Milenianews.com, Mata Akademisi – Bencana alam yang terjadi di Sumatera saat ini sering dipandang sebagai kejadian alamiah semata. Padahal, jika diperhatikan lebih dalam, banyak di antaranya merupakan akibat dari perilaku manusia sendiri. Banjir besar, longsor, kebakaran hutan, hingga kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat bukan hanya muncul karena curah hujan tinggi atau perubahan cuaca. Ada faktor yang jauh lebih mendasar, yaitu rusaknya hubungan moral antara manusia dan alam, khususnya hutan.
Ketika alam tidak lagi diperlakukan sebagai amanah, berbagai bencana menjadi risiko yang harus ditanggung bersama. Hubungan manusia dengan lingkungan yang semula harmonis perlahan berubah menjadi relasi eksploitatif, di mana alam dipandang sekadar sebagai objek pemuas kepentingan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, bencana bukan lagi sekadar musibah, melainkan konsekuensi dari pilihan manusia sendiri.
Hutan Sumatera dan Hilangnya Fungsi Penyangga Kehidupan
Hutan di Sumatera sejatinya memiliki peran yang sangat penting sebagai penyeimbang kehidupan. Ia menjadi habitat bagi berbagai satwa, menjaga kualitas udara, menyimpan cadangan air, serta berfungsi sebagai benteng alami ketika musim hujan tiba. Namun, fungsi-fungsi vital tersebut perlahan menghilang akibat pembukaan lahan secara besar-besaran, baik untuk perkebunan, industri kayu, maupun proyek pembangunan tertentu.
Kerusakan hutan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari rangkaian keputusan yang kurang bijak, baik dari pihak yang memiliki kewenangan maupun dari masyarakat yang bersentuhan langsung dengan lingkungan. Ketika hutan ditebang tanpa perhitungan, keseimbangan ekosistem pun runtuh, dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu wilayah, melainkan oleh masyarakat luas.
Krisis Moral dalam Kebijakan Lingkungan
Dari sisi kepemimpinan, persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari lemahnya moral dalam pengambilan kebijakan. Seorang pemimpin seharusnya mengutamakan kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat. Namun, realitas menunjukkan adanya kebijakan yang justru membiarkan hutan dibuka secara bebas.
Perizinan yang longgar, pengawasan yang lemah, serta pelanggaran yang tidak ditindak tegas mencerminkan adanya celah moral yang serius. Hutan kerap dipandang hanya sebagai sumber keuntungan ekonomi jangka pendek, bukan sebagai titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Ketika integritas pemimpin melemah, kerusakan lingkungan menjadi konsekuensi yang hampir tak terelakkan.
Peran Masyarakat dalam Memperparah Kerusakan
Meski demikian, tanggung jawab atas kerusakan lingkungan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pemimpin. Masyarakat juga memiliki peran besar dalam memperparah kondisi hutan. Praktik pembakaran lahan untuk membuka kebun masih sering dilakukan karena dianggap lebih cepat dan murah, tanpa mempertimbangkan dampak kabut asap yang membahayakan wilayah lain.
Selain itu, penebangan liar demi keuntungan jangka pendek masih terus terjadi. Kebiasaan sehari-hari seperti membuang sampah sembarangan, merusak hutan saat mendaki, atau mengabaikan aturan lingkungan juga turut mempercepat kerusakan. Tindakan-tindakan kecil tersebut, jika dilakukan secara kolektif, akan menimbulkan dampak besar terhadap ekosistem hutan.
Bencana sebagai Cermin Hubungan Manusia dan Alam
Bencana alam di Sumatera sejatinya mencerminkan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Ketika hutan dijaga, ia akan melindungi manusia dari bencana. Sebaliknya, ketika hutan dirusak, lingkungan kehilangan keseimbangannya, dan manusia harus menanggung akibatnya.
Banjir yang datang tiba-tiba, udara yang tercemar asap, serta hilangnya mata pencaharian masyarakat sekitar hutan menjadi bukti bahwa kerusakan lingkungan bukanlah persoalan abstrak. Dampaknya hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari, memengaruhi kesehatan, ekonomi, dan relasi sosial masyarakat.
Lemahnya Kesadaran Moral terhadap Alam
Kerusakan lingkungan juga menunjukkan bahwa moral manusia terhadap alam masih lemah. Banyak orang memahami pentingnya hutan, tetapi tidak semua memiliki kesadaran untuk menjaganya. Kesadaran moral bukan sekadar mengetahui mana yang benar, melainkan memilih untuk melakukan hal yang benar meskipun tidak menguntungkan secara langsung.
Dalam konteks hutan Sumatera, moralitas tercermin dari cara manusia menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan, bukan semata objek ekonomi. Tanpa kesadaran ini, perilaku merusak lingkungan akan terus berulang, dan bencana akan terus menjadi cerita yang sama dari tahun ke tahun.
Tanggung Jawab Bersama dan Pendidikan Nilai Lingkungan
Hubungan manusia dengan alam seharusnya dibangun atas dasar tanggung jawab. Hutan bukan milik satu kelompok, melainkan milik seluruh makhluk hidup. Ada satwa yang kehilangan habitat, tanah yang kehilangan daya serap, dan manusia yang harus menghadapi banjir serta polusi.
Nilai tanggung jawab ini perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan keluarga, sekolah, dan kebijakan publik. Tanpa landasan moral yang kuat, upaya pelestarian lingkungan hanya akan menjadi slogan tanpa makna.
Peran Pemimpin sebagai Teladan Moral
Pemimpin memiliki tanggung jawab moral yang tidak kalah besar. Mereka harus menjadi teladan dalam menjaga lingkungan. Kebijakan yang diambil harus berorientasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat.
Keterbukaan informasi, pengawasan yang ketat, serta penegakan hukum yang tegas harus diterapkan agar tidak ada pihak yang merusak hutan tanpa konsekuensi. Pemimpin yang berintegritas mampu mengajak masyarakat untuk bergerak bersama, karena perubahan besar hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah dan rakyat.
Baca juga: Banjir Sumatra dan Penebangan Hutan: Tinjauan Ontologi Lingkungan
Menjaga Hutan, Menjaga Masa Depan
Pada akhirnya, bencana alam di Sumatera bukan hanya berbicara tentang alam yang rusak, tetapi juga tentang moral manusia yang perlu dibenahi. Alam telah memberi manusia udara, air, pangan, keindahan, dan perlindungan. Namun, ketika manusia abai, alam pun kehilangan kemampuannya untuk melindungi.
Krisis lingkungan di Sumatera seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Kesadaran moral, baik di tingkat individu maupun kebijakan, harus dibangun kembali agar hutan yang tersisa dapat dijaga. Hutan bukan sekadar bagian dari alam, melainkan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Menjaganya berarti menjaga masa depan kita bersama.
Penulis: Naila Miftahul Jannah, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













