Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Filsafat Ilmu di Era Modern

Filsafat Ilmu

Milenianews.com, Mata Akademisi — Kajian filsafat ilmu dalam memahami suatu konsep ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari tiga pilar utamanya, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga pilar ini menjadi fondasi dasar dalam menelaah hakikat ilmu, cara memperoleh pengetahuan, serta tujuan dan nilai dari penggunaan ilmu itu sendiri.

Dalam konteks teori kepribadian Sigmund Freud, telaah ontologis memandang manusia sebagai organisme kompleks yang menjadi sumber energi. Karl Popper menjelaskan bahwa energi manusia diperoleh dari makanan dan kemudian digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti sirkulasi darah, pernapasan, gerak otot, pengamatan, berpikir, hingga mengingat. Freud menegaskan bahwa energi yang digunakan untuk bernapas dan mencerna pada hakikatnya sama dengan energi yang digunakan untuk berpikir dan mengingat, perbedaannya hanya terletak pada bentuk manifestasinya.

Secara epistemologis, psikoanalisis bertumpu pada observasi dan interpretasi terhadap perilaku manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan Auguste Comte yang menyatakan bahwa observasi merupakan dasar utama dalam memperoleh pengetahuan. Sementara itu, dari sisi aksiologi, psikoanalisis menempatkan alam bawah sadar sebagai faktor utama yang memengaruhi tindakan dan perilaku manusia. Oleh karena itu, untuk memahami konsep Freud secara utuh, diperlukan analisis melalui tiga pilar filsafat ilmu agar jelas bagaimana hakikat manusia dipahami, bagaimana pengetahuan diperoleh, dan untuk apa teori tersebut digunakan dalam praktik psikologi.

Ontologi: Hakikat Keberadaan dalam Ilmu

Ontologi merupakan cabang filsafat ilmu yang membahas tentang apa yang ada, baik yang bersifat fisik maupun abstrak. Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, ontos yang berarti ada dan logos yang berarti ilmu. Dalam konteks ilmu pengetahuan, ontologi berfokus pada pertanyaan mengenai realitas dan struktur keberadaan.

Dalam metafisika, ontologi mempertanyakan hakikat alam semesta, seperti apakah realitas tersusun dari satu unsur atau banyak unsur, apakah dunia bersifat tetap atau selalu berubah, serta apakah realitas bersifat aktual atau sekadar potensi. Konsep being qua being menegaskan bahwa ontologi merupakan kajian tentang keberadaan itu sendiri, terlepas dari perubahan yang terjadi.

Di era kontemporer, ontologi memiliki relevansi yang semakin besar, terutama dalam memahami realitas digital dan perkembangan kecerdasan buatan seperti AI dan ChatGPT. Ontologi juga membantu menjelaskan fenomena dalam psikologi klinis, misalnya apakah trauma dan kecemasan merupakan realitas objektif atau subjektif. Dengan demikian, ontologi berperan penting dalam membantu manusia memahami kompleksitas realitas modern.

Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi

Epistemologi: Cara Memperoleh dan Memvalidasi Pengetahuan

Epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kajian atau renungan. Epistemologi membahas asumsi dasar yang memungkinkan pengetahuan diperoleh serta bagaimana suatu pengetahuan dapat dinilai benar dan objektif.

Menurut Mohammad Adib, epistemologi menelaah metode atau cara memperoleh pengetahuan. Simon Blackburn juga menegaskan bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji asal-usul, sifat, dan jenis-jenis pengetahuan. Dalam era modern yang dipenuhi arus informasi, epistemologi menjadi sangat penting karena manusia dihadapkan pada informasi yang belum tentu benar.

Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan memunculkan persoalan epistemologis baru, seperti dari mana AI memperoleh informasi dan sejauh mana jawabannya dapat dipercaya. Selain itu, media sosial juga berperan besar dalam pembentukan opini publik. Banyaknya hoaks dan disinformasi menjadikan epistemologi sebagai alat penting untuk memilah mana informasi yang valid, bias, atau menyesatkan.

Aksiologi: Nilai dan Etika dalam Ilmu Pengetahuan

Aksiologi adalah cabang filsafat yang mengkaji hakikat nilai, khususnya nilai yang membimbing manusia dalam menggunakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu seharusnya membawa kemaslahatan dan kebaikan bagi kehidupan manusia, bukan sebaliknya.

Dalam konteks modern, aksiologi sangat relevan dengan persoalan etika penggunaan teknologi. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut adanya pertimbangan nilai agar teknologi tidak bersifat diskriminatif, melanggar privasi, atau merendahkan martabat manusia. Oleh karena itu, aksiologi memastikan bahwa ilmu dan teknologi digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

Eksistensi ilmu tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang final. Ilmu perlu terus dikritisi dan dikaji agar dapat ditempatkan secara tepat. Tanpa landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi, ilmu berisiko kehilangan arah, metode, dan tujuan, sehingga dapat disalahgunakan atau menjadi tidak relevan.

Di era modern yang ditandai oleh percepatan teknologi dan digitalisasi, pemahaman terhadap ontologi, epistemologi, dan aksiologi menjadi semakin penting. Ontologi membantu memahami bentuk-bentuk realitas baru, epistemologi memastikan cara memperoleh pengetahuan yang benar, dan aksiologi mengarahkan penggunaan ilmu agar tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.

Secara keseluruhan, ketiga pilar filsafat ilmu tersebut membentuk fondasi yang utuh bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan memahami dan menerapkannya, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan teknologi secara bijaksana, tidak hanya untuk kemajuan teknis, tetapi juga untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan dan bermartabat.

Penulis: Lintang Yun Lael

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *