Dunia yang absurd
Setelah selesai menonton film Taste of Cherry, yang juga karena faktor ketidaksengajaan yang membingungkan, ingatan saya langsung terlempar pada teori Absurditas yang ditulis oleh Albert Camus, si Sisifus yang sampai mampus dikutuk untuk membawa batu besar ke atas gunung dan sialnya ketika sampai puncak, batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah. Kejadian tersebut akan berulang terus-menerus persis sebuah lelucon yang memuakkan.
Begitu pula hal yang dirasakan Badii, dimana problem kenyataan sehari-hari manusia dalam keberadaanya. Badii merasa bahwa kehidupan amatlah absurd. Ia tak menemui makna dalam keterlemparannya ke dunia.
Satu-satunya cara yang menurutnya tepat untuk keluar dari kehidupan yang serba absurd ini, yaitu mengakhiri hidup.
Di tengah gelombang masalah eksistensial, Badii merasa perlu menentukan waktu ajalnya sendiri daripada hanya berserah hingga ajal menemuinya.
Albert Camus pernah mengatakan, “Hanya ada satu masalah filosofis yang sungguh-serius, dan itulah bunuh diri”. Tapi haruskah kita kalah dengan ke-absurdan dunia? Menariknya, Camus tidak melihat ketiadaan makna ini sebagai hal yang negatif.
Baginya, memahami bahwa hidup ini absurd adalah langkah awal untuk benar-benar menjalani hidup. Meskipun kita berada dalam dunia yang tampaknya tanpa makna, ini adalah tantangan yang bisa kita atasi, sama seperti kita mengatasi masalah-masalah lain dalam hidup.
Lalu, apa yang membuat hidup kita layak untuk dijalani? Menurut Camus, kita harus menemukan kebahagiaan dalam momen-momen kecil. Dia mengagumi matahari, keindahan alam, sentuhan cinta, tarian, dan nikmatnya makanan lezat.
“Apakah kau kehilangan segala harapan? Pernahkah kau lihat langit cerah ketika terbangun di pagi hari? Kala fajar, tidakkah kau ingin melihat matahari terbit? Pendar jingga dan merah matahari terbenam….Apakah kau ingin mengabaikan manisnya rasa ceri?” Hal ini pula yang dikatakan seorang ahli taksidermi (orang yang berprofesi menyiapkan, mengisi, dan memasang kulit hewan atau burung yang sudah mati agar tampak hidup) kepada Badii, setelah ia setuju untuk membantu menguburnya hidup-hidup, lantaran anaknya butuh uang untuk berobat.
Kesadaran tentang mental health
Kesadaran akan dunia yang absurd ini, belakangan banyak menghantui generasi milenial, yang mengakibatkan kesehatan mental (mental health) mereka terganggu. Ironisnya di Indonesia sendiri, kelainan mental menempati urutan tujuh ke atas pada anak-anak, remaja, dan usia produktif sebagai beban kesehatan. Bahkan, kasus bunuh diri dilaporkan sebanyak 826 kasus pada tahun 2022, di mana jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Di dunia pendidikan khususnya, pihak pengajar perlu dibekali keterampilan memahami dan menanggapi dampak trauma pada kehidupan peserta didik.
Baca juga: Kenali Jenis Gangguan dan Penyebab Kesehatan Mental di Sini!
Pendekatan yang disebut sebagai trauma-informed practice ini menekankan keselamatan fisik, psikologis, dan emosional bagi setiap orang dengan tujuan memberdayakan individu agar dapat kembali mengendalikan kehidupan mereka.
Kesadaran untuk membangun sistem pendukung di lingkup pendidikan ini harus diinisiasi institusi pendidikan itu sendiri. Namun kondisi sistem pencegahan bunuh diri di Indonesia secara keseluruhan belum optimal. Misalnya, penggunaan BPJS Kesehatan untuk mengakses layanan psikiater harus menunggu berminggu-minggu. Lalu, saluran siaga yang ada di Indonesia juga belum ada yang berkelanjutan.
Salah satu cara yang ditawarkan Camus untuk setiap individu bisa hidup berdampingan dengan ke-absurdan, “Bayangkan saja bahwa Sisifus bahagia.”
Penulis : Shankara Araknahs
Profil singkat : Penyair dan Esais yang karyanya tersebar di berbagai macam platform media online, antara lain omong-omong.co, basa-basi.co, dan masih banyak lagi.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.