menjadi 7 permil.

Gangguan mental emosional pada penduduk dibawah 15 tahun juga mengalami kenaikan dari 12 juta penduduk menjadi 20 juta penduduk. Kondisi tersebut diperburuk dengan adanya Covid-19 beberapa tahun lalu.

Baca juga : Self Diagnosis, Apakah Baik Untuk Kesehatan Mental?

Pada survei terbaru dari I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) pada tahun 2022 menemukan bahwa terdapat 1 dari 20 atau 5,5 persen remaja usia 10-17 tahun yang didiagnosis memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir.

Sementara, sekitar sepertiganya atau 34,9 persen, memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental atau tergolong orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).

Mengacu pada data Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia per 31 Desember 2022 mencapai 277,75 juta jiwa dengan didominasi oleh remaja. Paling banyak ialah berusia 10-14 tahun, yaitu 24,5 juta jiwa, dan 15-19 tahun sebanyak 21,7 juta jwa.

Maka dari itu, jika ditotal jumlah remaja berusia 10-19 tahun mencapai 46,2 juta jiwa. Oleh sebab itu, dengan persentase survei jumlah remaja yang tergolong ODGJ sebanyak 2,45 juta orang dan 16,1 juta remaja tergolong ODMK.

Amirah Ellyza Wahdi sebagai peneliti dari Fakutas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gajah Mada yang terlibat dalam survei tersebut menyebutkan bahwa, survei dilakukan sebagai bagian dari penelitian internasional.

Di mana hasil survey tersebut menemukan, gangguan cemas merupakan gangguan mental yang paling banyak dialami oleh remaja yang mencapai 26,7 persen. Disusul dengan masalah pemusatan perhatian atau hiperaktivitas mencapai 10,6 persen, depresi 5,3 persen, masalah perilaku 2,4 persen dan stress pascatrauma 1,8 persen.

Baca juga : Shawn Mendes Batalkan Konser : Fokus Kesehatan Mental!

Beberapa remaja juga melaporkan kecenderungan perilaku bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Di antara keseluruhan sempel, 1,4 persen melaporkan bahwa mereka memiliki keinginan untuk bunuh diri, o,5 persen telah membuat rencana, dan 0,2 persen telah mencoba melakukannya.

Terkait dengan perilaku menyakiti diri sendiri, tim peneliti menemukan, terdapat sebagian kecil (4,4 persen) dari remaja melaporkan pernah menyakiti diri sendiri secara sengaja, sementara 1 persen melaporkan bahwa mereka pernah melakukan dalam 12 bulan terakhir.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *