Milenianews.com, Mata Akademisi – Frasa Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam khazanah klasik Islam dapat ditemui, salah satunya, dalam karya Habib Alwi al-Haddad, yakni kitab Risalatul Mu’awanah. Ulama tuna netra yang wafat di Tarim, Yaman pada 1720 Masehi ini membicarakan masalah Ahlus Sunnah wal Jamaah terkait salah satu cara yang dapat ditempuh untuk memperindah akidah.
Menurut al-Haddad, Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mereka yang berpegang teguh kepada akidah yang Nabi Muhammad SAW dan para sahabat anut. Secara konseptual, Ahlus Sunnah wal Jamaah mengacu kepada nama aliran teologi Asy’ariyah yang digagas oleh seorang mutakalim, yakni Abu al-Hasan al-Asy’ari yang wafat pada 936 Masehi di Baghdad, Irak.
Tentang teologi Asy’ariyah ini, al-Haddad memberi indentifikasi. Pertama, al-Asy’ari telah menyusun prinsip-prinsip akidah yang benar yang disepakati para sahabat dan tabi’in pilihan. Kedua, al-Asy’ari telah menyusun argumentasi teologisnya berdasarkan dalil-dalil terseleksi. Ketiga, teologi Asy’ariyah adalah akidah para pelaku kebenaran pada setiap zaman dan tempat.
Ketiga penjelasan al-Haddad ini dapat menjawab pertanyaan soal akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sering terlontar di tengah umat. Menariknya, menurut al-Haddad teologi Asy’ariyah menjadi mayoritas akidah ahli tasawuf Sunni atau Amali atau Akhlaki yang digagas oleh al-Muhasibi, Junaid al-Baghdadi, dan al-Ghazali. Ketiganya merumuskan konsepsi tasawuf dalam karya mereka masing-masing.
Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat diidentifikasi sebagai berikut. Pertama, mereka yang memiliki pemikiran kalam yang dinamis karena bermesin teologi Asy’ariyah. Kedua, mereka yang mengamalkan mistik yang energik karena bertasawuf akhlaki al-Ghazali. Ketiga, istimbath hukum yang mereka ikuti adalah rasional-juristik karena bermanhaj fikih Syafii.
Pandangan al-Haddad ini didasarkan pada pernyataan al-Qushairi, seorang sufi yang wafat pada 1072 Masehi dalam magnum-opusnya, yakni kitab Risalah al-Qushairiyah. Menurut al-Qushairi, teologi Asy’ariyah adalah teologi yang dianutnya. Teologi ini menjalar sampai ke Hadhra Maut, Yaman dibawa oleh Imam Muhajir dari Irak. Beliau tinggal di Hadhra Maut hingga wafat.
Tampaknya teologi Asy’ariyah juga dianut oleh sufi lain seperti al-Ghazali yang dapat ditemukan dalam setumpuk tulisan beliau yang mengarah pada pemikiran kalam Asy’ariyah seperti dalam kitab Qawaidul Aqaid, Ihya Ulumuddin, dan al-Risalah al-Qudsiyah. Dengan kata lain, tokoh-tokoh yang telah disebutkan di atas adalah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Terlepas terma tersebut sudah ada atau belum.
Namun yang menarik dari pemikiran al-Haddad tentang Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam karyanya ini adalah bahwa beliau berpesan untuk tidak terjun terlalu jauh mendiskusikan soal teologi. Karena kemakrifatan tidak ditemukan dalam persoalan kalam. Al-Haddad cenderung menganjurkan para penganut Ahlus Sunnah wal Jamaah menempuh jalan tarekat agar sampai pada kedudukan makrifat untuk menjadi seorang gnostik (arif).
Penulis: Dr. KH. Syamsul YakinMA., Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhyar Parung Bingung, Kota Depok








