Milenianews.com, Bogor– Bila direnungkan sejak bangun tidur sampai bergegas di pembaringan mau tidur lagi, begitu banyak aktivitas yang sudah kita kerjakan oleh seorang Muslim. Pertanyaannya, apakah aktivitas atau amal tersebut bisa diterima oleh Sang Khaliq yang berstatus Maliki yaumiddin (Raja Hari Pembalasan), atau jangan-jangan cuma menjadi sampah dunia yang tidak ada artinya apa-apa bagi kehidupan selanjutnya?
Lalu, bagaimana caranya agar amal seorang Mulim sampai di hadapan Sang Pencipta, Allah SWT? Menjawab pertanyaan tersebut, guru Islamic Studies SD Bosowa Bina Insani, Bogor, Dr. KH. M. Sudrajat MPd.,
“Ada empat syarat agar amal kita bisa membersamai kita sampai ke akhirat,” kata guru Islamic Studies SD Bosowa Bina Insani, Bogor, Dr. KH. M. Sudrajat MPd., mengutip Ibnu Atha’illah As-Sakandari, seorang ulama sufi dari Mesir yang hidup pada abad ke-7, dalam kitabnya yang berjudul Al-Hikam.
Empat syarat itu adalah:
Pertama, Iman atau keyakinan.
Syarat pertama amal bisa diterima di hadapan Allah SWT adalah adanya iman di hati seorang hamba. “Dengan iman maka amal perbuatan yang sedikit atau sekecil apapun akan memiliki makna baginya, baik itu pemikiran, ucapan atau perbuatan dan materi lainnya. Sedangkan bagi mereka yang tidak beriman, amal sebanyak atau sebesar apapun, maka tidak ada harganya di hadapan Allah SWT (Lihat QS. Muhammad [47] :1),” kata Ustadz Sudrajat.
Kedua: Ilmu.
Seorang hamba melakukan amal perbuatan namun tidak didasari dengan ilmu maka amal tersebut akan tertolak dan tidak akan diterima, sebagaimana yang disampaikan oleh
Imam Ibnu Ruslan dalam matan Zubadnya sebagai berikut:
وكل من بغير علم يعمل # أعماله مردودة لاتقبل
wa kullu man bi ghairi ‘ilmi ya’malu #
a’maluhu mardudatun laa tuqbalu
“Setiap orang yang berbuat-beramal tanpa ilmu maka amalnya tertolak, tidak diterima.”
Ilmu-lah yang meninggikan derajat seorang hamba apabila dia beramal. (Lihat QS. Al-Mujadilah [58] : 11)
Ketiga: Niat.
Dalam kitab Safinatun Najah karya Syaikh Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy, niat itu didefinisikan sebagai berikut:
النِّيَّةُ قَصْدُ الشَّيْئِ مُقْتَرَنًا بِفِعْلِهِ
“Niat adalah bermaksud melakukan sesuatu diiringi dengan mengerjakannya”
“Sampainya suatu amal perbuatan seorang hamba ke akhirat, di samping iman dan ilmu, juga ditentukan dengan niat yang mengawalinya, bila dilakukan untuk semata-mata ibadah mencari ridha Allah SWT, maka amal tersebut akan sampai ke akhirat, tetapi bila hanya untuk mencari famor dunia atau ingin mendapat pujian, maķa sampainya cuma di dunia saja,” ujarnya.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Keempat: Ikhlas.
Puncak syarat suatu amal diterima oleh Allah SWT di akhirat adalah bila seorang hamba memiliki sifat ikhlas di hatinya.
Adapun arti Ikhlas dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah disebutkan:
الإِخْلَاصُ تَصْفِيَةُ الْفِعْلِ عَنْ مُلَاحَظَةِ الْمَخْلُوقِينَ
Artinya: “Ikhlas adalah memurnikan diri kepada Allah dari pandangan makhluk.”
“Ibadah yang dilakukan dengan niat ikhlas tidak terkontaminasi oleh keinginan untuk dipuji atau mendapatkan imbalan dari manusia,” ujarnya.
Nasehat yang mulia disampaikan oleh Ibnu Athaillah As-Syakandari
لولا جميل ستره لم يكن عمل أهلا للقبول
[الحكم، حكمة، ١٢٨]
Artinya: “Seandainya bukan karena kepiawaian seseorang dalam menyembunyikan amalan, maka tidak akan ada amalan seseorang yang diterima Allah.”
Bila seorang hamba sudah menyadari bahwa segala apapun amal perbuatan yang dilakukan adalah rahmat Allah SWT maka berarti ia sudah mencapai keikhlasan dalam beramal. “Semoga amal yang kita lakukan senantiasa berbekal iman, ilmu, niat yang baik dan keikhlasan, agar amal tersebut kelak diterima Allah SWT di akhirat,” kata Ustadz Sudrajat.
Syarat Amal Bisa Diterima Di Akhirat, Ustadz Sudrajat, Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al-Hikam.







