Milenianews.com, Yogyakarta – Di zaman ketika semua hal ingin segera diunggah, dikomentari, dan diperdebatkan, ribuan orang di Yogyakarta justru melakukan sesuatu yang terasa asing: berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tak ada siaran langsung, tak ada adu argumen, apalagi perang komentar. Hanya langkah kaki yang beriringan dalam diam, seolah mengingatkan bahwa tidak semua jawaban harus diucapkan.
Malam 1 Suro kembali menjadi ruang perenungan bagi masyarakat Yogyakarta melalui tradisi Topo Bisu Mubeng Beteng, Selasa (16/6) malam. Ribuan peserta memadati kawasan Kraton Yogyakarta untuk menjalani laku tapa bisu, ritual tahunan yang mengajak setiap orang menepi sejenak dari riuhnya dunia dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Baca juga: Pohon Beringin di Alun-Alun Utara Jogja Tumbang, Berikut Mitos dan Filosofinya Bagi Masyarakat Jawa
Ritual Lama yang Tetap Bertahan di Tengah Zaman Serba Cepat
Prosesi dimulai dengan lantunan macapat pada pukul 21.00 WIB yang menghadirkan suasana khidmat. Setelah pembukaan sekitar pukul 23.00 WIB, peserta diberangkatkan tepat tengah malam untuk mengelilingi benteng Kraton sesuai rute yang telah ditentukan.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa setiap tahapan memiliki makna yang saling berkaitan. Macapat menjadi pengantar suasana batin sebelum peserta memasuki inti ritual, yakni berjalan mengelilingi benteng tanpa berbicara hingga prosesi selesai.
Rute perjalanan dimulai dari Bangsal Kamandungan Lor, melintasi sejumlah ruas jalan di sekitar benteng Kraton, kemudian kembali ke titik awal. Sepanjang perjalanan, peserta diminta menjaga ketertiban sekaligus memegang aturan paling penting: tetap diam.
Diam yang Ternyata Tidak Sesederhana Kedengarannya
Bagi sebagian orang, berjalan beberapa kilometer mungkin bukan persoalan besar. Namun, melakukannya tanpa berbicara justru menjadi tantangan yang sesungguhnya.
Anggota Paguyuban Abdi Dalem, KRT Wijayapamungkas, mengatakan Topo Bisu bukan sekadar tradisi berjalan kaki, melainkan latihan mengendalikan diri. Menurutnya, peserta diajak menahan ucapan, mengelola pikiran, sekaligus melakukan introspeksi selama perjalanan berlangsung.
Di tengah budaya yang sering menganggap semua hal perlu segera dikomentari, ritual ini seolah menjadi pengingat bahwa diam pun bisa menjadi bentuk kebijaksanaan.
Warisan Budaya yang Masih Relevan
Pemerintah Daerah DIY menilai tradisi Mubeng Beteng bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan ruang pendidikan nilai bagi masyarakat.
Baca juga: Sambut Ramadhan, BMH Yogyakarta Laksanakan Bersih Masjid-Masjid di Lereng Merapi
Plt Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni Disbud DIY, Rully Andriadi, menyebut tradisi tersebut mengajarkan ketertiban, kebersamaan, refleksi diri, hingga penghormatan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai itu dinilai tetap memiliki tempat, bahkan ketika kehidupan modern bergerak semakin cepat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








