Fenomena Silent Quitting di Kalangan Pekerja Muda

Fenomena Silent Quitting di Kalangan Pekerja Muda

Milenianews.com – Fenomena silent quitting di kalangan pekerja muda belakangan ini makin sering jadi topik perbincangan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sikap karyawan yang tetap menjalankan tugas sesuai jobdesk, tapi memilih berhenti memberikan usaha ekstra, ide tambahan, atau keterlibatan emosional di tempat kerja.

Alih-alih mengajukan resign secara resmi, pelaku silent quitting memilih bertahan secara fisik, sementara secara mental mulai menarik diri. Mereka tetap hadir dan menyelesaikan pekerjaan utama, namun semangat untuk berkembang atau berkontribusi lebih bagi perusahaan perlahan menghilang.

Baca juga: Cara Ampuh Mengenbalikan Semanggat Kerja Kala Lelah Fisik!

Apa itu silent quitting?

Silent quitting bukan berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja. Justru sebaliknya, konsep ini menekankan keputusan pekerja untuk memasang batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka memilih tidak bekerja di luar jam kantor, menolak beban kerja berlebih, serta fokus menyelesaikan tugas sesuai tanggung jawab.

Dalam praktiknya, fenomena ini banyak muncul di kalangan Gen Z dan milenial. Generasi muda mulai lebih sadar akan makna kerja, pentingnya work-life balance, serta menjaga kesehatan mental. Bekerja keras tetap penting, tapi bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri.

Penyebab silent quitting di kalangan pekerja muda

Silent Quitting

Ada beberapa faktor yang paling sering mendorong munculnya silent quitting, khususnya di kalangan pekerja muda.

1. Burnout berkepanjangan.

Beban kerja tinggi yang berlangsung lama tanpa jeda atau dukungan membuat pekerja kelelahan secara mental. Akibatnya, keterlibatan emosional pun diturunkan sebagai bentuk bertahan.

2. Minimnya apresiasi dari perusahaan.

Usaha ekstra kerap dianggap sebagai kewajiban, bukan nilai tambah. Padahal, bagi pekerja muda, apresiasi menjadi faktor penting untuk menjaga motivasi.

3. Budaya kerja yang toxic.

Lingkungan kerja penuh tekanan, komunikasi satu arah, serta minim empati membuat pekerja cepat lelah secara emosional. Perlahan, mereka memilih menarik diri.

4. Ketidakseimbangan work-life balance.

Kesadaran akan pentingnya waktu pribadi membuat pekerja muda lebih tegas soal batas kerja. Ketika batas itu terus dilanggar, silent quitting jadi pilihan paling masuk akal.

5. Tidak adanya kejelasan karier.

Saat perusahaan tidak memberikan arah pengembangan yang jelas, keterikatan emosional karyawan ikut menurun. Pada titik ini, bertahan tanpa keterlibatan penuh dianggap sebagai jalan tengah.

Dampak silent quitting bagi perusahaan

Meski terlihat sepele, silent quitting membawa dampak nyata bagi perusahaan. Produktivitas tim cenderung menurun karena karyawan hanya bekerja sebatas yang diwajibkan. Selain itu, inovasi juga melambat karena minimnya inisiatif dan ide segar.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan angka turnover. Banyak karyawan sebenarnya sudah bersiap untuk pergi, hanya saja belum menyampaikannya secara terbuka. Akibatnya, perusahaan kehilangan talenta secara perlahan tanpa disadari.

Silent quitting tidak selalu berdampak buruk. Di satu sisi, sikap ini menjadi bentuk perlindungan diri dari kelelahan mental. Dengan menetapkan batas kerja, pekerja berusaha menjaga kesehatan fisik dan psikologis.

Namun di sisi lain, jika tidak dibarengi komunikasi yang sehat, silent quitting justru bisa merugikan kedua belah pihak. Karyawan terjebak dalam ketidakpuasan, sementara perusahaan kehilangan keterlibatan dan loyalitas timnya.

Cara mengatasi fenomena silent quitting

Untuk mengatasi kondisi ini, perusahaan perlu membuka ruang dialog yang jujur dengan karyawan. Budaya apresiasi, pengelolaan beban kerja yang manusiawi, serta kejelasan arah karier menjadi kunci utama.

Baca juga: Siap Hadapi Dunia Kerja 2026? Upgrade 8 Skill Penting Ini

Di sisi lain, pekerja juga perlu berani menyampaikan aspirasi dan harapan mereka secara terbuka. Dengan komunikasi dua arah yang sehat, silent quitting bisa dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Pada akhirnya, hubungan kerja yang saling menghargai bukan hanya meningkatkan produktivitas, tapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *