Hidup adalah sebuah tantangan yang harus di jalani oleh orang-orang hebat banyak penolakan atau kegagalan yang mereka dapatkan. Penolakan bukan berarti kegagalan, bukan berarti tidak ada jalan. Setiap manusia hidup memiliki sudut pandang yang berbeda dari satu dengan yang lain, memiliki pola pikir yang berbeda beda. Mungkin saja mereka tidak bisa melihat apa yang kamu lihat.
Dan selama kamu yakin apa yang kamu lakukan adalah benar, kamu harus ingat bahwa, kesuksesan ada di dalam tangan kamu sendiri dan apabila mereka menolak kamu.
“It’s their loss, not yours,” yang artinya adalah yang rugi adalah mereka bukan kamu.
Ini adalah kisahku, namaku Dara Aulia Putri biasanya teman-teman dan keluargaku memanggil dengan sebutan Dara atau Ara, aku adalah seorang anak perempuan yang bisa dibilang memiliki cukup kekurangan serta berbeda dengan anak perempuan pada umumnya.
Yah, aku memiliki kekurangan sejak lahir bisa dibilang aku tidak bisa berbicara atau tunawicara, tidak seperti orang-orang pada umumnya, dari kecil aku sempat mendapatkan perilaku tidak baik dan selalu menjadi bahan pembullyan.
Ketika usiaku memasuki usia 7 tahun aku hanya bisa melihat teman-teman sebayaku bermain dengan ceria, tertawa satu sama lain Sejak usiaku menginjak umur 12 tahun aku masih mendapatkan sedikit pembullyan dari teman-temanku. Yang selalu mengejekku tidak bisa berbicara setiap hari aku selalu mendapatkan perkataan yang menyakitkan dari mulut mereka.
Dengan terbiasa aku mendengarkan lontaran-lontaran ejekan dari mulut mereka, hingga pada suatu hari aku sempat memilih menyerah. Menurutku dunia terlalu kejam untuk orang-orang yang memiliki kekurangan sepertiku, aku merasa setiap melihat diriku sendiri aku tidak pantas untuk melakukan apa pun, bahkan teman-teman ku selalu menganggap bahwa aku tidak ada di antara mereka.
Sempat pada saat waktu itu aku memilih menghabiskan waktu sendiri hanya untuk menangis, terlontar diisi memori kepalaku hanya ada ejekan dan hinaan dari temen-temenku.
Yang membuat ku sempat menyerah akan kekurangan yang aku miliki. Seiring waktu aku terbiasa sendiri melakukan aktivitasku di sekolah, aku hanya menghabiskan waktu istirahatku di sebuah ruangan besar yang jarang sekali orang-orang mendatanginya. Yaitu Perpustakaan, dengan sekotak bekal roti sandwich yang aku bawa setiap
harinya, bahkan aku lebih senang menghabiskan waktu untuk membaca sebuah buku dari perpustakaan.
Disisi lain aku hanya memiliki sosok seorang ibu yang kuat dan bekerja keras, seorang ibu yang menggantikan ayah yang sudah tiada, karena mengalami kecelakaan saat umurku berusia 9 tahun. setiap waktu ibu selalu memperhatikanku, mengurusku dengan sangat baik hingga aku menjadi perempuan yang kuat pada masa-masa remajaku, yang tidak seindah pada masa remaja orang-orang pada umumnya.
Dari kecil aku memiliki cita-cita menjadi seorang atlet lari, yang aku impikan dari semenjak kecil. Setiap hari libur sekolah aku meluangkan waktuku untuk pergi berlatih lari jarak pendek di sebuah tempat. Berlatih selama 30 menit setiap minggunya.
Ketika aku sudah menginjak SMA aku lebih sering membantu ibu ku untuk membuat kue-kue untuk persediaan di toko kuenya, yang baru berdiri selama 2 tahun, ibuku membangun toko kue saat aku berusia 13 tahun dengan simpanan uang peninggalan ayahku.
Di sekolah ku yang sekarang,aku memilih mengambil kelas IPA yang menurutku bisa aku pahami materi-materi pelajaran nya. Dengan itu aku mendapatkan seorang teman perempuan yang mengajak untuk berkenalan, aku sempat menghindarinya mungkin dia tidak memahami cara bicaraku. Ternyata aku salah ketika kita berkenalan aku kaget dia memahami cara bicaraku, dari situ aku dan dia mulai berteman dengan baik.
Dia bernama Alya atau biasa dipanggil dengan Aya, dia mengerti cara bicaraku karena dia teringat dengan teman kecilnya yang memiliki kekurangan sepertiku, aku dan dia selalu bersama menghabiskan waktu di sekolah.
Seiring dengan waktu ternyata tanpa kuketahui dia adalah teman satu timku ditempat biasa aku latihan lari, aku dan dia selalu bersama berlatih lari bersama-sama hingga akhirnya kami di tawarkan untuk mengikuti lomba lari tingkat kabupaten dari situ kami selalu berlatih bersama agar bisa memasuki babak final selanjutnya.
Tanpa tidak terasa aku dan Aya sudah tiba di mana lomba lari tingkat kabupaten itu akan segera dimulai. Sorak-sorai dari para penonton yang menyaksikan termasuk ibuku yang menyemangati dari tempat duduk para penonton, Suara pistol penanda dimulainya perlombaan.
Latihan keras yang dijalani dara Membuatnya segera unggul melampaui Lawan-lawannya dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 300. Berarti kurang 200meter, untuk mencapai garis finis, kurang sebentar lagi dia akan mencapai babak selanjutnya untuk bisa mengikuti lomba luar provinsi.
Namun tidak ada yang menyangka ketika justru di performa puncaknya, ketika ia sedang memimpin perlombaan tersebut, tiba-tiba ia cedera pada kakinya secara tiba-tiba pada meter ke 450 tersebut, timbul rasa sakit pada kaki sebelah kanan, yang membuat aku tidak bisa berlari cepat hanya bisa melompat-lompat kecil dan terduduk di tanah, menahan rasa sakit pada kakiku dan hanya bisa bertumpu pada kaki sebelah kiri aku pun mulai melambat, pupus sudah harapanku untuk mengikuti seleksi lomba lari selanjutnya.
Tanpa aku sadari ternyata Aya yang di belakangku menyadari itu dan segera menyusul para pelari yang ada di depannya Ia pun membantu dan mengulurkan tangannya untukku dan berkata, “Hayo sedikit lagi Ara pasti kamu bisa menyampai garis finish itu kamu harus semangat supaya bisa memenuhi syarat seleksi lomba selanjutnya,” aku masih memandang garis finish yang tak jauh dari tempat di mana kakiku tergilir yang amat begitu sakit.
Aku pun menerima uluran tangan sahabatku Aya, ia membantuku berlari menyusul para pelari yang tidak jauh di depanku dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan rasa sakit pada kakiku aku dan Aya saling berangkulan, sedikit lagi aku dan Aya akan sampai garis finish tersebut. Aya melepaskan rangkulannya kepadaku agar dapat melewati garis Finish tersebut seorang diri. Lalu Aya memasuki garis finish tempat setelah aku di depannya.
Sepasang mata para penonton teralihkan oleh dua orang perempuan yang saling berpelukan dengan bahagia bisa melewati lomba tersebut, para penonton menyaksikan itu ikut terharu oleh dua orang perempuan itu.
Hal hasil dara bisa memasuki babak final tingkat provinsi dan terus berlanjut hingga tingkat nasional, ia bisa mencapai cita-citanya menjadi atlet lari internasional dengan dukungan ibunya dan sahabatnya terbaik yaitu Alya Repalianza yang selalu bersamanya.
“Jadilah diri sendiri walaupun kamu banyak kekurangan dan raihlah mimpi mu tanpa harus mendengarkan orang-orang yang membuat mu terjatuh dan lemah sebab omongan mereka yang akan membuat mu menjadi orang yang hebat.”
Penulis : Cantika Masayu Putri – SMK Nida El Adabi Parung Panjang
Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email [email protected], untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.
Keren
Keren tingkatkan terus karya nya, jadilah anak muda yang selalu berkarya
Keren
Goodd👍👍
The most your handwriring and my pray bless you
Sangat bagus dan asik di baca untuk kalangan siswa, sangat menarik.
semangat kakak, cerita nya sangat bagus..
The story its so good, i like it. Good luck friend.
Good luck