Menegur atau Melanggar? Dilema Moral Dunia Pendidikan

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Mata Akademisi, Milenianews.com –Pendidikan selalu menjadi pilar utama dalam membangun bangsa yang maju. Di dalamnya tersimpan harapan besar agar setiap anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri serta lingkungannya. Sekolah menjadi ruang penting tempat nilai moral dan kedisiplinan ditanamkan sejak dini, agar peserta didik memiliki arah hidup yang jelas dan tidak mudah terseret arus negatif zaman. Namun, dalam perjalanan pendidikan di Indonesia, nilai moral yang seharusnya menjadi fondasi justru kian terkikis oleh pengaruh lingkungan dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan dihadapkan pada beragam persoalan serius. Perubahan kurikulum yang terus bergulir belum sepenuhnya diiringi dengan penguatan karakter. Di saat yang sama, krisis moral di kalangan pelajar semakin tampak ke permukaan. Salah satu fenomena yang sulit diabaikan adalah kebiasaan merokok di kalangan anak sekolah. Rokok tidak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga mencerminkan lunturnya kepatuhan terhadap aturan sekolah serta melemahnya wibawa guru. Anak-anak yang seharusnya fokus belajar kini dengan mudah dijumpai merokok di sekitar lingkungan sekolah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka tidak lagi merasa takut ditegur, apalagi dimarahi, seolah kehilangan rasa segan terhadap nilai-nilai kedisiplinan yang dahulu dijunjung tinggi. Fenomena ini menjadi tanda bahwa pendidikan karakter belum tertanam kuat dalam diri sebagian generasi muda.

Belum lama ini, sebuah peristiwa di salah satu daerah kembali mengguncang dunia pendidikan. Seorang siswa kedapatan merokok di area sekolah dan mendapat teguran keras dari guru sekaligus kepala sekolah. Dalam kondisi emosi yang memuncak akibat rasa kecewa, guru tersebut menampar siswa di hadapan teman-temannya. Tindakan ini memicu reaksi keras dari pihak keluarga. Orang tua siswa merasa tidak terima dan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hak anak, sehingga menuntut agar kasus ini diproses secara hukum.

Baca juga: Realitas Pahit Guru Honorer di Balik Program Makan Bergizi Gratis

Peristiwa tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan luas di berbagai media. Publik terbelah. Sebagian pihak membela guru dengan alasan tindakan tersebut lahir dari tanggung jawab moral dan keprihatinan terhadap perilaku siswa. Di sisi lain, tidak sedikit yang menilai bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun tetap tidak dapat dibenarkan. Kasus ini kembali membuka dilema klasik dalam dunia pendidikan: bagaimana menegakkan disiplin dan nilai moral tanpa melanggar hak anak.

Guru di persimpangan tanggung jawab dan ketakutan

Guru berada pada posisi yang serba sulit. Mereka dituntut untuk mendidik, membentuk karakter, dan menjaga ketertiban sekolah, tetapi pada saat yang sama dibatasi oleh aturan ketat terkait larangan kekerasan dalam pendidikan. Ketika guru mencoba bersikap tegas, tidak jarang langkah tersebut justru berujung pada persoalan hukum dan sorotan publik. Akibatnya, banyak guru memilih bersikap pasif karena takut salah langkah, sementara perilaku siswa semakin sulit dikendalikan.

Jika ditelaah lebih dalam, persoalan ini sejatinya bukan semata tentang sebuah tamparan, melainkan tentang krisis moral yang lebih luas. Anak-anak yang merokok di usia sekolah menunjukkan lemahnya pengawasan dan bimbingan dari berbagai pihak. Banyak di antara mereka terpengaruh oleh lingkungan pergaulan, keinginan untuk terlihat dewasa, atau kebiasaan orang-orang di sekitarnya yang merokok tanpa rasa bersalah. Dalam kondisi seperti ini, peran keluarga menjadi sangat krusial.

Orang tua seharusnya menjadi benteng pertama dalam menanamkan nilai dan kedisiplinan. Rumah adalah ruang pendidikan paling awal dan paling berpengaruh bagi anak. Ketika orang tua tidak memberikan teladan yang baik, anak akan lebih mudah meniru perilaku negatif dari lingkungannya. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Ketika anak melakukan kesalahan, guru kerap menjadi sasaran utama, tanpa ada refleksi bahwa pembentukan karakter sejatinya dimulai dari rumah.

Guru memang tidak dibenarkan menggunakan kekerasan dalam mendidik. Namun, masyarakat juga perlu memahami beban moral yang mereka tanggung. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, penjaga nilai, dan figur pengganti orang tua di sekolah. Ketika melihat muridnya merokok, wajar jika guru merasa marah dan kecewa. Yang perlu dikoreksi adalah cara menegur, bukan niat mendidiknya. Tindakan spontan akibat emosi memang tidak dapat dibenarkan, tetapi empati terhadap niat tulus seorang pendidik juga tidak boleh diabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *