Kenapa Kita Sulit Lepas dari Layar? Kenali Popcorn Brain

POPCORN BRAIN

Milenianews.com Setiap hari kita diguyur konten tanpa henti. Menurut laporan Domo Data Never Sleeps 2024, dalam satu menit saja sudah ada 139 juta Reels yang diputar di Instagram dan Facebook. Konten datang silih berganti, cepat, pendek, dan selalu ada yang baru. Tidak heran kalau otak kita ikut terbiasa bekerja dalam ritme super cepat, bahkan lebih cepat dari yang kita sadari.

Psikolog Gloria Mark sudah meneliti hal ini sejak 2004. Ia menemukan bahwa kemampuan kita bertahan fokus di depan layar terus menurun. Kalau dulu kita bisa fokus selama dua setengah menit, kini perhatian rata-rata bertahan hanya 47 detik. Durasi itu hampir sama dengan panjang video pendek yang terus kita konsumsi setiap hari.

Baca juga: Neuroscientist : Pahami Otak, Kendalikan Perilaku

Fenomena ini kemudian diberi nama “popcorn brain.” Istilah yang belakangan banyak dibahas ini diperkenalkan oleh peneliti David Levy dan dipopulerkan lagi oleh Dr. Aditi Nerurkar dari Harvard lewat bukunya The 5 Resets. Popcorn brain menggambarkan otak yang terus “meletup” karena terbiasa menerima rangsangan digital tanpa jeda. Notifikasi, update, pesan baru, semua membuat pikiran terasa bergerak cepat, gelisah, dan sulit berhenti.

Popcorn brain bukan kondisi medis, tetapi pola reaksi otak yang tercipta karena kebiasaan kita sendiri. Ketika otak terbiasa dengan ritme cepat, hal-hal sederhana seperti membaca beberapa halaman buku atau duduk tenang tanpa ponsel jadi terasa sulit. Kita tahu harus berhenti, tetapi tangan tetap spontan mengambil ponsel, membuka layar, dan kembali menggulir.

Menurut Nerurkar, keadaan ini membuat kita sulit fokus, gampang stres, dan merasa tidak produktif meski sudah berjam-jam memegang ponsel. Otak bekerja terlalu cepat, sementara tubuh tidak diberi kesempatan untuk “melambat”. 

Baca juga: Dampak Video Pendek Terhadap Kesehatan Otak

Tips Meredakan Popcorn Brain

Untuk meredakan popcorn brain, ada beberapa langkah ringan yang bisa dilakukan. 

  1. Mengurangi waktu scroll menjadi 20 menit dua kali sehari bisa jadi awal yang baik. 
  2. Mematikan notifikasi juga membantu agar perhatian tidak terus “ditarik” oleh ponsel. 
  3. Meletakkan ponsel sedikit lebih jauh, sekitar tiga meter dari area kerja, bisa mengurangi godaan untuk mengeceknya setiap beberapa menit. 
  4. Dan yang paling penting, jangan simpan ponsel di samping kasur. Kebiasaan mengecek layar sebelum tidur atau sesaat setelah bangun hanya memperkuat pola popcorn brain.

Nerurkar menyadari bahwa perubahan ini tidak mudah. Karena itu ia menyarankan punya “pengganti” saat tangan otomatis ingin meraih ponsel, seperti membaca buku, menulis, memainkan fidget toy, atau sekadar berjalan sebentar. Pelan-pelan, otak akan kembali terbiasa pada ritme yang lebih tenang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *