Kue Pancong 2019

puisi kue pancong 2019

Oleh: Dea Affriyanti

 

Didepan rumah Sang Ilahi

Yang mungkin kebetulan atau memang kutukan

Rupanya memang Ilahi lah yang menganugerahi

Karena gocekan fajar memang tak bisa tergantikan

 

Posturnya semampai, kulitnya sawo matang

Kuajak berbincang padahal rasa sudah tak karuan

Kusebut nirankara Tuhan sedang bermain dengan cara melintang

Pada moleknya kota yang tengah menjalankan program penghijauan

 

Sepertinya bercanda pada sebuah tanda

Kita yang tak paham sebuah kapal pesiar yang akan berlayar

Kita yang berujung sesal karena ombak menggulung tanpa agenda

Dan lawasnya warung telepon yang memang harus berbayar

 

Terpisah oleh waktu padahal ingin sekali bertemu

Abadi, sendiri, di kaki sendiri

Lumpuh digenangan rasa jemu

Teruntuk kita yang berpegang teguh akan ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *