Milenianews.com, Jakarta – Langit Jakarta perlahan berubah warna ketika sore menua. Sisa cahaya matahari memantul di kaca-kaca gedung, lalu redup sedikit demi sedikit, seperti memberi isyarat bahwa hari segera berakhir. Di dalam bus TransJakarta yang melaju di antara padatnya jalan ibu kota, puluhan penumpang duduk dalam diam masing-masing. Sebagian menatap layar ponsel, sebagian memejamkan mata, dan sebagian lain menunggu satu hal yang sama, waktu berbuka puasa.
Ramadan di Jakarta tidak selalu memberi kesempatan untuk pulang tepat waktu. Banyak orang masih berada di jalan ketika azan Maghrib tiba karena terjebak macet, berpindah halte, atau duduk di kursi bus yang terus melaju tanpa jeda. Dalam perjalanan itulah, rasa lapar dan haus yang ditahan sejak fajar akhirnya menemukan waktunya untuk dilepaskan, meski bukan di meja makan, melainkan di kursi kendaraan umum.
Tahun ini, ada ruang kecil yang memberi kelegaan bagi mereka. TransJakarta memperbolehkan penumpang membatalkan puasa di dalam bus, dengan durasi maksimal 10 menit setelah azan Maghrib.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Kepala Departemen Humas dan CSR TransJakarta, Ayu Wardhani, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diberikan sebagai bentuk toleransi bagi pelanggan yang masih berada dalam perjalanan saat waktu berbuka tiba.
“Pelanggan diperbolehkan berbuka puasa di dalam bus, namun hanya untuk membatalkan puasa, seperti minum air atau makan makanan ringan, dengan waktu maksimal 10 menit,” ujar Ayu Wardhani, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (18/2/2026).
Ia menambahkan, setelah itu, pelanggan tetap diimbau untuk melanjutkan perjalanan tanpa mengonsumsi makanan berat di dalam bus demi menjaga kenyamanan bersama.
“Kami mengimbau pelanggan untuk tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan di dalam bus,” lanjutnya.
Kebijakan sederhana itu menjadi bentuk pemahaman bahwa perjalanan dan ibadah sering kali berjalan berdampingan, tanpa selalu memberi ruang yang ideal.
Baca juga: Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan, BMH Gelar Buka Puasa Bersama Santri di Mojokerto
Seteguk Air di Tengah Jalan Pulang
Masnah (55) memahami betul bagaimana rasanya berbuka puasa di tengah perjalanan. Perempuan itu menggunakan TransJakarta untuk pulang, melintasi koridor-koridor panjang Jakarta yang tak pernah benar-benar sepi.
“Sering sekali masih di bus pas Maghrib, apalagi kalau pulangnya agak telat,” ujarnya.
Ia biasanya sudah menyiapkan air minum di dalam tasnya. Bukan hidangan berbuka yang lengkap, hanya sesuatu yang cukup untuk membatalkan puasa setelah seharian beraktivitas.
“Yang penting bisa minum dulu. Rasanya langsung lega,” katanya saat diwawancarai pada Senin (23/03).
Di dalam bus, momen berbuka sering berlangsung tanpa suara. Tidak ada aba-aba. Hanya gerakan kecil dari botol air yang dibuka perlahan, tangan yang mengangkat makanan ringan, dan napas panjang yang dilepaskan setelah seharian menahan diri.
Tidak ada meja makan. Tidak ada kursi keluarga. Hanya kursi bus yang menjadi saksi perjalanan pulang.
Namun, bagi Masnah, itu sudah cukup.
“Kadang lihat orang lain juga buka puasa di bus, rasanya seperti sama-sama berjuang pulang,” ujarnya.
Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Berhenti
Jakarta adalah kota yang terus bergerak, bahkan ketika hari hampir selesai. Ribuan orang masih berada di jalan saat azan Maghrib berkumandang, berpacu dengan waktu dan jarak. Tidak semua dari mereka bisa berbuka di rumah. Sebagian harus menunggu, sebagian harus beradaptasi, dan sebagian lain harus menerima bahwa perjalanan adalah bagian dari kehidupan mereka.
Di tengah ritme kota yang tak pernah benar-benar berhenti, kebijakan TransJakarta memberi jeda kecil dengan sepuluh menit yang memungkinkan seseorang kembali merasakan dirinya sebagai manusia yang lelah, yang lapar, dan yang akhirnya bisa beristirahat, meski hanya sejenak.
Bagi Masnah, kebijakan itu lebih dari sekadar aturan.
“Itu membantu sekali. Jadi nggak harus menahan sampai turun. Kita tetap bisa berbuka walaupun masih di jalan,” katanya.
Sepuluh menit mungkin terdengar singkat. Namun, bagi mereka yang menghabiskan hari di luar rumah, sepuluh menit bisa menjadi ruang untuk bernapas kembali.
Antara Perjalanan dan Harapan
Ketika bus terus melaju melewati lampu-lampu kota yang mulai menyala, penumpang kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sebagian masih harus melanjutkan perjalanan panjang menuju rumah. Sebagian lain masih harus berpindah kendaraan.
Namun setidaknya, mereka telah melewati satu momen penting hari itu. Masnah menatap keluar jendela, melihat bayangan kota yang terus bergerak.
“Perjalanan memang panjang,” katanya pelan. “Tapi yang penting kita tetap sampai.”
Di dalam bus yang melaju tanpa henti, Ramadan menemukan bentuknya yang paling sederhana dari seteguk air, napas lega, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan, sejauh apa pun, selalu membawa seseorang lebih dekat ke rumah.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







