Oleh : Putri Pelangi
Dia yang begitu teduh dan terlihat sangat sopan. Aku yang urakan dan begitu ramai dengan rambut terurai panjang sambil memegang gitar tiap kali bernyanyi. Layaknya artis di kantin sekolah.
Aku yang selalu bahagia
Aku yang sudah sangat terkenal sekali di kantin sekolah sebagai pembuat rusuh mampu dibuatnya terbisu dengan kehadirannya di kantin sekolah. Kantin sekolah tak pernah sepi jika ada aku, karena tiap kali aku ada di kantin, ada saja lagu baru yang aku nyanyikan. Dan semua penghuni kantin juga merasa terhibur dengan kehadiran aku. Jadi aku tak pernah merasa ragu untuk sekedar menyanyi dua atau tiga lagu.
Kantin sekolah memang selalu menjadi ramai jika aku mulai bernyanyi, apalagi jika aku menyanyi sambil memainkan gitar kesayanganku. Aku memang bisa dibilang tidak pernah sedih atau galau, aku selalu merasa riang dan gembira, seperti tak pernah punya beban kehidupan. Karena bagi aku, keluh kesah itu hanya bisa disampaikan pada Sang Pemilik keputusan terbaik. Maka buat aku, sedih, tangis dan air mata tak pantas untuk dibagi-bagi. Tapi bahagia dan kesenangan wajib hukumnya berbagi pada kawan.
Pangeran Awan
Namun sejak kehadirannya di sekolah ini, terutama di kantin sekolah, semua merubah gaya keceriaanku. Aku sendiri belum tau dia itu anak baru atau anak pindahan dari sekolah lain yang jelas dia menganggu kebahagiaan aku di kantin sekolah ini.
Sejak kehadirannya di sudut kantin itu mampu membungkam keinginan ku untuk bernyanyi. Dia tidak pernah berkata sedikit pun, Dia pun tak juga mengkritik ku bernyanyi. Tapi tatapan matanya mampu menghentikan aku, membuat ruang gerakku terbatasi. Tatapan mata itu memiliki banyak makna. Aku menerima segala isyaratnya, meski Dia tak pernah memberinya.
Sejak Dia melihat ku bernyanyi dan tak sengaja mata ini bertemu pandang dengannya hatiku bergetar hebat, seakan aku gemetar dan berkeringat dingin. Lalu ruang hatiku ingin menangis, menghiasinya dengan rintik-rintik hujan. Tak pernah aku merasa kan hal ini, aku yang sudah sangat dikenal dengan periang dan tak pernah menggalau, kini galau hanya karena Dia. Dia yang belum pernah aku kenal sebelumnya, hampir sudah melucuti segala urat ceria ku.
Tetiba aku malu dengan segala tingkah laku selama ini, aku malu dengan diri ini yang tak berpakaian layaknya perempuan muslimah. Padahal dulu aku tak pernah memikirkannya, bagi ku asal aku tetap berpakaian sopan dan rapi, itu tetap akan menjaga etika ku sebagai perempuan.
Tapi sejak aku melihatnya mengapa semua seakan menjadi berbeda. Dia tak pernah menasehatiku tentang berpakaian, Dia tak pernah mengomentariku tentang suara saat aku bernyanyi. Hanya saja sejak Dia melihatku menyanyi, tatapan itu memberiku isyarat bahwa apa yang aku lakukan tak baik bagi seorang perempuan yang ingin menjaga izzahnya sebagai perempuan muslimah.
Perang Batin
Setelah hari itu, aku jadi jarang membuat ramai kantin sekolah dengan nyanyian ku, meski seperti biasa seluruh penghuni kantin menyoraki aku dan memintaku bernyanyi, biasanya hanya akan aku katakan pada mereka jika suara aku hari ini sedang serak dan tidak enak.
Relung hati ku kian diburu berbagai pertanyaan yang aku sendiri dibuatnya menjadi bingung, larut dalam segala pertanyaan yang belum terjawab, ku coba melangkah ke ruang ilmu, Perpustakaan Sekolah. Di sana kucari buku-buku sumber ilmu yang bisa aku jadikan refrensi untuk menjawab segala pertanyaan dalam benak ku. Karena di dasar hati terdalam ada yang berkata pada diri ini, “Belajarlah berhijab”.
Lalu aku coba untuk mencari jawabannya. Larut dengan dunia ku yang baru, ku temukan banyak jawaban dari tatapan mata nya. Aku pahami bahwa aku seorang perempuan muslimah, maka aku wajib berhijab. Sejak ku tau kewajiban berhijab itu dengan segala aturan dan hukumnya di dalam buku dan ku coba bertanya pada beberapa kawan yang ku anggap lebih sholehah dan ilmu agamanya baik, maka ku rubah penampilanku, kini aku berhijab dan tak lagi suka menyanyi di kantin sekolah. Karena suara seorang muslimah itu juga aurat, maka tak layak untuk dibagikan pada yang bukan mahram.
Diminta Bersama Selamanya
Sejak saat itu ku rubah semua gaya berpakaianku, dan mencoba sedikit lebih santun sebagai muslimah. Meski aku tetap berusaha ramah pada siapa saja. Hingga akhir sekolah, lulus dengan nilai baik. Aku tak pernah tau namanya, terakhir yang aku tau Dia sangat aktif di Rohis Sekolah. Tapi aku juga tak pernah menjadi anggotanya. Hingga ku lanjutkan studi ku di sebuah Universitas. Tak ku sangka aku melihatnya di lobby Fakultas. Dan aku tersentak, kaget dan takjum. Batin ku bertanya, mengapa ada Dia dimana-mana.
Pertengahan semester, sahabatku menyampaikan pesan dari seseorang. Isi pesan itu “Dapatkah aku silahturahim bertemu orang tua mu dan meminta kamu menjadi pendampingku di dunia hingga ke surga nanti”. Kalimat yang sangat padat dan penuh makna ku terima dalam sepucuk kertas bergambar awan putih. Ku bertanya pada sahabatku, “dari mana pesan ini, siapa pengirimnya?”. Sahabatku hanya menjawab, jika kamu bersedia cukup jawab bersedia, ahad pekan ini dia akan datang ke rumah kamu. Jika tidak bersedia maka akan aku sampaikan padanya. “Apa kamu bersedia?”. Dan dengan mengucap Bismillah aku katakan aku bersedia. Sambil terus berdoa dan bermunajat pada Allah memohon petunjuk baik bagi ku, agamaku, dan keluargaku.
Ahad itu tiba, dan ternyata Dia “Pangeran Awan” bersama kakak laki-lakinya datang ke rumah ku dan berkenalan pada ayah ibu ku, lalu Dia mengutarakan maksud kedatangannya yang disampaikan melalui kakaknya. Dia meminangku.