Milenianews.com, Jakarta – Cyber University (Universitas Siber Indonesia) menggelar Wisuda Cyber University keempat sekaligus Seminar Energi Kreasi (SINERGI) bagi mahasiswa baru (maba) tahun akademik 2026/2027 di Gedung Pewayangan Kautaman, Jalan TMII Pintu 1 No. 01, Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Kamis (17/9). Kegiatan tersebut menjadi momentum pengukuhan lulusan sekaligus penyambutan maba dalam lingkungan pendidikan tinggi berbasis teknologi digital.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Jakarta, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan wisuda keempat Cyber University. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan konsistensi perguruan tinggi dalam mengawal mutu pendidikan tinggi di wilayah Jakarta.
“Ini merupakan pencapaian penting bagi Cyber University, yaitu penyelenggaraan wisuda untuk meluluskan mahasiswa semester genap 2025-2026 dan juga menyambut mahasiswa baru Universitas Siber Indonesia. Atas nama LLDIKTI Wilayah III Jakarta, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pimpinan, rektor, senat, serta seluruh sivitas akademika atas konsistensinya dalam mengawal mutu pendidikan tinggi di wilayah Jakarta,” kata Henri dalam keterangan rilis yang diterima, Jumat (18/9).
Baca juga: Cyber University Sambut Maba dengan MAGNA dan SINERGI 2026
Menurut Henri, pelaksanaan wisuda untuk keempat kalinya menjadi momentum bagi Cyber University untuk terus melihat perkembangan pendidikan tinggi sekaligus tantangan yang muncul akibat perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Cyber University Hadapi Perubahan Teknologi yang Semakin Cepat
Henri mengatakan penggunaan nama “Siber” pada institusi pendidikan bukan sekadar identitas, tetapi membawa tanggung jawab untuk mempersiapkan lulusan yang mampu menghadapi perubahan digital.
“Kampus ini lahir dan tumbuh dengan membawa nama Siber. Nama ini bukan sekadar branding. Nama ini adalah janji kepada industri dan janji kepada masyarakat bahwa lulusannya adalah orang-orang yang siap menghadapi realitas digital,” katanya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi saat ini bergerak sangat cepat. Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan pembelajaran agar mahasiswa memiliki kemampuan yang tetap relevan ketika memasuki dunia kerja.
Menurutnya, materi yang dipelajari mahasiswa pada awal perkuliahan sangat mungkin mengalami perubahan ketika mahasiswa telah berada di semester akhir. Bahkan, kemampuan teknis tertentu mulai mengalami perubahan seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
Oleh karena itu, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai kemampuan teknis. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, serta memahami persoalan yang berkembang di masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan Cyber University sebagai ‘Shaping Future Digital Leader’, yang membawa semangat untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan teknologi sekaligus menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.
Lulusan Tidak Cukup Menjadi Operator Teknologi
Henri juga mengingatkan para wisudawan bahwa gelar akademik yang diperoleh merupakan awal dari perjalanan profesional. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan menghadapi tantangan yang lebih nyata di dunia kerja.
“Ijazah yang saudara terima hari ini adalah tiket masuk ke stadion, bukan jaminan akan memenangkan pertandingan,” tutur Henri.
Ia mendorong para lulusan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Menurutnya, kemampuan untuk mempelajari hal baru dan meninggalkan pengetahuan yang sudah tidak relevan menjadi salah satu kemampuan penting di tengah perkembangan teknologi.
“Orang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis. Orang buta huruf abad ini adalah mereka yang tidak mau belajar, menanggalkan hal lama yang sudah tidak relevan, dan belajar kembali,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis, Henri menekankan pentingnya etika, integritas, empati, dan kebijaksanaan manusia. Perkembangan kecerdasan buatan menurutnya tidak menghilangkan kebutuhan terhadap nilai-nilai tersebut dalam dunia profesional.
Ia juga berpesan agar lulusan Cyber University tidak hanya menjadi operator teknologi, tetapi mampu berkembang menjadi inovator yang memiliki kepekaan sosial. Kompetensi digital yang dimiliki perlu diarahkan untuk menyelesaikan persoalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Delegasi Cyber University Tampil di Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026
“Jangan sekadar menjadi operator teknologi, tetapi jadilah inovator yang memiliki kepekaan sosial. Ketika saudara merancang sistem informasi atau membangun sistem keamanan siber bagi sebuah institusi di masa depan, saudara tidak hanya sedang menulis barisan kode, tetapi sedang menjaga kepercayaan dan data masyarakat,” kata Henri.
Henri berharap para lulusan dapat menggunakan kompetensi yang dimiliki untuk melindungi kepentingan publik dan tetap menjunjung tinggi etika profesional. Menurutnya, tantangan sesungguhnya bagi lulusan akan terlihat ketika kemampuan teknis berhadapan dengan berbagai persoalan dan dilema etis di dunia kerja.
“Jadikan keahlian siber yang saudara miliki sebagai tameng untuk melindungi kepentingan publik. Di situlah letak ujian sesungguhnya dari gelar akademik yang saudara sandang. Ketika kecerdasan teknis saudara dihadapkan pada dilema etis di dunia kerja, saya harap saudara selalu memilih jalan yang mempertahankan marwah saudara sebagai kaum intelektual,” pungkas Henri.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













