Milenianews.com, Jakarta– Sastrawan yang digelari “Novelis No. 1 Indonesia”, Habiburrahman El Shirazy meluncurkan novel Ayat Ayat Cinta 3 Cintaku di Gaza di ajang International Indonesia Book Fair (IIBF) yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu, 4 Oktober 2026.
Novel Ayat Ayat Cinta 3 Cintaku di Gaza – yang diterbitkan oleh Terra Pustaka – menceritakan dedikasi kemanusiaan dan cinta Fahri (tokoh utama seri novel Ayat Ayat Cinta) yang berfokus pada isu pembebasan, perdamaian, dan perjuangan rakyat Palestina di tengah krisis Gaza, Palestina. Novel ini mengangkat konflik geopolitik, kemanusiaan, dan penderitaan fisik-mental akibat penindasan dan peperangan yang melanda rakyat Palestina, khususnya Gaza. Novel Ayat Ayat Cinta (AAC) 3 mengusung pesan keteguhan iman, solidaritas kemanusiaan lintas batas, kepedulian sosial yang nyata, dan doa serta perjuangan tanpa henti bagi kedamaian.

“Semula novel AAC 3 mengambil setting tempat Amerika. Namun, setting tempatnya saya pindahkan ke Gaza, Palestina, agar di akhirat nanti, kalau saya ditanya sebagai seorang penulis apakah kamu juga menulis tentang Palestina, saya bisa menjawab ‘iya’,” kata Habiburrahman El Shirazy,
Terkait penerbitan novel Ayat Ayat Cinta 3 Cintaku di Gaza, penulis alumnus Al-Azhar niversity, Kairo, Mesir itu menggelar syukuran sederhana di sebuah restoran di Jakarta pekan lalu. Acara itu dihadiri Pengurus Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat yang juga Panitia Lomba Cerpen Internasional tentang Palestina-International Short Story Award on Palestine (ISSA–Palestine 2026), termasuk Ketua Panitia Dr. Helvy Tiana Rosa M.Hum.
“Selain menjadi momentum syukuran atas peluncuran Ayat Ayat Cinta 3 Cintaku di Gaza, pertemuan di Restoran Condet Park ini juga dimanfaatkan untuk membicarakan sejumlah hal teknis terkait penyelenggaraan International Short Story Award on Palestine (ISSA–Palestine 2026) yang telah mulai berjalan,” kata Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman El-Shirazy.
Program sayembara cerpen internasional yang digagas Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat itu mengusung tema “Palestina: Kemanusiaan, Keimanan, dan Kemerdekaan”. Kompetisi ini dibuka dalam tiga kategori bahasa, yakni Indonesia/Melayu, Arab, dan Inggris, dengan jadwal pelaksanaan 10 Oktober hingga 20 November 2026.
Baca Juga : Habiburrahman El Shirazy Luncurkan Novel “Ayat Ayat Cinta 3 Cintaku di Gaza”
Pertemuan tersebut memperlihatkan pertemuan dua ikhtiar di ranah literasi: pengembangan karya sastra melalui novel dan penguatan kepedulian terhadap Palestina melalui sayembara cerpen. “Keduanya memiliki bentuk berbeda, tetapi sama-sama menempatkan tulisan dan cerita sebagai sarana menyampaikan gagasan serta membangun hubungan emosional dengan pembaca,” ujar Kang Abik yang juga Ketua LSBPI MUI.
Jika Ayat Ayat Cinta 3 menghadirkan perjalanan kreatif seorang novelis melalui kisah panjang, ISSA–Palestine 2026 membuka ruang bagi lebih banyak penulis untuk menyampaikan perspektif mereka mengenai kemanusiaan, keimanan, dan kemerdekaan Palestina. “Melalui kedua jalur tersebut, sastra diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang perenungan yang menghubungkan pengalaman manusia dengan persoalan-persoalan besar pada zamannya,” kata Kang Abik.
Syukuran yang berlangsung sederhana itu pun menjadi lebih dari sekadar perayaan peluncuran buku. Di dalamnya berlangsung pertukaran gagasan, apresiasi terhadap proses kreatif, pembicaraan mengenai masa depan karya sastra, sekaligus koordinasi untuk mendukung sebuah gerakan literasi bertema Palestina.
Bagi dunia kepenulisan, pertemuan semacam ini mengingatkan bahwa karya tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh melalui perjumpaan, percakapan, pengalaman, dan kepekaan terhadap perubahan zaman. Dan ketika cerita berangkat dari persoalan kemanusiaan, sastra memiliki peluang untuk melampaui halaman buku—menjadi jembatan yang menghubungkan pembaca dengan kehidupan manusia lain, bahkan dengan realitas yang berlangsung jauh dari tempat mereka berada.













