Milenianews.com, Mata Akademisi – Bunga sukuk menjadi salah satu instrumen yang tengah dipertimbangkan pemerintah untuk dinaikkan demi menarik minat investasi asing. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi rupiah di tengah tekanan eksternal, seperti penguatan dolar AS dan kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed.
Dengan meningkatnya bunga sukuk, pemerintah berharap para investor asing akan lebih tertarik untuk berinvestasi di Indonesia, sehingga aliran modal masuk dapat membantu menahan pelemahan rupiah. Namun, pertanyaannya adalah apakah kebijakan ini akan cukup efektif sebagai solusi jangka panjang, mengingat tantangan global yang masih berlanjut dan ketidakpastian ekonomi yang tetap tinggi?
Baca juga: Rupiah Merosot, Rakyat Terdampak, Apa Solusinya?
Seberapa Efektif Daya Tarik Sukuk dalam Menarik Modal Asing?
Menawarkan imbal hasil lebih tinggi pada sukuk memang diharapkan dapat menarik investor asing, terlebih karena sukuk telah menjadi instrumen utama pemerintah untuk pendanaan infrastruktur dan kebutuhan fiskal lainnya. Dengan bunga yang lebih tinggi, sukuk bisa menjadi lebih kompetitif dibandingkan instrumen investasi dari negara lain, dan tentu saja menarik perhatian investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia.
Arus masuk modal asing ini diharapkan meningkatkan permintaan terhadap rupiah, memberikan tekanan ke atas pada nilai tukar, serta mendukung proyek-proyek pembangunan yang berpotensi memperkuat ekonomi kita. Namun, apakah hal ini benar-benar akan menjadi faktor pembeda? Sebagian mungkin berpikir langkah ini bisa berhasil, tapi ada juga yang meragukan apakah sekadar menarik investor asing cukup untuk menjaga stabilitas rupiah.
Risiko Tersembunyi dari Kenaikan Bunga Sukuk
Menaikkan bunga sukuk juga bukan tanpa risiko, dan bahkan bisa saja menambah tekanan pada anggaran negara dalam jangka panjang. Sukuk adalah utang, dan kenaikan bunga otomatis berarti beban pembayaran bunga meningkat. Dengan kondisi keuangan yang kerap kali harus berjuang menyeimbangkan berbagai kebutuhan, tambahan beban ini bisa membatasi ruang fiskal untuk belanja lain yang juga penting, seperti pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial.
Apakah kita benar-benar ingin memperbesar defisit anggaran demi imbal hasil yang mungkin hanya efektif dalam jangka pendek?
Di samping itu, kebijakan ini bisa memicu dampak berantai dalam sektor keuangan domestik. Ketika sukuk menawarkan imbal hasil lebih tinggi, investor mungkin akan beralih dari instrumen domestik seperti obligasi korporasi atau deposito, yang bisa mengurangi likuiditas dalam pasar keuangan domestik. Ini tentu akan memengaruhi sektor swasta, terutama jika biaya pinjaman meningkat sebagai dampak dari pergeseran minat investor.
Bagi pelaku usaha, terutama yang beroperasi di sektor riil dan usaha kecil-menengah, kenaikan suku bunga akan memberatkan operasional mereka, sehingga mungkin saja kita malah memperlambat pertumbuhan ekonomi di sektor riil.