Milenanews.com, Jakarta – British International Investment (BII) bersama dengan lembaga keuangan pembangunan Inggris dan investor, FMO, Bank Pembanguan kewirausaahan Belanda serta Susi Partner mendirikan platform energi terbarukan berskala utilitas baru “SARA” (Sustainable Asia Renewable Asset) pada Rabu (22/1).
Platform tersebut didirikan untuk membangun portofolio proyek energi terbarukan di berbagai pasar Asia Tenggara yang terpilih, hingga akhir masa hidup dana SUSI Asia Energi Transition Fund (SAETF).
Baca juga: Hindari Kesalahan Ini Saat Cheating Day, Jangan Sampai Gagal Diet!
BII dan FMO berinvestasi sebesar USD70 juta (setara Rp 1.1 T) dan USD50 juta (setara Rp813 M) melalui komitmen investasi bersama, SARA dan SUSI Asia Energy Trasition Fund mendapat kenaikan nilai dari USD120 juta (Rp 19.5T) menjadi USD259 juta (setara Rp 42 T). Dana tersebut secara penuh didedikasikan untuk proyek infrastruktur energi berkelanjutan di Asia Tenggara.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), posisi Asia Tenggara semakin berkembang sebagai pusat manufaktur dan industri global. Hal ini diperkirakan akan menyumbang lebih dari seperempat pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035.
Hampir sebanyak 80% terdapat peningkatan permintaan energi di Asia Tenggara telah dipenuhi oleh bahan bakar fosil sejak 2010. Hal itu berdampak pada iklim dolar yang diinvestasikan dalam transisi energi di wilayah Asia yang tertinggi di dunia.
Srini Nagarajan, Head of Asia BII mengungkapkan bahwa sektor energi bersih di Asia Tenggara memiliki potensi yang besar dan sangat layak untuk menjadi sebuat investasi. Ia menyebut bahwa kontribusi lembaga keuangan terhadap hal itu sangat penting.
“Sektor energi bersi yang berkembang di Asia Tenggara menawarkan potensi besar untuk investasi iklim. Lembaga keuangan pembangunan seperti kami dapat memainkan peran penting dalam transisi ini,” ucapnya melalui rilis yang diterima Milenianews.com, pada Rabu (22/1).
Baca juga: SMP Prestasi Global-Depok Sukses Gelar “Research Trip: Eksplorasi Energi Terbarukan”
Sementara itu, Wymen Chan, Head of Asia SUSI Partner menyatakan bahwa meskipun terdapat perbedaan politik, ekonomi dan sosial di berbagai negara Asia Tenggara, hal itu memerlukan keahlian yang kuat. Namun ia percaya wilayah ini memberikanya peluang yang menarik.
“Meskipun karakteristik politk, ekonomi dan sosial yang berbeda di setiap negara di Asia Tenggara memerlukan keahlian khusus, kami percaya bahwa wilayah ini memberikan kami peluang yang sangat menarik untuk memberikan imbal hasil yang berdampak bagi klien kami. Dukungan dari lembaga-lembaga terkemuka sangat penting agar mendapat tambahan modal yang sangat dibutuhkan, guna membangun infrastruktur energi berkelanjutan di wilayah ini,” pungkasnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.