Polusi Udara Jakarta Memburuk, dan Pentingnya Peran Corporate Social Responsibility (CSR)

Hudan Baehaqi, Mahasiswa STEI SEBI. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Mata Akademisi– Di tengah kehidupan hiruk-pikuk sebuah metropolis modern, Jakarta, ibu kota Indonesia, merangkak terus dalam krisis yang tak terlihat namun begitu merugikan: polusi udara. Seiring berjalannya waktu, kondisi udara yang semakin memburuk menjadi ancaman nyata bagi kesehatan warga kota dan kualitas lingkungan hidup. Dalam konteks ini, sebuah pertanyaan muncul dengan kuat: apakah perusahaan-perusahaan yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi Jakarta telah memahami dan memenuhi tanggung jawab sosialnya, khususnya dalam mengatasi polusi udara?

Buruknya Kualitas Udara di Ibu Kota Jakarta

Bersumber dari jurnal (Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), 2020), Pencemaran udara di Jakarta menjadi permasalahan serius. Pertumbuhan industrialisasi dan urbanisasi yang cepat telah menyebabkan peningkatan pencemaran udara yang berkelanjutan. Situasinya telah mencapai titik di mana tingkat pencemaran udara telah tiga kali lipat lebih parah daripada konsentrasi yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (Lihat Gambar 1), dengan konsekuensi buruk terhadap kesehatan masyarakat semakin memburuk. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia pada tahun 2010, hampir 60 persen penduduk Jakarta mengalami penyakit pernapasan yang terkait dengan buruknya kualitas udara.

Pada sisi lain, jumlah emisi yang dapat diidentifikasi, seperti yang berasal dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara, sarana transportasi, dan fasilitas manufaktur, telah mengalami peningkatan. Kegiatan produksi dan konsumsi batu bara, minyak, dan gas dari sumber-sumber ini menghasilkan sejumlah besar pencemar yang dilepaskan ke atmosfer. Dampaknya terasa pada kualitas udara di sekitar wilayah tersebut, bahkan mencapai ratusan kilometer sejauh arah angin berhembus.

Mengenai faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kualitas udara di Jakarta, terdapat dua pandangan yang saling kontradiktif. Berdasarkan keterangan dari Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, yang dilaporkan oleh portal berita Kompas pada tanggal 21 September 2023, ia menyatakan bahwa sektor transportasi merupakan penyebab utama pencemaran udara di DKI Jakarta, mencapai 44 persen. Pernyataan ini didukung oleh peningkatan jumlah kendaraan baru dan masih beroperasinya kendaraan tua.

Selain kehadiran kendaraan, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar juga turut berkontribusi sebagai penyebab polusi di DKI Jakarta. Terhitung sebanyak 16 PLTU yang berada di sekitar DKI Jakarta, Selain itu, ada juga industri manufaktur yang menjadi biang keladi dari memburuknya udara di DKI Jakarta. Menurut informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), terdapat 1.326 perusahaan yang beroperasi di wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Dari jumlah yang begitu banyak tersebut, menghasilkan total polutan sebanyak 352.650 ton yang terdiri SO2, NOx, dan PM yang berkontribusi pada peningkatan polusi udara di DKI Jakarta (Furqon, 2023).

Setelah kita melihat beberapa data yang dipaparkan di  atas terdapat benang merah yang dapat menyebabkan memburuknya kualitas udara di ibu kota negara Indonesia ini yaitu dari transportasi pribadi seperti motor dan mobil yang semakin bertambah dan kendaraan tua yang tetap beroprasi, sektor rumah tanggal seperti pembakaran sampah atau daun dan asap dari masakan, dan dari sektor industri seperti efek rumah kaca dan limbah udara dari pabrik pabrik yang beroprasi.

Pentingnya Peran Corporate Social Responsibility (CSR)

Dalam pandangannya (Purwanto, 2023) menuliskan peran perusahaan dapat diwujudkan dalam corporate social responsibility (CSR), yang merupakan bentuk kepekaan, kepedulian dan tanggung jawab sosial perusahaan untuk berkontribusi memberikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungan tempat perusahaan beroperasi. Hal ini dikarenakan semakin banyak perusahaan yang terlibat dalam program CSR, maka semakin besar pula kesadaran dan kepekaan terhadap polusi udara, serta berkomitmen untuk menerapkan pengembangan inovasi ramah lingkungan.

Peran Corporate Social Responsibility (CSR) dalam mengatasi polusi udara di Jakarta memiliki dampak signifikan. Salah satu langkah utama yang dapat diambil oleh perusahaan adalah investasi dalam teknologi bersih, seperti kendaraan listrik, teknologi ramah lingkungan di fasilitas industri, dan energi terbarukan. Hal ini tidak hanya mengurangi emisi polutan udara tetapi juga mendorong transisi ke solusi berkelanjutan.

Edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam perbaikan kualitas udara. Program CSR dapat mengedukasi masyarakat melalui kampanye penyuluhan, workshop, dan kegiatan sosial untuk meningkatkan pemahaman mengenai dampak polusi udara dan tindakan konkret yang dapat diambil. Kesadaran ini menjadi dasar perubahan perilaku yang mendukung upaya menjaga kualitas udara.

Pemantauan dan pelaporan lingkungan menjadi aspek penting dari peran CSR, menciptakan transparansi melalui pemantauan dan pelaporan dampak lingkungan, termasuk emisi polutan udara. Ini bukan hanya bentuk akuntabilitas sosial perusahaan tetapi juga memberikan informasi untuk dievaluasi oleh publik dan pihak terkait.

Inovasi berkelanjutan menjadi langkah proaktif lainnya yang dapat diambil melalui CSR. Perusahaan dapat mendorong penggunaan bahan baku ramah lingkungan, mengembangkan produk hijau, dan meningkatkan proses produksi yang bersih, memberikan solusi jangka panjang.

Partisipasi dalam program pemulihan lingkungan menjadi tahap lanjut dari peran CSR. Melalui penanaman pohon, rehabilitasi lahan terdegradasi, dan proyek pemulihan ekosistem lainnya, perusahaan berkontribusi pada upaya pemulihan lingkungan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Secara keseluruhan, peran CSR bukan hanya memberikan solusi konkret untuk mengatasi polusi udara di Jakarta tetapi juga membangun kesadaran, partisipasi, dan kolaborasi dalam menjaga kualitas udara. Dengan mengambil langkah-langkah ini, perusahaan dapat berperan sebagai agen perubahan positif yang berkelanjutan.

Beberapa program CSR yang sudah dijalankan untuk mengatasi polusi udara di Jakarta:

  1. Program CSR Polytron

Program ini berlangsung dari September hingga Oktober 2023. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh anak-anak sekolah dasar di Jakarta. Program ini juga mendorong penggunaan masker dan memberikan edukasi.

  1. Program TJSL TASPEN

Program ini menanam dan membagikan 1.000 pohon di kantor TASPEN Group di Jabodetabek.

  1. Program CSR PT Johnson

Program ini menanam pohon untuk mendukung penghijauan dan mengurangi polusi udara di Jakarta.

Kesadaran terhadap lingkungan merupakan langkah nyata untuk melindungi kesehatan kita terutama menjaga kebersihan udara. Setiap langkah kecil kita untuk mengurangi polusi udara adalah investasi dalam kesehatan diri kita dan generasi mendatang nantinya.

Penulis: Hudan Baihaqi Malik, Mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *