Dari Sejarah Indonesia Boikot Olimpiade Tokyo Hingga Dunia Paralel Ada di GJUI ke-27

Dari Sejarah Indonesia Boikot Olimpiade Tokyo Hingga Dunia Paralel Ada di GJUI ke-27

Milenianews – Hari kedua Gelar Jepang Universitas Indonesia (GJUI) ke-27 tengah berlangsung sejak pukul 09.00 WIB, Sabtu (21/8) lalu.

Di kala wabah ini, festival budaya Jepang rutin tahunan oleh mahasiswa Prodi Jepang Universitas Indonesia berlangsung secara virtual dalam kurun waktu 3 hari, yaitu mulai 20 – 22 Agusutus nanti.

Dengan mengusung tajuk Mugenchi: Journey into the World of Dreams, GJUI ke-27 ini akan mengajak peserta berpetualang menuju alam mimpi tanpa batas.

Baca Juga : Siap Ikut Gelar Jepang UI 27? Cek Guest Star-nya Disini!

Hari kedua GJUI ke-27 ini dibuka oleh seminar pop culture yang menghadirkan dosen-dosen Universitas Indonesia. Yaitu Himawan Pratama & Citra Rindu Prameswari.

Sensei Himawan, sapaannya dalam kegiatan tersebut, membagikan sejarah Jepang dan Indonesia. Utamanya melalui perkembengan Olimpiade dari masa ke masa.

“Soal olimpiade di Tokyo, Indonesia miliki sejarah tersendiri. Pada 1964, Indonesia pernah boikot ajang olimpiade di Jepang itu. Sehari sebelum pembukaan Olimpiade Tokyo 1964, Indonesia memboikot ajang olahraga itu,” ujar Sensei Himawan, Sabtu (21/8).

Sensei Himawan mengatakan, Keputusan itu merupakan buntut perseteruan yang telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Dugaannya ada konflik antara Indonesia dengan lembaga utama olahraga Internasional.

“Akibatnya, IOC (International Olympics Comittee-saat itu Presiden IOC Avery Brundage) memboikot Indonesia dalam seluruh ajang olahraga internasional untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sebagai bentuk serangan balik, Indonesia menyelenggarakan GANEFO Games (The Games of the New Emerging Forces),” ujarnya.

Menurutnya, keputusan dalam memperjelas sikap anti-IOC, anti-Barat, anti-kolonial menjadi hal penting. Kala itu, Indonesia menilai pihak lembaga olahraga internasional bersikap rasis dan perundung ulung.

“GANEFO merupakan cara Presiden Soekarno melawan dan mengatakan bahwa sudah waktunya negara-negara kecil untuk melawan negara penjajah,” terangnya.

Baca Juga : GJUI Ke-27 Day 2 Hadirkan Workshop Japanese Class Hingga Seminar Seiyuu

Apa Itu Isekai?

Pada sesi seminar pop culture kedua, Sensei Citra, sapaannya, mengajak peserta virtual GJUI ke-27 untuk mengenal genrei Isekai.

Genre Isekai sendiri adalah tentang seseorang (biasanya dari Bumi) yang berpindah/terjebak/reinkarnasi di dunia fantasi/dunia paralel/ dunai virtual.

Menurut Sensei Citra, genre Isekai ini sudah jauh terkenal sejak tahun 700 masehi. Genre itu muncul pada legenda Urashimataro.

“Selain itu, genre isekai ini juga sudah banyak diadopsi di film-film barat. Seperti film Alice in Wonderland atau The Chronicles of Narnia,” tukas Sensei Citra, Sabtu (21/8).

dok. GJUI 27

Dalam karya jepang, seperti manga atau anime banyak stereotipe cerita yang hadir dalam genre Isekai. Beberapa contohnya seperti dapat kesempatan kedua dan mempunyai kemampuan/keterampilan luar biasa di dunia isekai.

“Tak banyak juga, tokoh dalam genre Isekai mengalami kemalangan/ penderitaan/stigma sosial/kematian di dunia asal sebelum Isekai,” katanya.

Lanjutnya, genre Isekai ini juga saling menyangkut-pautkan dengan ketidakpuasan dalam hidup.

“Tokoh utama dalam Isekai dalam pembukaan cerita selalu mendapat gambaran orang dengan banyak masalah. Seperti kesehatan mental, keterbatasan fisik, overworked, insecure, kehilangan tujuan hidup hingga mentally/physically abused. Namun, sebaliknya ketika sudah masuk ke dunia Isekai tersebut,” tandasnya. (OZI)

Respon (14)

  1. Kalo baca artikel tentang GJUI jadi kangen. Semoga tahun depan pandeminya berakhir. Biar GJUI ga virtual lagi 🥲😭

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *