Milenianews.com, Padang– Taty Westhoff, diaspora Minang di Belanda menggugat artis yang melecehkan budaya Minangkabau lewat pakaian pengantin yang mengumbar aurat perempuan.
“Sebagai seorang perempuan Minang yang sudah 44 tahun berdomisili di luar negeri, saya merasa risau dan terusik dengan melihat liputan seorang mempelai wanita yang memakai sunting Minang dengan gaun putih yang memperlihatkan auratnya. Astagfirullah al ‘azhiem. Sungguh sangat melecehkan adat dan budaya Minang yang berdasarkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK),” ujar Taty Westhoff saat berkomunikasi dengan Ketua SatuPena Sumbar Sastri Bakry beberapa waktu lalu.
Pebisnis kuliner dan aktivis sosial budaya itu berulang kali mengucap istighfar karena adanya pencemaran adat dan budaya Minangkabau yang meresahkannya. Ia selama ini di rantau getol melestarikan adat budaya Minangkabau bersama orang Minangkabau lainnya di Belanda. Telah banyak kegiatan yang dilakukannya di Belanda. Mulai dari seni, adat, budaya, pengajian, pendidikan, bahasa, simbol berpakaian dan adab perilaku hingga kuliner minang. Ia dengan bangga merawat budaya Minangkabau dengan filosofi ABSSBK di tengah-tengah gempuran budaya Eropa yang jauh dari agama.
“Saya berharap orang-orang di Sumatera Barat, seperti Bundo Kanduang, LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) dan organisasi perempuan lainnya mau ikut menyuarakan agar ada norma yang bisa dipegang oleh anak muda terutama soal adab perilaku termasuk soal berpakaian di zaman yang penuh tantangan,” ujar Taty dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Senada dengan Taty Westhoff, Ida Basnurida, ketua Forum Siti Manggopoh ( FSM) dan Wevy Ningrat, Ketua Gerak muslimat Indonesia (GMI) Sumbar juga menyampaikan kegusarannya tentang pelanggaran norma tersebut
“Jika mereka mau berbuka-buka aurat, silahkan saja, tapi jangan menggunakan ornamen Minang apalagi suntiang bagi pengantin memiliki makna filosofi yang dalam. Itu melecehkan namanya. Kita harus menyadari , soal perkosaan, LGBT dimulai dari melecehkan norma adat dan agama,” ujar Basnurida.
Baca Juga : Bendahara Satu Pena, Raden Rita Maimunah, Penulis inspiratif Sumbar Berdarah Sunda dengan Segudang Prestasi
Hal demikian disampaikan saat Basnurida dan Wevy Ningrat bersama pengurus FSM dan GMI menghadap Harneli Bahar, selaku penasihat banyak organisasi wanita termasuk GMI dan FSM Selasa di Istana Gubernur, Padang, tanggal 28 Juli 2024 .
Harneli Bahar juga merasa prihatin dengan kondisi sekarang yang hampir tak terkendali. “Empat rumah harus menjadi perhatian kita, yakni rumah tangga, rumah sekolah, rumah ibadah dan rumah adat. Mari kita mulai dari keluarga kita,” tambah Harneli.







