Milenianews, Perfeksionis dapat ganggu kesehatan mental. Sudah ada sumber penelitian tentang hal ini. Pada jurnal Psychological Bulletin tahun 2019. Perfeksionis merupakan hal yang paling melemahkan.
Berawal dari depresi, cemas dan ingin bunuh diri merupakan masalah mental yang dapat berulang. Hal ini dikaitkan dengan perfeksionis secara sosial. Dalam jurnal Archives of Suicide Research tahun 2013, sekitar 70% orang usia muda meninggal karena bunuh diri. Hal ini dipicu oleh kebiasaan menciptakan ekspektasi tinggi pada diri sendiri.
Baca juga: 20 Kata Mutiara Tentang Cinta Buat Kamu
Perfeksionis ada tiga jenis
Kebutuhan akan jadi sempurna yang pengaruhi hal ini dapat terjadi. Banyak orang berpendapat, jika telah capai sesuatu tanpa cacat atau kesalahan maka akan dapat kebahagiaan dan kesuksesan. Secara umum perfeksionis bedakan jadi tiga jenis, yakni:
Standar
Dengan patuh pada perangkat standar dapat tingkatkan motivasi. Jenis ini termasuk positif karena tidak timbulkan stres berlebihan. Tujuannya hanya untuk membangkitkan semangat pribadi sehingga hal ini tak berdampak negatif pada diri sendiri. Meskipun standar, bagi orang awam masih tergolong tinggi.
Kritis
Cenderung terintimidasi oleh tujuan yang ditargetkan sendiri. Putus asa karena merasa tujuan tidak dapat tercapai. Hal ini akan mengarah pada emosi negatif, seperti cemas, penghindaran dan menghukum diri sendiri.
Baca juga: ‘Ghosting’, Bikin Patah Hati
Sosial
Ingin tampil lebih unggul dari orang lain. Hadirkan persepsi sempurna pada orang lain. Akan tetapi harapan itu tidak terwujud. Hal ini terlihat tak realistis bagi orang lain. Sebuah permintaan keunggulan yang biasanya terjadi pada jenis pekerjaan yang butuh ketelitian ekstra. Contoh ahli medis, arsitek dan pengacara.
Kesempurnaan bukan mengenai pencapaian dan pertumbuhan yang positif. Hal ini bisa hanya sebagai perisai atau pelindug diri dari rasa malu, bersalah, juga bentuk penghakiman diri. (Umi)