Milenianews.com, Bogor– “Akibat terparah dari perundungan (bullying) adalah kehilangan nyawa atau munculnya keinginan untuk menghilangkan nyawa orang lain.”
Pernyataan tersebut disampaikan Kak Syarif saat membuka sesi talk show anti-perundungan dalam rangkaian kegiatan GIVORUSH (Givoria Raising Unity, Support, and Harmony) 2026. Pernyataan itu sontak menarik perhatian peserta dan memantik rasa ingin tahu mereka tentang dampak perundungan serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Namun, perundungan bukanlah akhir dari segalanya. Ada penyintas yang mampu bangkit, melanjutkan pendidikan, dan bahkan melejit menggapai cita-citanya.
“Saya waktu SMP dibully kakak kelas, akhirnya pindah sekolah. Alhamdulillah, setelah lulus SMA saya diterima di PTN, Teknik Elektro UI. Sekarang saya sedang menempuh S2 di Edinburgh, Inggris,” ungkap Fatih Dzulfiqar melalui sebuah video yang diputar dalam acara tersebut.
Kisah Fatih menjadi salah satu pesan penting dalam GIVORUSH 2026: pengalaman perundungan dapat meninggalkan luka yang mendalam, tetapi dukungan, lingkungan yang tepat, dan keberanian untuk bangkit dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan tentu tidak cukup hanya melalui nasihat dan imbauan. Diperlukan kesadaran, keberanian untuk bersikap, serta gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen sekolah.

Semangat itulah yang melatarbelakangi OSIS SMA Quran Asy Syahid, Bogor, menyelenggarakan GIVORUSH 2026 dengan tagline “Rush to Kindness, Crush the Bullying” — “Segera Bertindak Baik, Hentikan Perundungan.”
Bertempat di Aula Gedung Amanah, Sekolah Quran Asy Syahid, kegiatan yang digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, ini diikuti oleh ratusan pelajar yang merupakan perwakilan dari berbagai SMA di kawasan Bogor. Hampir setiap sekolah juga hadir bersama guru pendamping.
Dari Kreativitas hingga Pesan Anti-Perundungan
Rangkaian GIVORUSH 2026 diawali dengan tiga kompetisi, yaitu Speech, Digital Poster, dan Short Movie. Ketiga kategori tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu perundungan melalui gagasan dan karya kreatif.
Melalui kompetisi tersebut, pesan anti-perundungan tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori, tetapi dikemas melalui bahasa dan kreativitas yang dekat dengan dunia pelajar. Para peserta diajak menunjukkan bahwa kampanye melawan perundungan dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, positif, dan inspiratif.
Puncak kegiatan dilanjutkan dengan talk show dan sharing session bersama Kak Syarif, seorang Child and Teenager Psychology Expert.
Baca Juga : Mamah Dedeh dan Ustadz Subki Al-Bughury Duet pada Acara Tabligh Akbar Sekolah Quran Asy Syahid
Materi yang disampaikan tidak hanya membahas perundungan secara konseptual, tetapi juga mengajak peserta mengenali berbagai bentuk perilaku yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan metode yang interaktif dan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian pelajar, peserta diajak melihat kembali berbagai hal yang terkadang dianggap sebagai candaan. Ucapan, perlakuan terhadap teman, maupun tindakan di lingkungan sosial dibahas dari sudut pandang dampaknya terhadap orang lain.
Peserta mengikuti sesi tersebut dengan antusias dari awal hingga akhir. Mereka tidak hanya diajak memahami apa itu perundungan, tetapi juga belajar menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar, berani mencegah, membela, serta turut membantu memulihkan korban perundungan.
Dengan demikian, talk show tersebut tidak berhenti sebagai sesi penyampaian materi, tetapi menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk menghubungkan pembahasan dengan pengalaman dan realitas yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Penyintas: Bangkit dan Melanjutkan Perjalanan
Salah satu bagian yang memberikan kesan mendalam adalah sesi sharing melalui video rekaman dari Fatih Dzulfiqar, seorang penyintas perundungan.
Dalam video tersebut, Fatih menceritakan pengalaman mengalami perundungan sejak masa SMP. Pengalaman tersebut memberikan dampak yang cukup berat hingga ia harus menjalani proses pemulihan dan akhirnya berpindah ke sekolah lain yang berbasis Al-Qur’an.
Di lingkungan barunya, Fatih mulai kembali membangun dirinya, mendalami Al-Qur’an sekaligus melanjutkan pendidikan formal melalui Paket B. Ia kemudian berjuang mengejar ketertinggalan akademiknya hingga berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Fatih diterima di Universitas Indonesia pada program studi Teknik Elektro dan menjadi mahasiswa berprestasi. Kini, ia melanjutkan pendidikan S2 di bidang yang sama di Edinburgh, Inggris.
Kisah Fatih memberikan perspektif yang kuat bahwa pengalaman perundungan tidak harus menjadi akhir perjalanan seseorang. Dengan dukungan yang tepat dan kemauan untuk bangkit, pengalaman tersebut dapat menjadi titik balik untuk kembali menata kehidupan dan mengejar cita-cita.
Belajar, Berefleksi, dan Bergerak Bersama
Setelah sesi talk show dan sharing, peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti aktivitas di sejumlah pos yang didampingi oleh panitia dan fasilitator.
Dalam setiap aktivitas, peserta diajak berdiskusi, berinteraksi, serta merefleksikan berbagai situasi yang berkaitan dengan perundungan. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat secara aktif dalam memahami bagaimana seharusnya bersikap ketika menghadapi atau menyaksikan perundungan.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang tiga kategori lomba: Speech, Digital Poster, dan Short Movie. Sebelum pengumuman, peserta terlebih dahulu menyaksikan penayangan karya terbaik dari kategori Short Movie.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti deklarasi bersama dan penandatanganan komitmen gerakan anti-perundungan. Penandatanganan diawali secara simbolis oleh perwakilan Ketua OSIS dan kemudian dilanjutkan oleh seluruh peserta.

Deklarasi tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, saling menghargai, dan bebas dari perundungan.
“Alhamdulillah, Ustaz, acara berjalan lancar. GIVORUSH 2026 menjadi ruang bagi para pelajar untuk tidak hanya memahami perundungan, tetapi juga bergerak bersama untuk mencegahnya. Kampanye GIVORUSH tidak hanya berlangsung di dalam ruang acara, tetapi telah lebih dahulu disuarakan melalui berbagai karya kreatif para pelajar,” ujar Haya, siswa kelas XII yang menjadi Ketua Panitia GIVORUSH 2026.
Melalui GIVORUSH 2026, OSIS SMA Quran Asy Syahid menunjukkan bahwa melawan perundungan bukan hanya tentang mengatakan “jangan membully”, tetapi tentang membangun keberanian untuk peduli, berani bersikap, dan berani menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua.
Rush to Kindness, Crush the Bullying.
Segera Bertindak Baik, Hentikan Perundungan.







