News  

Prof Rokhmin Dahuri: Investasi dan Bisnis di Bidang ESG telah Menjadi Arus Utama

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri menjadi narasumber FGD “ESQ Kelautan dan Kehutanan’ yang digelar oleh Pandu Tani Indonesia secara virtual (Zoom), Kamis (5/1/2023). (Foto-foto: RD Institute)

Milenianews.com, Jakarta- Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University  Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengungkapkan,    investasi dan bisnis ESG di sektor kelautan dan perikanan meningkat pesat.

“Dalam satu dekade terakhir, investasi dan bisnis di bidang ESG (Environmental, Social, and Governance) telah menjadi arus utama di dunia,” kata Prof Rokhmin Dahuri mengutip data  ILO (2022).

Ia menjelaskan, pada aspek lingkungan berarti berinvestasi dalam pembangunan, investasi, dan kegiatan bisnis yang ramah lingkungan seperti: mengurangi emisi karbon, menggunakan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi produksi limbah, dan mematuhi peraturan lingkungan.

“Pada aspek sosial,  memastikan keselamatan tempat kerja, pekerjaan yang layak, keragaman dan inklusi, dan mengamati persyaratan data dan privasi untuk karyawan, dll,” kata  Prof Rokhmin saat menjadi narasumber FGD “ESQ Kelautan dan Kehutanan’ yang digelar oleh Pandu Tani Indonesia secara virtual (Zoom), Kamis (5/1/2023)

Baca Juga: Prof Rokhmin Paparkan Strategi Pengembangan Kolaborasi Pentahelix Wujudkan Kedaulatan Pangan

Prof Rokhmin — yang membawakan makalah berjudul “Pengembangan ESG Sektor Kelautan dan Perikanan untuk Peningkatan Daya Saing dan Pertumbuhan Ekonomi Insklusif Secara Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” — menambahkan, pada aspek tata kelola, tingkat gaji eksekutif, komposisi dewan, hak suara pemegang saham, sikap perusahaan terhadap suap dan korupsi.

“Secara global jenis investasi ini menyumbang antara satu dan dua dari setiap empat dolar investasi. Lebih dari 2.250 pengelola uang yang secara kolektif mengawasi aset senilai 80 triliun dolar AS  kini telah menandatangani Prinsip Investasi Bertanggung Jawab yang didukung oleh PBB,”  ujar Prof Rokhmin yang juga ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).

Investasi dan Bisnis ESG Perikanan Budidaya

Secara khusus Prof Rokhmin mengupas tentang investasi dan bisnis ESG perikanan budaya. Ia memaparkan sejumlah langkah yang harus dilakukan oleh stakeholder perikanan dan kelautan.

Pertama, revitalisasi semua unit usaha (bisnis) budidaya laut (mariculture), budidaya perairan payau (coastal aquaculture), dan budidaya perairan darat untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing, inklusivitas, dan keberlanjutan (sustainability)-nya.

Kedua, ekstensifikasi usaha di kawasan perairan baru dengan komoditas unggulan, baik di ekosistem perairan laut (seperti kakap putih, kerapu, lobster, dan rumput laut Euchema spp); perairan payau (seperti udang Vaname, Bandeng, Nila Salin, Kepiting, dan rumput laut Gracillaria spp); maupun perairan darat (seperti nila, patin, lele, mas, gurame, dan udang galah).

Ketiga, diversifikasi usaha budidaya dengan spesies baru di perairan laut, payau, dan darat.

Keempat, pengembangan usaha akuakultur untuk menghasilkan komoditas (raw materials) untuk industri farmasi, kosmetik, functional foods & beverages, pupuk, pewarna, biofuel, dan beragam industri lainnya.

Baca Juga : Prof Rokhmin Tegaskan Pentingnya Indonesia-Taiwan Tingkatkan Kerja Sama Kelautan Berkelanjutan

 

Namun Prof Rokhmin juga memberikan catatan. “Semua unit usaha pada program-1 (Revitalisasi), program-2 (Ekstensifikasi), dan program-3 (Diversifikasi) harus sesuai atau menerapkan: (1) economy of scale; (2) Integrated Supply Chain Management System (Pra-produksi, Produksi, Industri Pengolahan, dan Pemasaran); (3) teknologi mutakhir yang tepat (Best Aquaculture Practices, Industry 4.0); dan (4) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development),” ujar  Prof Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara).

Selain itu, kata dia, menerapkan Best Aquaculture Practices: (1) induk dan benih unggul (SPF, SPR, dan fast growing); (2) pakan berkualitas dan cara pemberian yang tepat dan benar; (3) pengendalian hama & penyakit; (4) menajemen kualitas air; (5) pond design & engineering; dan (6) biosecurity.

Juga, industry 4.0 technologies: Big Data, IoT, AI, Drone, Cloud Computing, dan Nanotechnology à “Precision, Efficient, Competitive, and Sustainable Aquaculture”.

Pentingnya Revitalisasi

Prof Rokhmin juga menekankan pentingnya revitalisasi dan pembangunan baru Broodstock Centers dan Hatcheries untuk momoditas unggulan (udang vaname, lobster, kerapu, kakap, bandeng, nila, patin, udang galah, rumput laut, dan lainnya) untuk menjamin produksi induk dan benih unggul (SPF, SPR, dan fast growing) dengan harga relatif murah dan produksi (supply) mencukupi untuk seluruh wilayah NKRI, kapanpun dibutuhkan.

Ia juga menegaskan pentingnya revitalisasi dan pengembangan industri pakan nasional: (1) berbahan baku lokal dengan daya cerna tinggi; dan (2) formulasi pakan yang tidak hanya berdasarkan pada kandungan (level) protein dan lemak, tetapi lebih kepada profil (persyaratan) nutirisi yang dapat secara spesifik memenuhi kebutuhan biota perairan yang dibudidayakan.

“Sehingga, kita mampu memproduksi pakan ikan/udang yang berdaya saing tinggi: kualitas unggul (top quality), harga relatif murah, dan volume produksi dapat memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara berkelanjutan. Ini sangat penting dan urgen !  Sebab, sekitar 60 persen  total biaya produksi untuk pakan,” ujar Prof Rokhmin Dahuri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *