Budaya  

Bedah Buku  “Ayat-Ayat Cinta 3” di FAI UNISSULA, Kang Abik: Sastra Harus Berpihak pada Kebenaran dan Kemanusiaan

Habiburrahman El Shirazy  (kanan) tampil dalam acara  bedah buku   “Ayat Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza”  di FAI UNISSULA Semarang, Kamis 29 Oktober 2026. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Semarang– Pagi itu, Kamis  (29/10/26) Aula FAI UNISSULA Semarang penuh sesak oleh ratusan mahasiswa dan dosen. Semua menyambut dengan penuh antusias acara Bedah Buku  Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza yang dihadiri langsung oleh penulisnya, Habiburrahman El Shirazy, seorang sastrawan terkemuka Indonesia yang juga ulama muda yang mengetuai Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia.

Sejak karya terbaru Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy) diluncurkan  pada 4 Oktober 2026 di Indonesia International Book Fair JCC Senayan Jakarta, permintaan diskusi dan bedah buku Ayat Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza mengalir deras. Sepanjang Oktober 2026, Kang Abik telah melakukan bedah Ayat Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza, yang diterbitkan oleh Terra Pustaka, di dua belas titik di lima provinsi: Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Baca Juga : Habiburrahman El Shirazy Luncurkan  Novel “Ayat Ayat Cinta 3  Cintaku di Gaza”

Titik pertama bedah buku Ayat Ayat Cinta 3 adalah Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo yang dilaksanakan pada 14 Oktober 2026 sebagai puncak acara literasi santri yang diadakan pesantren modern paling berpengaruh di Indonesia tersebut. Selanjutnya Pesantren Al Mawaddah Ponorogo, Pesantren Darul Falah Ponorogo, Pesantren Persis Tarogong Garut, Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Pesantren Mahasiswa UAD Yogyakarta, Pesantren Modern Darul Hikmah Tangerang, Pesantren La Tansa Lebak, Pesantren Darussalam Bogor, Pesantren Ummul Qura Islami Bogor, dan Pesantren Hidayatus Sholihin Demak. Kemudian bedah buku Ayat Ayat Cinta 3 diadakan  di UNISSULA Semarang, selain akan dilakukan di banyak kampus di seluruh Indonesia.

Dalam bedah buku Ayat Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza  di Aula FAI UNISSULA, Kang Abik  mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di Gaza tidak mungkin diabaikan oleh siapa saja yang memiliki nurani dan akal sehat.  Menurutnya, penderitaan Palestina, khususnya penduduk Gaza, bukan semata persoalan umat Islam, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyangkut nilai-nilai universal tentang cinta, kasih sayang, dan keadilan.

“Tragedi Palestina tidak hanya melukai umat Islam, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai agama mana pun yang mengajarkan cinta kasih dan penghormatan terhadap martabat manusia,” tegas Kang Abik.

Melalui kisah Fahri di Gaza, ia ingin mengajak pembaca untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina. Kepedulian dapat diwujudkan melalui doa, perhatian, penyebaran informasi yang bertanggung jawab, serta bantuan kemanusiaan sesuai kemampuan masing-masing.

Palestina sebagai Tanah Suci dan Pusat Peradaban

Di hadapan ratusan akademisi yang hadir, Kang Abik juga mengajak peserta membayangkan masa depan Palestina seandainya negeri itu tidak mengalami penjajahan dan kehancuran akibat konflik berkepanjangan.

Ia membayangkan Palestina dapat berkembang menjadi salah satu pusat intelektual dunia Islam. Umat Islam tidak hanya akan menjadikan Makkah dan Madinah sebagai tujuan penting dalam perjalanan spiritual, tetapi juga dapat mengunjungi Palestina dengan aman untuk beribadah, belajar, dan memperluas wawasan.

Baca Juga : Bedah  Novel “Ayat-Ayat Cinta 3” di Demak, Kang Abik Ajak Santri Teladani Keberanian Ulama Sufi Melawan Penindasan

Refleksi tersebut berkaitan dengan kedudukan Palestina sebagai al-arḍ al-muqaddasah, yakni tanah suci yang memiliki tempat penting dalam tradisi Islam. Bagi Kang Abik, Palestina bukan sekadar wilayah geografis, melainkan juga bagian dari ikatan sejarah, spiritualitas, dan kepedulian umat Islam. Kangabik menyampaikan betapa dekatnya hubungan Palestina dengan Indonesia, Palestina adalah tanah kelahiran Imam Syafi’i, yang madzhabya diikuti masyarakat muslim Indonesia.

Melalui novelnya, ia ingin menghidupkan kembali kesadaran bahwa cinta kepada Palestina perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang mendukung kemanusiaan dan keadilan.

Kang Abik membacakan penggalan puisi yang termaktub dalam novel “Ayat Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza”  di UNISSULA Semarang.

Syair untuk Palestina

Suasana menjadi haru-biru dengan pembacaan puisi dari beberapa mahasiswi UNISSULA  tentang Palestina, yang disambung pembacaan puisi oleh Kang Abik. Pada momen ini Kang Abik membaca sebuah syair yang digubah dari puisi berjudul Mal’un Saifa Akhi karya Faruq Juwaidah. Pembacaan syair itu melengkapi pemaparannya tentang penderitaan rakyat Palestina sekaligus memperkuat pesan emosional yang diusung dalam Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza.

Bedah buku di FAI UNISSULA tersebut tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap karya sastra, tetapi juga ruang refleksi mengenai tanggung jawab moral seorang Muslim terhadap persoalan kemanusiaan.

Melalui perjalanan Fahri di Gaza, Kang Abik mengajak pembaca memahami bahwa cinta tidak berhenti pada perasaan atau kata-kata. “Cinta perlu diwujudkan dalam kepedulian, keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dan kesediaan untuk berbuat sesuatu bagi mereka yang mengalami penderitaan,” ujar Kang Abik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *