Milenianews.com, Mata Akademisi– Ekonomi Islam bukan sekadar sistem ekonomi alternatif; ini adalah paradigma yang berlandaskan pada ajaran Islam yang menyeluruh ke dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Prinsip dasarnya mengedepankan konsep keadilan, distribusi kekayaan yang adil, dan penghapusan praktik riba atau bunga.
Di era modern ini, ekonomi Islam semakin mendapatkan perhatian dan dianggap relevan sebagai solusi terhadap beberapa persoalan ekonomi global, termasuk ketimpangan ekonomi dan krisis keuangan.
Pengertian ekonomi Islam sering kali dikaitkan dengan penerapan prinsip syariah dalam kegiatan ekonomi. Menurut Chapra (2000), ekonomi Islam berupaya untuk menciptakan keadilan ekonomi melalui distribusi dan penggunaan sumber daya yang adil.
Sejarah mencatat bahwa sistem ekonomi ini telah diterapkan sejak zaman kekhalifahan Islam, mengalami evolusi dan adaptasi dengan kondisi sosioekonomi yang berubah-ubah.
Relevansi di era modern tidak hanya terbatas pada umat Islam, tetapi juga menawarkan perspektif baru dalam mengatasi persoalan ekonomi global, seperti pengurangan ketimpangan dan penciptaan stabilitas ekonomi.
Prinsip Dasar Ekonomi Islam
Ekonomi Islam diantarai oleh prinsip tauhid, yang menekankan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah SWT dan manusia hanyalah sebagai pengelola.
Prinsip tauhid membentuk pandangan bahwa aktivitas ekonomi bukan hanya transaksi material semata, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.
Ini mendorong praktik ekonomi yang adil, transparan, dan bertanggung jawab. Selain itu, sangat menentang riba atau bunga, yang dianggap bisa memicu ketidakadilan dan ketidakstabilan ekonomi.
Prinsip ini mencerminkan upaya untuk membentuk sistem ekonomi yang adil dan berkesinambungan untuk semua pihak.
Di sisi lain, konsep distribusi kekayaan dalam sistem ini melalui zakat dan waqaf menonjolkan keunikannya. Zakat tidak sekedar sebagai kewajiban religius, tetapi juga sebagai alat redistribusi kekayaan yang efektif.
Waqf, atau donasi permanen, berfungsi sebagai sarana pembangunan dan pemeliharaan fasilitas publik. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial.
Sistem Ekonomi Islam
Dalam praktiknya, sistem ekonomi ini mengintegrasikan prinsip syariah ke dalam instrumen dan operasional ekonomi. Perbankan Islam menjadi salah satu contoh nyata penerapannya.
Lembaga keuangan ini menawarkan produk tanpa riba seperti mudharabah (bagi hasil) dan murabahah (jual beli dengan keuntungan yang disepakati).
Ini bertujuan untuk menciptakan sistem keuangan yang adil dan transparan, di mana kedua belah pihak, baik bank maupun nasabah, berbagi risiko dan keuntungan secara adil.
Selain itu, pasar modal syariah dan investasi syariah juga menawarkan alternatif bagi mereka yang ingin berinvestasi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Prinsip tidak menginvestasikan dalam bisnis yang haram (misalnya, alkohol, judi) dan partisipasi aktif dalam praktik ekonomi yang bertanggung jawab secara sosial, menunjukkan bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai etis dalam kegiatan ekonomi.
Ekonomi Islam vs Ekonomi Konvensional
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada prinsip ganda ekonomi Islam yang mencakup aspek material dan spiritual.
Dalam ekonomi konvensional, fokus utama adalah pada pertumbuhan ekonomi dan akumulasi kekayaan tanpa mempertimbangkan aspek etis atau distribusi kekayaan yang adil.
Walaupun menghadapi tantangan dalam penerapannya di skala global, manfaat potensialnya dalam menciptakan keadilan sosial dan kestabilan ekonomi menjadikannya alternatif yang layak.
Studi kasus dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Uni Emirat Arab, menunjukkan potensi ekonomi Islam dalam mempromosikan pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan.
Inisiatif seperti Dubai Islamic Economy Development Centre menekankan pada inovasi dan pengembangan kapasitas sebagai kunci untuk menjawab tantangan global.
Dampak dan Manfaat Ekonomi Islam
Implementasi ekonomi Islam telah menunjukkan manfaat dalam berbagai aspek, dari pengurangan ketimpangan ekonomi hingga pembangunan yang berkelanjutan.
Prinsip keadilan dan distribusi kekayaan yang adil telah mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif, mengurangi ketimpangan dan meningkatkan kesejahteraan sosial.
Selain itu, pendekatan ekonomi Islam terhadap manajemen risiko dan keuangan yang berhati-hati menawarkan solusi bagi ketidakstabilan ekonomi dan krisis keuangan.
Pengembangan dan Masa Depan Ekonomi Islam
Meskipun tantangan masih ada, masa depannya tampak cerah dengan peran yang terus bertambah dalam perekonomian global.
Lembaga internasional seperti Islamic Financial Services Board (IFSB) memainkan peran penting dalam promosi dan penyebaran standar produk keuangan Islam.
Inovasi dan adaptasi terus terjadi, dengan teknologi fintech syariah yang muncul sebagai sarana baru dalam menawarkan layanan keuangan yang sesuai dengan prinsip Islam.
Hubungan Ekonomi Islam dan Pembangunan Berkelanjutan
Pentingnya ekonomi Islam tidak hanya terletak pada aspek finansialnya saja, tetapi juga pada kontribusinya dalam pembangunan berkelanjutan.
Konsep Maqasid al-Shariah, yang merujuk pada tujuan atau objektif hukum Islam, memberikan kerangka kerja dalam ekonomi Islam yang mendukung keadlian sosial, perlindungan lingkungan, dan pengelolaan sumber daya secara bijak, yang sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam praktiknya, juga mendukung kegiatan usaha yang mengejar keuntungan tetapi tetap memperhatikan kerusakan lingkungan dan eksploitasi berlebihan yang tidak berkelanjutan.
Dengan memokuskan pada aspek keberlanjutan ini, dapat dikatakan sejalan dengan tren global terkini yang menggarisbawahi kebutuhan akan ekonomi hijau (green economy) dan inisiatif ramah lingkungan.
Teknologi dan Digitalisasi dalam Ekonomi Islam
Era modern juga memperkenalkan peran teknologi dan digitalisasi yang kian meningkat dalam sistem-sistem ekonomi. Ekonomi Islam tidak terkecuali dan telah mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Penggunaan teknologi blockchain, contohnya, memiliki potensi untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam transaksi keuangan Islam.
Platform-platform fintech syariah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menyediakan akses yang lebih mudah kepada produk-produk keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, seperti peer-to-peer lending dan crowdfunding yang syariah-compliant.
Kesimpulan
Ekonomi Islam menawarkan lebih dari sekedar alternatif terhadap sistem ekonomi konvensional; ia menawarkan model yang menyeluruh yang mengintegrasikan nilai-nilai etis, keadilan, dan pertimbangan sosial ke dalam praktik ekonomi.
Dengan pendekatan yang berakar pada prinsip syariah, sistem ekonomi ini memiliki potensi untuk menyumbang solusi yang berkelanjutan dan inklusif terhadap banyak tantangan ekonomi global saat ini.
Penulis: Muhammad Roihan, Mahasiswa STEI SEBI.