Selaput Darah Berharga

selaput darah
selaput darah

Menikah, haruskah selalu berujung dengan punya anak atau momongan. Bagiku, semua percintaan setelah ataupun sebelum menikah itu omong kosong. Pada intinya, perempuan adalah makhluk paling tertindas di bumi ini. Mulai dari rela kesakitan di malam pertama hingga berkorban nyawa saat melahirkan, perempuan menjadi makhluk paling beresiko.

Ndo…, ibu sudah tua sekarang.. kapan kamu mau punya anak? Ibu, pingin momong cucu, anak dari kamu. Kamu menikah juga sudah cukup lama. 16 tahun, pernikahan mu tahun ini. Dan usiamu juga sudah tidak muda lagi. Masihkah kamu takut hamil, ndo??

***

Tuhan, mengapa harus ku jalani proses hidup yang seperti ini?? Jika aku boleh mengulang kelahiran ku tentu aku tak ingin memilih menjadi perempuan. Tapi, aku juga tak ingin menjadi laki-laki.

Setiap malam, ribuan pertanyaan dari orang-orang terdekat selalu saja menghantui benaknya. Raina, perempuan muslimah dengan busana anggun tertutup syar’i. Paham betul tentang syariah dan tata cara bergaul. Ia menikah dengan proses ta’aruf yang benar. Mendapat suami yang cukup sabar, sopan, ramah dan pandai menghargai perasaan perempuan. Pekerja keras, dan juga tak pernah protes sedikit pun tentang kesempurnaan pada Raina.

Berjalan 16 tahun pernikahannya, Raina belum juga hamil dan dikaruniai buah hati. Buah dari cinta, kasih sayang mereka. Tapi ini bukan karena ada masalah kesehatan pada diri Raina ataupun suami. Mereka sempurna secara lahiriah. Pasangan yang saling melengkapi dan menyayangi.

Suami Raina adalah laki-laki sholeh, pintar, penuh kasih sayang dan sangat bertanggungjawab, jadi orang terdekat yang paham betul kondisi Raina. Dengan kesabaran dan tanggungjawab, suami Raina selalu mendampinginya kemanapun. Sebab, ia begitu mencintai dan menyayangi Raina.

Sejak awal pernikahan, suami Raina adalah sosok laki-laki penyabar yang tak pernah menomorsatukan hubungan intim sebagai pelengkap utama pernikahan. Ia selalu sabar dan menerima dengan tulus, selalu menunggu Raina siap untuk melakukannya.

Bukan hanya, sehari, dua hari, sepekan atau dua pekan. Namun sudah ratusan bulan, kesempatan dan keinginan itu selalu ditolak Raina dengan tangisan.

Suami Raina, selalu saja luluh dengan air mata istrinya. Ia tak pernah tega untuk memaksa Raina melayaninya. Ia selalu menghargai Raina sebagai perempuan yang amat dicintainya. Suami Raina, amat menyayangi Raina hingga tak tega jika harus melihat Raina menangis karenanya.

Sebab itu, suami Raina tak pernah memaksa, meminta Raina melayaninya, ia ikhlas menunggu Raina hingga Raina siap melayaninya. Meski harapan dan penantian itu, tak berujung kapan waktunya. Dalam benaknya sebagai laki-laki sangat begitu ingin dilayani dan dipuaskan dengan pasangan halalnya. Tapi, keinginan itu berkali-kali selalu disimpan dan dikuburnya dalam-dalam, menunggu hingga Raina, istri tercintanya mau dengan ikhlas melayaninya tanpa merasa ada paksaan atau tangis air mata.

Raina. Bukan tidak tahu cara berbakti pada suami. Ia pun bukan tidak tahu akibat menolak ajakan suaminya. Ia paham betul tentang panasnya api neraka dan hukuman rajam hingga satu minggu, jika menolak ajakan suami.

Lagi-lagi Raina menangis sejadi-jadinya. Ia ketakutan yang luar biasa. Raina selalu saja takut untuk memulai hubungan intim itu. Di kepalanya penuh trauma dan ketakutan bahkan ia merasa kesakitan yang teramat sangat, jika diajak melakukan hubungan intim suami istri.

Ia selalu saja menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal dan pakaian yang begitu rapat, meski di depan suaminya. Ia tak pernah berani untuk mencoba bercinta dengan suaminya. Meski jika ditanya, apa ia mencintai suaminya? Ia akan menjawab bahwa ia amat mencintai suaminya.

Ia selalu saja berdalih, apa menjadi pasangan suami istri harus melakukan hal yang saling memuaskan dengan cara berhubungan intim. Haruskan sebuah pernikahan itu membuahkan tawa-tawa manja buah hati? Tidakkah hanya dengan saling menjaga dan melindungi sudah cukup untuk hidup bersama.

Raina, selama 16 tahun pernikahan masih perawan. Raina tak pernah berani mencoba untuk memulai bercinta dengan suami. Ia tak pernah merasa terangsang ataupun merasa ada klik di hati, walau sudah di bujug dengan rayuan, cumbuan atau apapun usaha lain dari suaminya.

Ketika, suaminya sudah mulai mendekat dengan rayuan dan cumbuan. Saat itu pula, Raina merasa ketakutan dan terancam. Ia takut akan selaput darah berharganya yang sobek. Ia tak pernah bisa menerima kesakitan malam pertama, yang menurut pasangan lain itu adalah surga dunia. Tapi baginya itu semua omong kosong, perempuan adalah makhluk yang tertindas.

Kakak perempuan Raina, pernah menyarankan untuk Raina terapi atau pergi rukyah. Tetapi Raina tidak mau, justru semakin ditekan seperti itu, Raina sering jatuh sakit hingga berhari-hari.

Semua bujuk rayu, nasehat serta masukkan dari kakak dan orang tuanya tak lagi bisa didengarnya.

Sang ibu, pada akhirnya pun meminta Raina untuk melepaskan suaminya, dengan cara meminta cerai atau rela di madu oleh suaminya. Agar suaminya bisa memilih perempuan lain yang bisa lebih membahagiakannya, dan tentunya untuk meneruskan generasi keluarga selanjutnya.

Saran ibu Raina pun, disampaikan Raina pada suaminya. Akan tetapi suami Raina menolaknya. Ia tak ingin melihat Raina sedih dan terluka lebih dalam, biarlah ia menjalani proses pernikahannya bersama Raina, sang istri tercinta dengan jalan seperti ini. Keputusan ini diambil suami Raina, sebab ia begitu mencintai dan menyayangi Raina. Suami Raina masih sanggup bertahan dan menunggu Raina, sampai suatu ketika keajaiban dari Allah datang. Ia yakin akan janji Allah, bagi orang-orang yang sabar dan salat.

—–

Tepat di hari pernikahannya yang ke 16 tahun, Suami Raina menerima tugas dinas ke Bengkulu. Pukul 05.00 WIB, suami Raina berangkat dari bandara Soeta menuju Bengkulu.

“Mas berangkat dinas dulu ya, sayang,” ujar suami Raina setelah subuh berjamaah.

Dengan mencium punggung tangan suaminya, Raina kembali meneteskan air mata. Ada kegelisahan yang tak biasa, ada kesadaran dosa yang luar biasa di hati Raina. Sebab, ia sadar selama 16 tahun tak bisa melayani suaminya sebagaimana seorang istri melayani suaminya.

Pecah tangis Raina di dalam pelukan suaminya. Ia merasa seperti akan kehilangan suaminya untuk selamanya.

Tapi, suami Raina, dengan lembut dan sabarnya kembali menenangkan Raina. “Mas pergi dinas seperti biasa, hanya 5 hari saja, kalau kamu takut di rumah, kamu bisa menginap di rumah kakak ya. Jangan menangis lagi, Mas selalu menerimamu apa adanya, mencintaimu dan menyayangimu setulus hati. Jaga dirimu baik-baik ya,” pesan terakhirnya sebelum meninggalkan rumah.

Tepat pukul 13.00 WIB, Raina menerima panggilan telpon yang tak sempat terjawabnya sebanyak 10x dari nomor tak dikenalnya. Sebab, Raina sedang sibuk mengolah data hasil riset di kantornya.

Dia hanya bergumam dalam hati, “Siapa ini ya??,” katanya. Nomor telpon tak dikenal, tak ada dalam kontak phone nya.

Selang, beberapa saat, nomor itu kembali menghubunginya.

“Hallo selamat siang, betul dengan Ibu Raina Rahmawati?,” ujar suara laki-laki di seberang sana dalam genggaman ponselnya.

Raina menjawab dengan nada ragu. Iya betul, ini dengan saya sendiri. “Saudara siapa ya?,” tanya Raina pada orang yang belum diketahui namanya itu.

“Saya dari dinas kesehatan kota Bengkulu, bu. Apakah Rano Eka Putra, suami Ibu?,”. tanya suara itu.

Iya betul Pak, itu suami saya. Ada apa ya Pak.

Mohon maaf ibu, mau mengabarkan bahwa Bapak Rano mengalami kecelakaan dan saat ini sedang kritis. Kami membutuhkan banyak kantung darah untuk tranfusi.

Halo…halooo…haloo….bu, bu bu….

Tak terdengar lagi, Raina jatuh pingsan mendengar kabar itu. Ia tak sadarkan diri, tak kuasa menerima kabar kecelakaan suaminya. Informasi yang diterima pun belum jelas dari mana dan dari siapa.

====

“Assalamu’alaikum, Raina..!!,” suara dari balik pintu luar. Yang ternyata sengaja datang mampir ke rumah Raina, saat pulang mengantar anaknya sekolah, yang tak jauh dari rumah Raina.

Raina,,, Raina…. Kenapa pintu tidak dikunci ya. Mba Ria, kakak Raina masuk ke rumah Raina, begitu ia berucap salam, namun tak dijawab oleh Raina. Katanya, sedang bekerja di rumah, tapi kok tak ada yang jawab salam. Raina..Assalamu’alaikum Raina….!!

Subhanallah…Rainaaaaaaaaaaaa………….kamu kenapa Raina??

Halo…halooo bu, bu Raina..maaf tak terdengar suara anda, maaf bu Raina..masih dengar kah suara saya.. suara di balik ponsel itu terus saja terdengar lirih. Kemudian gagang ponsel yang terjatuh tepat di sebelah Raina yang terkapar pingsan, diambil dan dijawab oleh Mba Ria.

Iya hallo, ini dengan siapa? Kata Mba Ria pada suara di dalam ponsel Raina.

Mohon maaf bu, ini dengan Budi, Dinas Kesehatan di Klinik Kesehatan Pratama Jaya, Bengkulu. Kami menerima korban kecelakaan jalan raya bernama Rano Eka Putra, saat ini kondisi korban dalam keadaan kritis dan membutuhkan penganganan segera sebab harus transfusi darah. Kami, berniat memindahkan korban ke rumah sakit besar di kota Bengkulu, Bu. Maka kami membutuhkan persetujuan dari keluarga korban. Kami, menemukan identitas Bu Raina Rahmawati dalam ponsel genggam korban.

Maaf, kami bicara dengan siapa ini sekarang? Betul kah ini nomor Bu Raina Rahmawati?

Ia betul ini, nomor Raina. Saya kakak kandung Raina. Kebetulan, adik saya Raina pingsan saat ini. Saya sebagai kakaknya, bisa bertanggungjawab Pak, silahkan ambil tindakan terbaik dan tercepat penanganannya. Kami akan segera terbang ke sana. Boleh minta alamat jelas RS yang dituju Pak, supaya kami bisa langsung ke sana.

***

Rafflesia Hospital, Padang Jati, Ratu Samban, Kota Bengkulu. Mba Ria dan suaminya serta Raina tiba di rumah sakit tempat Rano Eka Putra dirawat. Saat ini keadaan suami Raina masih kritis, di ruang ICU.

Rano mengalami kecelakaan setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat selamat di bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Dan kecelakaan terjadi ketika mobil dinas jemputannya, hendak mengantarkan dia ke hotel, tempatnya menginap selama 5 hari di Bengkulu.

Kendaraan dinas yang ditumpanginya, melintas di jl Raya Padang Kemiling, Slebar, Bengkulu tak jauh dari bandara mengalami kecelakaan beruntun. Mobil dinas yang ditumpanginya terhimpit dua kendaraan lain, di depan dan di belakanya.

Rano, mengalami luka di kepala, kedua kakinya patah. Pendarahan yang di kepala teramat parah, hingga mengeluarkan banyak darah. Maka, ia butuh transfusi darah.

PMI sudah dihubungi, keluarga dan rekan sudah dihubungi untuk dimintai tolong terkait pencarian golongan darah dengan resus yang sama dengan Rano. Tapi, semua belum mendapatkan hasil.

Adakah, Raina, kerabat dari tuan Rano? Tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.

Raina, bergegas beranjak dari tempat duduknya sambil terus terisak tangis. Raina digandeng oleh mba Ria.

Raina, silahkan masuk ruang ICU, sepertinya pasien membutuhkan anda. Sebab, sudah 1 jam ini dia mengigau, menyebut nama Raina.

Baik, dok. Ini Raina, istri dari Rano. Saya, Ria, kakak dari Raina. Boleh saya turut menemani Raina, dok?. Boleh tapi tolong 2 orang saja.

Baik, dok. Terimakasih.

Dalam ruang ICU, Raina langsung menggengam erat tangan suaminya, menciumnya dan berulang kali berkata, “Maafkan Raina, mas”. Sambil terus menangis dan mencoba bertahan, ia terus saja mengucap kata maaf.

Mba Ria, membisikan di telinga Raina. Bantu suami mu, dengan dzikir dan syahadat. “Kamu jangan hanya menangis saja, suamimu butuh dukunganmu,” ucap mba Ria.

Raina pun mengikuti saran mba Ria. Namun, tak sampai 30 menit, tetiba monitor pemantau detak jantung yang berada tak jauh dari sisi Raina. Berbunyi sangat kencang. Nuuuuuuuttttttt…. Dan di monitor kecil itu, hanya ada gambar garis lurus saja.

Mba Ria pun, segera memanggil dokter jaga. Dok…dok… dokter.. tolong dok!

Raina dan mba Ria, diminta untuk mundur dan menjauhi Rano, sebab tim dokter berusaha untuk menangani juga mengecek kondisi Rano. Beberapa kali, satu dokter mamasang alat kejut jantung di dada Rano. Dan akhirnya,………….

Dokter berkata, mohon maaf, kami tim dokter tidak berhasil menyelamatkan nyawa pasien. Semoga keluarga dan kerabat dapat memaklumi dan ikhlas atas ujian ini.

Tangis pun kembali pecah di ruang ICU itu, Raina kembali pingsan.

Sebab, ia meratapi kepergian suami tercinta yang tak sempat dibahagiakan oleh nya. Perasaan bersalah dan terpukul yang mendalam, membebani pikirannya. Hingga berkali-kali jatuh pingsan. Tak kuasa Raina, menerima ujian ini.

Rano akhirnya pergi untuk selamanya, meninggalkan jejak cinta mendalam pada sang istri. Selamat jalan Rano. Semoga engkau tenang di sana.

 

 

Respon (5)

  1. Semoga Raina dibukakan pintu hatinya dan menjadi istri yg lebih sholehah dg semua keterbatasan yg ada pada istri, doa yg sama untuk kita semua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *