Tak Kenal Kata Menyerah

Tak Kenal Kata Menyerah

Hai, perkenalkan aku, Niswatin, seorang pelajar SMA yang suka melakukan penelitian. Sejak di bangku SMP aku sudah bergabung dalam tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahku. Kata orang, aku itu orangnya memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Ya, aku menyadari hal itu. Aku memang selalu penasaran akan suatu hal hingga membuatku ingin melakukan penelitian dan experince.

Tujuanku melakukan ini sederhana, aku hanya ingin bisa menciptakan inovasi yang nantinya bisa bermanfaat, baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarku. Tidak mudah memang jalannya. Aku harus berulang kali melakukan riset data penelitian terdahulu. Hal ini dilakukan sebagai bahan referensi sekaligus bisa membantu untuk merancang kebaruan apa yang akan diberikan.

Seperti KIR telah melekat dalam diriku, sebab itu di bangku SMA aku pun memilih untuk bergabung ke dalam tim KIR. Ternyata menjadi tim KIR di SMA ku itu cukup sulit, karena harus melewati tes seleksi terlebih dahulu. Awalnya aku juga merasa tidak percaya diri, melihat teman-temanku yang ikut seleksi bukan orang yang biasa-biasa saja. Mau tahu hal luar biasa yang mungkin kalian tidak akan mudah untuk mempercayainya.

Baca juga: Coretan Asa pada Arunika

Disclaimer saja, sekolahku adalah sekolah swasta yang berisikan anak-anak kurang mampu. Yups, kami di sini sekolah dengan beasiswa full yang diberikan oleh pihak yayasan. Mulai dari kebutuhan sekolah hingga keperluan logistik di asrama. Meskipun kami berasal dari keluarga yang kurang mampu atau kasarnya kalian sering menyebutnya miskin. Entahlah, sekarang aku sudah tidak terlalu memikirkannya.

Di sini kami bersama-sama berusaha untuk membuktikan kepada dunia bahwa kami juga bisa memberikan kontribusi kepada bumi. Salah satunya dengan menjadi seorang inovator. Tahun pertamaku di SMA, aku disibukkan dengan mengikuti berbagai lomba terutama dalam bidang karya ilmiah.

Akan tetapi, usaha yang aku jalani tidak semudah itu. Telah banyak dan berulang kali aku mengikuti lomba tidak mendapat juara. Hal ini membuat tidak sedikit orang sering meremehkan aku. Mereka bahkan tanpa memiliki rasa empati mengatakan ucapan yang menyakiti hati kecilku.

“Kenapa sering ikut lomba kalau akhirnya kalah?”
“Kenapa sering dispen untuk ikut lomba, meninggalkan pelajaran di kelas, tapi akhirnya lomba tidak juara, ketinggalan materi, di kelas tidak bisa mengikuti materi?”
“Kenapa sih mau buang-buang waktu bermain sosmed cuma untuk mengerjakan lomba?”
“Kenapa kamu lebih merelakan waktu tidurmu cuma untuk mengejar deadline?”

Perkataan-perkataan mereka memang sempat membuatku terpuruk. Aku coba berpikir lagi, memang ada benarnya juga perkataan mereka itu. Aku juga sering bertanya kepada diriku sendiri, “kenapa aku mau dan rela untuk menyia-nyiakan waktuku untuk hal yang tidak ada ujungnya, tidak ada harapannya?”

Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi. Menurutku salah satu cara untuk berprestasi sekaligus memberikan manfaat kepada orang sekitar, yaitu dengan menjadi pelajar KIR. Dengan aktif ikut serta dalam tim KIR dan mengikuti lomba karya ilmiah,  dimaksudkan agar proposal gagasan inovasi yang aku tuangkan, kelak bisa diwujudkan menjadi nyata.

Memang tidak semudah itu untuk menemukan ide kebaruan, mencari solusi masalah yang autentik, serta mengaplikasikan dalam visual nyatanya. Sudah berkali-kali aku mengalami kegagalan. Setiap lomba yang aku ikuti seperti belum berpihak kepadaku. Mulai dari lomba tingkat SMA yang diadakan oleh sekolah SMA lain, lomba tingkat SMA yang diadakan oleh universitas, bahkan lomba yang diadakan oleh pemerintah daerah.

Baca juga: Meraih Mimpi

Semua itu belum memberikan hasil sesuai harapanku. Aku pikir, ini hanya akan membuang-buang waktuku saja. Tapi, aku ingat kembali pesan dari kedua orang tuaku dan guru-guruku, bahwa “apa yang menjadi takdirmu tidak akan melewatkanmu”.

Jatuh lalu bangkit lagi, sudah berkali-kali aku lakukan. Sampai detik ini aku selalu menguatkan diri sendiri. Aku katakan pada diriku, “gagal itu tidak apa-apa, yang penting jangan sampai menyerah.” Karena suatu perubahan itu di mulai dari hal-hal yang kecil dulu. Sampai di mana aku sudah merasa sangat frustasi, aku ajak diriku untuk istirahat sejenak.

Ku pikir tidak semuanya harus di capai sekarang. Ingat, aku hanya sedang istirahat, bukan menyerah dan berhenti untuk menjadi peneliti. Aku coba me time untuk mengistirahatkan pikiran dan mentalku. Kegagalan sepertinya memang sudah menjadi makananku, tapi rasanya selalu belum siap kalau aku harus kembali mendengarnya.

Untuk mengatasi kegalauanku itu, aku coba untuk mengikuti lomba di bidang cinema video. Aku mengajak dua orang temanku sebagai rekan satu tim. Jujur aku tidak mau berharap terlalu tinggi, lomba ini ku anggap sebagai penghibur hatiku yang sedang lara.

Tapi, kalian tahu, di sini Tuhan memberiku sebuah keajaiban sekaligus obat penawar. Video timku dinyatakan sebagai pemenang juara 2 dalam Lomba Vlog Tentang Keanekaragaman Hayati 2023. Rasa syukur dan haru menjadi satu dalam diriku. Kemenangan ini membangkitkan kembali semangatku untuk menulis karya ilmiah.

Di semester dua, tahun pertamaku, aku kembali aktif dalam kegiatan menulis karya ilmiah. Aku pikir ini adalah kesempatanku untuk membalas kegagalanku di semester pertama kemarin. Tidak ada kata terlambat bukan, selagi kita masih mau berusaha.

Aku kembali diingatkan tentang pesan yang pernah kedua orang tuaku dan guruku katakan terhadap diriku, “apa yang menjadi takdirmu, tidak akan melewatkanmu”. Seperti Tuhan tahu bahwa hamba-Nya yang satu ini telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu Tuhan berikan hadiah di semester 2 ini.

Baca juga: Bangkit Karena Harapan Atau Menyerah Karena Cobaan

Aku berhasil menyabet juara 1 lomba karya tulis ilmiah dalam event Jambore Pelajar 2023. Di tahun yang sama pula aku mendapat juara harapan 1 lomba Peneliti Belia tingkat Provinsi Jawa Tengah 2023 bidang komputer. Dan paling Masyallah aku bisa menjadi finalis nasional dalam Lomba ASTRA Honda Motor Best Students (AHMBS) 2023, sekaligus menjadi perwakilan dari Provinsi Jawa Tengah.

“Nikmat mana lagi yang engkau dustakan”. Namun, ini belum apa-apa, aku masih harus terus untuk belajar lagi. Aku sadar, bahwa keberhasilanku saat tidak semata hanya karena ikhtiar dan doaku saja, dibalik layar ada kedua orang tuaku, guru-guruku, serta teman-teman yang selalu menghiburku kala aku sedang down.

Dari sini aku hanya ingin mengatakan bahwa, “tidak semua harus jadi dalam satu waktu. Tidak semua apa yang kamu inginkan cepat terkabulkan. Maka teruslah berproses menjadi dirimu yang lebih baik. Tidak ada kata sia-sia dalam setiap prosesnya. Dan percayalah bahwa Tuhan itu tidak tidur, Ia melihat seberapa sungguh-sungguh kamu dalam berusaha. Maka dari itu, istirahatlah jika memang kamu sudah membutuhkan. Lalu lanjutkan usahamu kembali.”

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Penulis:  Dila Sri Istiqomah, Siswi SMA Unggulan CT Arsa Foundation Sukoharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *