Risa Amira Anak Ibu-ku

Oleh : Qotrunnada Fadhillah

20 tahun yang lalu

Tepat di hari ini, 20 tahun yang lalu mama pergi meninggalkan aku dan papaku yang sakit karena kecelakaan sepeda motor saat papa ingin menjemput mama di stasiun kereta. Semenjak papa sakit, papa tidak lagi bekerja di kantor, papa hanya jadi tukang kebun di perumahan mewah dekat kami tinggal, itu pun tidak setiap hari papa bekerja di sana.

Ketika pemilik rumah sudah merasa halaman rumahnya penuh rumput liar atau beberapa tanaman hias perlu dirapihkan maka papa baru dipanggil ke rumah itu. Dari penghasilan itu memang tidak cukup untuk kebutuhan kami bertiga apalagi saat itu aku sudah kelas tiga sekolah dasar dan papa harus rutin berobat ke dokter setiap bulannya.

Awalnya mama izin ke papa untuk pergi ke Jakarta, katanya untuk merantau dan bekerja di jakarta. Papa saat itu setengah hati, antara mengizinkan dan juga tidak mengizinkan. Namun mama protes dengan keadaannya saat ini dan berdalih bahwa kebutuhan semakin banyak dan dia tidak sanggup lagi jika banyak berhutang pada tetangga. Mama bilang, mama harus bekerja di kota untuk membantu papa penuhi kebutuhan. Akhirnya mama pergi dengan izin yang setengah hati dari papa. Papa hanya meminta mama jaga kesehatan dan jangan lupa sholat.

15 tahun lalu

Setelah kepergian mama merantau ke Jakarta, lima tahun terakhir mama masih memberikan kabar dan masih sering pulang meski hanya sebulan sekali atau paling lama tiga bulan sekali. Dengan mama bekerja di Jakarta, memang biaya pengobatan papa jadi lebih ringan. Namun jika melihat tubuh papa yang semakin kurus karena termakan virus, aku selalu sedih.

Saat itu aku sudah SMP jadi sudah sedikit mengerti dan bisa sedikit membantu merawat papa dan antar papa kontrol ke dokter. Hanya terkadang jika papa sedang drop aku suka bingung harus berbuat apa. Kadang papa hanya bilang “maafkan papa ya nak, papa merepotkan kamu terus,” saat itulah hatiku terasa teriris dan seketika itu aku langsung teringat mama. Ingin rasanya aku berteriak, “pulanglah mama”.

Jika sedang sakit begitu badan papa menggigil padahal suhu tubuhnya panas. Dan biasanya papa hanya minta diselimuti. Namun yang ku kagum dari papa, papa teramat sabar dan ikhlas, saat sakit seperti itu pun tak lepas lisannya dari membaca kalimat tasbih dan istighfar. Dan jika masih bisa dibuat berjalan, jika adzan sudah memanggil maka papa tetap sholat di mesjid dekat rumah. Dan biasanya aku pun diajaknya ke masjid.

12 tahun lalu

Mama jadi jarang sekali memberi kabar dan tidak pulang. Papa terkadang meminta aku menelpon mama melalui wartel yang ada di balai kota, untuk menanyakan kabar mama. Namun terakhir aku menelpon mama, terdengar nada suara mama yang marah dan berkata “Azzam, sudah tidak usah lagi telpon-telpon mama yaaa, mama sekarang sudah pindah kerja dan mama sibuk sekali, bos mama juga tidak suka jika mama sering terima telpon, Azzam jaga baik-baik papa”. Setelah itu mama jadi susah sekali untuk dihubungi dan nomor telpon nya tidak lagi bisa dihubungi.

10 tahun lalu

Sakit papa semakin parah, karena sudah jarang sekali kontrol ke dokter. Karena mama tidak lagi pulang dan entah bagaimana keadaannya. Papa pun sudah tidak lagi bekerja sebagai tukang kebun. Saat itu aku yang bisa membantu papa, aku bekerja di salah satu warung makan di depan balai kota. Lumayan gajinya bisa buat kebutuhan sehari-hari kami berdua dan beli obat papa.

Tapi, kerja di warung makan ini memang sangat menyita waktu karena aku harus berangkat pagi sebelum subuh dan pulang malam sekali. Sangat sering saat tiba di rumah, ku temui papa sudah tertidur di dipan depan pintu rumah. Meski tubuhnya terlihat kurus dan lunglai digerogoti penyakit, namun papa selalu menunggu aku pulang dari bekerja. Aku sudah sering bilang padanya, jangan menunggu aku pulang karena di luar dingin, dan papa lebih baik istirahat di kamar. Namun papa sering menjawabnya, “papa menunggu kamu sambil baca al-qur’an dan dzikir, jika di depan pintu itu adem”. Tapi ya setelah baca papa sering tertidur di dipan depan pintu rumah.

5 tahun lalu

Saat itu lah aku rasakan sakit yang teramat dalam seakan dunia ini menjadi hampa tanpa rasa. Sepulang bekerja tak ku temui papa di dipan depan rumah atau pun di kamarnya. Aku berteriak dan mencari bertanya pada tetangga kemana papa, namun tak ada yang melihatnya. Aku lalu mencarinya hingga ke luar desa sampai ke balai kota. Tak ku temui papa. Aku hanya takut papa celaka, tapi aku selalu berdoa dalam hati semoga papa selalu dilindungi Allah dan tidak terjadi apa-apa dengan nya.

Hingga keesokan harinya aku izin tidak bekerja untuk mencari papa, aku mulai menyisir beberapa Rumah Sakit di pinggir kota, mungkin ada papa di sana. Tapi tidak aku temui, sampai ku putuskan untuk mencarinya di kantor polisi, aku laporkan kehilangan karena sudah 2×24 jam papa tidak pulang. Aku pinta di lima waktu sholat ku pada Sang Pemilik agar papa dijaga dan dilindungi.

Ku mohonkan pada Sang Khaliq agar papa dapat kembali pulang, aku belum bisa membahagiakannya, aku ingin merawatnya hingga sembuh. “maafkan aku papa, aku lalai tak menjaga papa, aku anak yang tidak berbakti”.

5 tahun 10 hari

Pagi itu setelah subuh, fajar pagi pun baru saja menyingsing. Penuh haru bahagia rasa ini, aku terima kabar dari tetangga yang sudah jarang sekali bertemu, dia mengirimkan pesan lewat ibu pemilik warung tempat aku bekerja, mengabarkan bahwa dia pernah melihat papa ku arah stasiun, dia berjalan kaki. Lalu aku mengingat apakah ada kerabat atau saudara di dekat stasiun.

Ketika jam istirahat siang, aku meminta izin pemilik warung tempat aku bekerja untuk mencari papa ku ke arah stasiun. Dalam perjalanan menuju ke sana baru aku ingat bahwa papa pernah cerita, papa punya sahabat lama yang tinggal dekat stasiun. Pikiran aku melayang, hatiku penuh harap semoga papa ada di sana dalam keadaan baik-baik saja.

Setiba nya di sana, bahagia tak terkira rasanya aku menemukan papa dalam keadaan sehat. Lalu kuajak papa pulang dan berterimakasih pada sahabat papa yang telah menjaga papa selama kurang lebih dua pekan ini. Dalam perjalanan pulang ku tanya pada papa kenapa Ia tidak meninggalkan pesan atau bilang sama aku jika ingin pergi ke rumah sahabatnya. Namun papa hanya tersenyum dan bilang “papa sudah cukup tua, tak perlu kamu khawatirkan seperti itu, papa juga tidak ingin selalu merepotkan kamu”.

Esok harinya papa ingin ikut aku berangkat bekerja, katanya “papa ingin sholat subuh di dekat balai kota, di sana masjidnya adem dan sejuk”. Tak kuasa aku menolaknya, agar lekas sampai di sana dan tidak naik turun kendaraan aku ajak papa naik motor butut ku. Hampir sampai masjid balai kota sekitar kurang lebih 200 meter pas pertigaan tepat di sisi kanan masjid ada sebuah jalan kecil, dan tiba-tiba mobil berwarna abu-abu melintas tanpa memberi tanda rambu kendaraan dengan kecepatan tinggi, mobil itu menabrak kami, papa terpental sekitar 100 meter kebelakang dan aku tersungkur ke pinggir trotoar.

Terjatuhlah aku, sepeda motorku lepas kendali. Dengan tertatih aku berjalan menuju papa yang sudah tergeletak. “Papaaaaaaaa, bangun Paaa”. Kuangkat kepalanya dan darah mengalir deras. Seketika itu langsung ku tengok kendaraan yang tadi menabrak kami. Alhamdulillah kendaraan itu tidak langung melarikan diri. Mobil merci abu-abu itu menepi ke bahu jalan. Spontan kuteriaki pengendara mobil yang tak juga keluar itu. “Keluarrrrrr kau………………. lihat hasil kecerobohan kau…!!!”.

Keluarlah sosok perempuan cantik tak berhijab dan terdiam di depan pintu mobilnya. Aku marahi wanita itu, dan aku mintai dia pertanggungjawaban, aku minta dia untuk membawa papa yang sudah terkapar di aspal itu ke Rumah sakit. Dan wanita itu hanya terdiam tanpa kata. Tak lama, banyak jamaah masjid datang dan mengangkat papa ke mobil abu-abu milik si wanita itu. Lalu kukatakan pada wanita itu, “ayo segera ke Rumah Sakit”.

Sampainya di Rumah sakit, papa langsung masuk ruang ICU, papa pendarahan hebat tak sadarkan diri.

5 tahun 20 hari

Sepuluh hari sudah papa di ICU tak sadarkan diri, kritis. Dan wanita itu bertanggungjawab atas kelalaiannya. Dua hari sekali ia datang menjenguk dan tanya kabar tentang papa. Tapi aku sebenarnya tak butuh itu. Yang ku inginkan papa kembali sehat dan bisa bersama ku lagi. Aku belum bisa membahagiakannya, mama pun belum sempat aku cari.

Di setiap malam di samping tempat tidurnya aku selalu baca kan Al-Quran. Dan tiap di sepertiga malam, papa selalu menyebut nama mama. Papa selalu memanggil manggil nama mama. Sepertinya papa sangat butuh mama belahan jiwanya yang sudah 20 tahun tidak pernah kembali padanya. Pernah aku berpikir apakah mama telah tiada, hingga dia pergi tanpa kabar dan tak kembali begitu lama. Tapi papa masih saja setia akan cintanya, nama mama masih tersimpan indah di hati dan sanubarinya. Di alam bawah sadarnya papa selalu memanggil mama. Dalam hati ku berdoa, Ya Allah pertemukanlah papa dan mama di surgaMu.

Hari itu, Risa wanita yang menabrak papa datang menjenguk. Kali ini cukup lama ia menunggu di depan ruang ICU. Saat itu ku hampiri dia, “mba jika ingin pulang, pulang saja sudah larut malam”. Tapi Risa menolak, dia ingin menunggu papa malam ini, dan dia bercerita sebulan yang lalu dia baru saja kehilangan orang yang dia sayang juga di Rumah sakit ini.

Ibu nya sakit kena kanker serviks dan meninggal. Risa putri tunggal, ayahnya pergi ketika ibunya sedang mengandungnya. Dan ternyata virus kanker penyebab ibunya sakit terpapar dari ayahnya. Ketika ibunya mengandung usia tiga bulan, ayahnya pergi tanpa pamit. Dan ibunya berjuang sendirian. Dan ketika ia lahir pun ibunya menjaga, merawat dan mencari nafkah untuknya sendiri.

Ayahnya tak bertanggungjawab pada kehidupannya. Aku jadi terharu dan ikut sedih mendengar kisahnya. Lalu dia memberikan foto kenangan di handphone nya saat ia masih kecil dan berkata pada ku, “ini dia ibu saya, cantik dan sangat baik”. Sontak aku terperangah, kaget tak terkira. Foto perempuan itu yang bersama dengan Risa mirip dengan mama. Kuberanikan diri bertanya siapa nama ibunya, dan Risa menjawab, “Amira”. Dia adalah mama ku dan juga ibu Risa.

Tetiba datang seorang dokter dan dua perawat menghampiri kami, “saudara Azzam”, dokter itu memanggil aku. Mohon maaf, papa saudara tidak dapat kami tolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *