Milenianews.com, Yogyakarta – Langit Yogyakarta, Selasa malam, tak hanya gelap tapi juga mencekam. Di depan Polda DIY, ratusan orang berdiri dengan amarah yang tak lagi muat di terbendung. Massa membentangkan spanduk, meninggikan suara lewat pengeras, dan mengubah jalan ring road dari jalur lalu lintas menjadi panggung perlawanan. Kota yang biasa dijuluki kota pelajar itu pun memaksa warganya bertanya sekeras apa mereka harus berteriak agar suara mereka benar-benar didengar?
Aksi demonstrasi yang digelar Selasa (24/2) malam itu memprotes kekerasan aparat terhadap warga sipil. Amarah memuncak setelah kasus dugaan penganiayaan oleh oknum anggota Brimob di Maluku mencuat peristiwa yang menewaskan seorang siswa MTs berinisial AT (14). Nama yang semestinya sibuk dengan buku pelajaran, bukan menjadi tajuk duka nasional.
Baca juga: PSIM Yogyakarta Tahan Imbang Bali United 3-3 usai Tertinggal Tiga Gol di Bantul
Solidaritas untuk Korban, Amarah pada Aparat
Sejak pukul 18.00 WIB, ratusan massa memblokir jalan di depan Mapolda. Situasi sempat memuncak ketika terdengar suara letusan dari arah depan Mapolda. Sumbernya memang belum diketahui, tetapi dentuman itu langsung memecah barisan massa dan memaksa mereka berlarian menjauh dari halaman markas.
Aparat segera memperketat pengamanan. Polisi menutup sementara akses lalu lintas di kawasan Condongcatur dan mensterilkan jalan menuju Mapolda dari kendaraan warga untuk mencegah kericuhan meluas.
Kerumunan kembali memanas saat beberapa orang merusak pagar pembatas hingga roboh. Teriakan protes dan kekecewaan terhadap institusi kepolisian bergemuruh, saling bersahutan dengan instruksi aparat. Di tengah riuh itu, seorang peserta aksi menyebut kehadiran mereka sebagai bentuk solidaritas terhadap bocah malang yang menjadi korban. Solidaritas, katanya, adalah cara paling sederhana untuk memastikan korban tak hanya menjadi angka dalam laporan.
Dampak aksi terasa cepat. Sejumlah pertokoan di sekitar Mapolda memilih menutup pintu lebih awal bukan karena diskon besar-besaran, melainkan karena situasi yang memanas. Pakuwon Mall Yogyakarta yang berada tepat di seberang Polda menutup akses dari pintu utara, meski aktivitas di dalam gedung tetap berjalan.
Baca juga: Gejolak Demo 25 Agustus–2 September: Tuntutan Rakyat, Korban Jiwa, dan Respons Pemerintah
Kasus yang menjadi pemantik adalah dugaan penganiayaan oleh oknum Brimob Polda Maluku terhadap siswa MTs berinisial AT hingga tewas. Sebuah tragedi yang membuat banyak orang bertanya ketika aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi terlapor, ke mana warga harus berlindung?
Malam kian larut, tetapi ketegangan belum sepenuhnya reda. Demonstrasi mungkin bubar ketika lelah mengalahkan emosi. Namun gema pertanyaan itu masih tertinggal di udara Jogja apakah kemarahan ini akan berujung pada perubahan, atau sekadar menjadi catatan panjang dalam daftar kericuhan yang berulang?
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.












