Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com –Kesejahteraan guru hingga hari ini masih menjadi persoalan panjang yang belum menemukan ujung penyelesaian. Di tengah berbagai program pembangunan pendidikan yang terus digaungkan, realitas hidup sebagian besar guru—terutama guru honorer—masih berada dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Profesi yang seharusnya menjadi pilar utama kemajuan bangsa justru kerap ditempatkan pada posisi paling rentan. Pengabdian yang besar tidak selalu diiringi dengan jaminan hidup yang memadai, sehingga isu kesejahteraan guru terus berulang dari tahun ke tahun tanpa kepastian.
Guru honorer merupakan gambaran nyata ketimpangan dalam sistem pendidikan. Mereka menjalankan tugas yang sama dengan guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN): mengajar, mendidik karakter, membimbing perkembangan peserta didik, serta menjadi teladan moral. Namun dalam praktiknya, status honorer menempatkan mereka pada lapisan terbawah dalam struktur kesejahteraan. Penghasilan yang diterima sering kali tidak sebanding dengan beban kerja, bahkan jauh dari standar kebutuhan hidup yang layak.
Baca juga: Realitas Pahit Guru Honorer di Balik Program Makan Bergizi Gratis
Status honorer dan ketimpangan yang dinormalisasi
Keberadaan label honorer yang melekat pada profesi guru menunjukkan adanya perlakuan berbeda dibandingkan profesi strategis lainnya. Dalam kehidupan sosial, jarang ditemukan penyebutan honorer pada tenaga medis, aparat penegak hukum, atau pejabat negara. Guru menjadi salah satu profesi yang seolah dilegalkan untuk berada dalam status sementara dalam jangka waktu sangat panjang. Kondisi ini membentuk persepsi bahwa profesi guru dapat dijalankan tanpa kepastian masa depan dan tanpa perlindungan yang utuh.
Situasi tersebut menghadirkan ironi yang mendalam. Guru adalah aktor utama dalam mencetak sumber daya manusia unggul, tetapi kehidupan mereka sendiri kerap berada dalam keterbatasan. Di ruang kelas, guru menanamkan nilai kerja keras, kedisiplinan, dan cita-cita kepada peserta didik. Di luar kelas, mereka harus berhadapan dengan realitas ekonomi yang menuntut ketahanan luar biasa. Tidak sedikit guru honorer yang terpaksa mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan harus mengorbankan waktu istirahat dan pengembangan profesional.
Dalam dinamika kebijakan publik, kesejahteraan guru honorer kerap muncul sebagai isu musiman. Setiap momentum politik menghadirkan narasi perubahan dan janji perbaikan nasib guru. Regulasi diumumkan, program afirmasi disosialisasikan, dan harapan kembali tumbuh. Namun dalam implementasinya, kebijakan tersebut sering tersendat oleh birokrasi, keterbatasan anggaran, serta perubahan aturan yang tidak konsisten. Akibatnya, banyak guru tetap berada pada kondisi yang sama, menanti kepastian yang tak kunjung hadir.
Ketidakpastian yang berlarut-larut ini berdampak langsung pada kondisi psikologis guru honorer. Mereka hidup di antara idealisme pengabdian dan tuntutan realitas ekonomi. Kelelahan tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara mental. Bertahun-tahun mengabdi tanpa kepastian status dan kesejahteraan menumbuhkan perasaan terpinggirkan. Meski demikian, banyak guru tetap bertahan karena dorongan nurani dan kecintaan terhadap dunia pendidikan.
Janji kebijakan yang datang dan pergi
Kesejahteraan yang tidak memadai juga berpotensi memengaruhi keberlanjutan profesi guru di masa depan. Ketika profesi guru tidak menjanjikan kehidupan yang layak, minat generasi muda untuk menekuni dunia pendidikan akan terus menurun. Kondisi ini berisiko melahirkan krisis pendidik berkualitas dalam jangka panjang. Pendidikan tidak akan mampu mencetak generasi unggul jika para pendidiknya terus bergulat dengan pemenuhan kebutuhan dasar.
Baca juga: Menegur atau Melanggar? Dilema Moral Dunia Pendidikan
Negara memiliki peran sentral dalam memastikan kesejahteraan guru sebagai bagian dari tanggung jawab konstitusional. Guru tidak seharusnya diperlakukan sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi jangka panjang bangsa. Penghapusan ketimpangan status, penyediaan sistem rekrutmen yang adil dan transparan, serta jaminan penghasilan yang manusiawi merupakan langkah mendasar yang harus diwujudkan secara konsisten. Tanpa komitmen yang kuat, kesejahteraan guru akan terus menjadi polemik yang diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya.
Guru tidak menuntut kemewahan ataupun keistimewaan berlebihan. Mereka hanya mengharapkan pengakuan yang setara atas profesi yang dijalani serta jaminan hidup layak dari pengabdian mereka. Ketika kesejahteraan guru diabaikan, ancaman tidak hanya menimpa kehidupan pendidik, tetapi juga masa depan kualitas pendidikan nasional.
Potret guru honorer hari ini mencerminkan bagaimana sebuah bangsa memandang pendidikan. Selama guru masih dibiarkan berada dalam bayang-bayang ketidakpastian, selama itu pula pendidikan akan berjalan tertatih. Kesejahteraan guru bukan sekadar isu profesi, melainkan cermin keseriusan negara dalam membangun peradaban melalui pendidikan yang bermartabat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













