Oleh: Dea Affriyanti
Didepan rumah Sang Ilahi
Yang mungkin kebetulan atau memang kutukan
Rupanya memang Ilahi lah yang menganugerahi
Karena gocekan fajar memang tak bisa tergantikan
Posturnya semampai, kulitnya sawo matang
Kuajak berbincang padahal rasa sudah tak karuan
Kusebut nirankara Tuhan sedang bermain dengan cara melintang
Pada moleknya kota yang tengah menjalankan program penghijauan
Sepertinya bercanda pada sebuah tanda
Kita yang tak paham sebuah kapal pesiar yang akan berlayar
Kita yang berujung sesal karena ombak menggulung tanpa agenda
Dan lawasnya warung telepon yang memang harus berbayar
Terpisah oleh waktu padahal ingin sekali bertemu
Abadi, sendiri, di kaki sendiri
Lumpuh digenangan rasa jemu
Teruntuk kita yang berpegang teguh akan ilmu