Milenianews.com – Di era digital seperti sekarang, media sosial menjadi tempat berbagi segala hal, termasuk isu kesehatan mental. Banyak pengguna membagikan pengalaman pribadi tentang gangguan seperti ADHD, depresi, atau kecemasan. Beberapa bahkan memaparkan ciri-ciri gangguan tertentu, sehingga tak jarang membuat orang lain merasa “relate” dan akhirnya melakukan self-diagnosis.
Baca juga: Self Diagnosis, Apakah Baik Untuk Kesehatan Mental?
Self-diagnosis, atau mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional, sebenarnya bukan hal baru. Namun, kehadiran media sosial membuatnya lebih masif dan mudah diakses. Saat seseorang merasa cocok dengan ciri-ciri gangguan yang dijelaskan dalam sebuah konten TikTok atau Instagram, mereka bisa saja langsung menyimpulkan bahwa dirinya mengalami hal serupa—tanpa melalui pemeriksaan resmi dari psikolog atau psikiater.
Informasi di media sosial rentan menyesatkan dan menimbulkan persepsi keliru
Masalahnya, informasi yang beredar di media sosial belum tentu akurat atau sesuai dengan pedoman medis. Sebuah studi dari University of British Columbia menunjukkan bahwa dari 100 video TikTok populer tentang ADHD, hanya 21 persen yang dianggap akurat. Bahkan sebagian besar video tersebut dianggap menyesatkan atau mengandung klaim yang tidak didasarkan pada bukti ilmiah.
Menurut Johns Hopkins Medicine, mengandalkan media sosial untuk memahami kesehatan mental bisa menimbulkan persepsi keliru dan memperburuk kondisi emosional seseorang. Individu bisa mengalami stres tambahan karena merasa dirinya memiliki gangguan tertentu, padahal belum tentu demikian. Terlebih lagi, hal ini bisa menunda akses pada pertolongan yang tepat karena merasa sudah “mengetahui” kondisi diri sendiri.
Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa memiliki gejala tertentu bukan berarti seseorang langsung memiliki gangguan tersebut. Banyak gangguan mental memiliki gejala yang tumpang tindih, dan bisa saja penyebabnya berasal dari hal lain yang tak berhubungan langsung. Itulah sebabnya peran profesional sangat dibutuhkan untuk memastikan seseorang mendapatkan penanganan yang sesuai.
Tentu, media sosial punya sisi positif dalam menyebarkan kesadaran tentang kesehatan mental. Namun, kesadaran itu seharusnya mendorong kita untuk mencari bantuan yang tepat, bukan menggantikan proses diagnosa profesional. Psikolog dan psikiater memiliki alat dan pengetahuan untuk melakukan asesmen yang komprehensif, bukan hanya berdasarkan satu-dua gejala yang terasa relevan.
Baca juga: 5 Penyesalan di Usia 30 Tahun ini Harus Dicegah Sebelum Terjadi!
Sebagai penutup, berhati-hatilah saat mengonsumsi konten seputar kesehatan mental di media sosial. Jadikan media sosial sebagai titik awal untuk lebih sadar dan peduli, bukan tempat mencari label terhadap diri sendiri. Bila merasa butuh bantuan, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga profesional. Kesadaran mental itu penting, tapi penanganannya pun harus tepat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













