Lapar Mata Berujung Petaka: Kenapa Kita Hobi Banget Buang Makanan?

Oleh: Berlian Haryajaya, Mahasiswi Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang

Mata Akademisi, Milenianews.com – Masih banyak di antara kita yang kerap menyisakan makanan hingga akhirnya terbuang menjadi sampah atau food waste yang makin hari makin menumpuk. Padahal, kebiasaan sepele ini bisa mendatangkan ancaman serius dalam jangka panjang. Masalah food waste telah menjadi sorotan dunia karena skalanya yang masif. Indonesia, misalnya, dinobatkan sebagai negara penghasil sampah makanan terbanyak di Asia Tenggara. Pada 2012 silam, Indonesia bahkan menghasilkan limbah makanan hingga mencapai 20,93 juta ton.

Menurut saya, salah satu pemicu utama kebiasaan membuang makanan adalah minimnya kesadaran dalam menakar porsi sesuai kebutuhan perut, bukan keinginan mata. Banyak orang kalap membeli makanan hanya karena lapar sesaat, tanpa mempertimbangkan apakah sanggup menghabiskannya. Ujung-ujungnya, saat perut sudah kenyang atau lidah mulai bosan, sisa makanan itu masuk tong sampah begitu saja.

Sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dalam urusan kuliner—hasrat menjajal menu baru atau sekadar mengikuti tren makanan viral—juga turut menyuburkan tabiat buruk ini. Oleh karena itu, mengerem nafsu dan membeli makanan sesuai porsi adalah langkah paling rasional untuk memangkas pemborosan.

Baca juga: Mengubah FOMO Gen Z Menjadi Energi Positif: Fastabiqul Khairat sebagai Jalan Kesehatan Mental dan Spiritual

Selain kalap berbelanja, kebiasaan mengambil makanan dalam porsi kuli yang tak sanggup dihabiskan juga memperparah tumpukan sampah organik kita. Realitas ini menjadi tamparan keras bahwa kesadaran kita untuk menghargai sepotong makanan masih sangat memprihatinkan.

Efek dominonya pun tak main-main. Dari kacamata ekonomi, Bappenas mencatat bahwa limbah makanan menyumbang kerugian negara yang fantastis, yakni mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun, atau sekitar 4–5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Petaka Ekologis dan Dosa Mengabaikan Petani

Sampah makanan bukan cuma bikin rugi bandar secara ekonomi, melainkan juga merusak bumi. Limbah ini menumpuk dari jalur distribusi, industri pengolahan, ritel, restoran, hingga dapur rumah tangga kita. Saat sampah organik membusuk dalam kondisi minim oksigen di tempat pembuangan akhir, proses tersebut menghasilkan gas metana yang jauh lebih mematikan dalam memicu pemanasan global. Maka, kebiasaan membuang makanan harus mulai dikutuk sebagai kejahatan lingkungan yang mendesak untuk dihentikan.

Lebih dari sekadar isu ekologis, menghargai makanan adalah wujud nyata tanggung jawab sosial. Ingatlah bahwa sepiring nasi di meja kita melewati rantai keringat yang panjang—dari petani yang berjibaku di sawah hingga pedagang di pasar. Ada waktu, tenaga, dan biaya besar yang dipertaruhkan.

Ketika sepotong makanan berakhir di tempat sampah tanpa alasan logis, kita sejatinya sedang melecehkan jerih payah mereka. Dengan makan secukupnya, kita tidak sekadar peduli pada lingkungan, tetapi juga memanusiakan setiap individu yang terlibat dalam rantai pasok pangan tersebut.

Sudahi Mubazirmu, Mari Makan Secukupnya

Solusi memutus rantai food waste ini sebenarnya sangat sederhana dan bisa dimulai dari piring sendiri. Ambil porsi secukupnya, simpan bahan pangan dengan benar, dan patuhilah daftar belanja alih-alih menuruti hawa nafsu saat di swalayan. Saat jajan di luar, pesanlah menu sesuai kapasitas perut. Jika tak sengaja tersisa dan masih layak, jangan gengsi meminta pelayan untuk membungkusnya agar bisa dimakan kembali di rumah. Konsistensi mempraktikkan hal remeh ini bisa menekan angka pemborosan secara drastis.

Baca juga: FOMO Bikin Anak Muda Haus Koneksi atau Sekadar Takut Ketinggalan Tren?

Tentu saja, pertobatan individu ini harus diiringi dengan intervensi sistemik dari keluarga, institusi pendidikan, hingga pelaku bisnis kuliner. Sekolah bisa mulai menyisipkan edukasi krisis pangan, restoran bisa menyediakan opsi porsi kecil (half portion), dan kampanye “anti-nyisa” makanan harus terus digaungkan di media sosial. Sinergi ini akan melahirkan gaya hidup berkelanjutan yang dampaknya bisa langsung dirasakan.

Singkatnya, hobi membuang makanan bukanlah perkara sepele yang bisa terus-terusan dimaklumi. Ini adalah tabiat buruk yang menguras kantong negara sekaligus merusak ekosistem. Mari mulai perubahan hari ini: beli sebutuhnya, ambil secukupnya, dan habiskan apa yang ada di piringmu. Sebab, lingkungan yang bersih tak akan pernah terwujud jika kita masih betah menjadi si paling mubazir.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *