Milenianews.com, Jakarta – Hadehh, Di negara lain, orang takut begal karena pelakunya membawa senjata. Di Indonesia, warga sekarang mulai takut karena pelakunya diduga datang sambil melompat pakai kain kafan.
Ya, terdengar seperti sinetron azab di tv, Tapi itulah fenomena yang belakangan viral di media sosial teror pocong yang disebut-sebut berkedok maling atau begal.
Baca juga:Â Mobil Dipecah di Depok 2 Tengah, MacBook dan Dompet Raib Dibawa Pelaku
Video-video berdurasi pendek mendadak memenuhi TikTok, Instagram, sampai grup WhatsApp keluarga yang biasanya cuma berisi foto cucu dan promo minyak goreng. Isinya hampir seragam sosok putih menyerupai pocong berkeliaran malam hari, mengetuk rumah warga, muncul di jalan sepi, bahkan disebut membawa senjata tajam.
Warga panik, ronda kembali hidup, dan sebagian orang mendadak jadi ahli paranormal dadakan hanya karena menonton video 30 detik dengan backsound horor.
Dari Konten Horor ke Dugaan Modus Kejahatan
Awalnya banyak yang menganggap fenomena ini sekadar prank murahan demi mengejar views dan masuk FYP. Namun, keresahan warga mulai meningkat ketika muncul dugaan bahwa aksi pocong tersebut dipakai sebagai modus untuk menakut-nakuti korban sebelum melakukan pencurian atau pembegalan.
Narasi itu menyebar cepat. Apalagi di tengah suasana malam kampung yang memang gampang memancing imajinasi liar. Sedikit suara aneh saja sudah cukup membuat warga keluar rumah sambil membawa senter, kayu, bahkan celurit.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan satu kenyataan pahit: media sosial hari ini lebih cepat menyebarkan kepanikan dibanding klarifikasi.
Satu video pocong lewat di TikTok, lima menit kemudian sudah berubah jadi cerita “katanya ada begal pocong bawa golok” di grup WhatsApp RT.
Tidak ada verifikasi. Tidak ada kepastian. Yang ada hanya kepanikan berjamaah, Dan seperti biasa, algoritma media sosial memang menyukai hal-hal absurd.
Semakin menyeramkan videonya, semakin tinggi peluang viralnya. Semakin warga takut, semakin banyak penonton datang, Ketakutan kini bukan cuma emosi, tapi juga komoditas digital.
Ketika Warga Mulai Sulit Bedakan Fakta dan Settingan
Yang paling mengkhawatirkan bukan cuma sosok pocongnya, melainkan efek sosial yang muncul setelahnya.
Warga jadi curiga terhadap orang asing yang lewat malam hari. Anak muda yang pulang nongkrong bisa diteriaki maling hanya karena memakai hoodie putih. Bahkan suasana kampung mendadak terasa seperti sedang syuting film horor low budget.
Fenomena ini juga memperlihatkan betapa tipis batas antara hiburan dan keresahan publik di era internet.
Dulu orang memakai kostum pocong sekadar untuk menakuti teman saat ronda. Sekarang aksinya bisa viral nasional, ditambah bumbu narasi begal, AI, editan dramatis, sampai caption provokatif yang sengaja dibuat agar netizen panik.
Baca juga:Â Film Horor “Lorong Kost” Tampilkan Teror Psikologis di Tengah Kehidupan Anak Kos
Pada akhirnya, fenomena ini bukan cuma soal pocong atau dugaan begal berkedok kain kafan. Masalah sebenarnya adalah masyarakat yang makin mudah digiring oleh ketakutan digital.
Orang-orang kini lebih cepat percaya video viral dibanding penjelasan resmi. Lebih yakin pada narasi anonim dibanding fakta lapangan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













